
Matahari selalu bergerak setiap detik, jam, menit. Waktu terus berjalan. Pandangan Yuri sudah mulai kabur, terlihat bayangan hitam di dalam pandangannya. Dalam bayangan terlihat setetes cahaya. Kehampaan, seperti sebuah akhir dari kisah Artemia Yuri. Yuri tergeletak, di dekat kebun bunga dekat jalan yang tidak jauh dari menara jam. Bunga berwarna merah, menyatu dengan luka yang di alami Yuri akibat pertempurannya. Tergeletak, pandangan kabur, tangannya meraih satu bunga merah yang tak jauh dari tempat Yuri berada. Deru angin, tampak begitu tenang. Harum taman menghilangkan bau darah yang terus keluar dari mulut Yuri.
"Dikatakan bahwa bunga mawar ini, muncul karena seorang dewi yang melihat cintanya mati dengan berlumuran darah di mana-mana yang menyatu dengan air matanya. Sungguh kisah yang memilukan, akankah aku mati di sini. Bersama bunga mawar ini?" batin Yuri berbicara membayangkan kematian di ujung mata.
Sedangkan di lain tempat, Asuna, Arga dan Wuu berlari dan mencari keberadaan Yuri bersama. Hampir semua tempat mereka kunjungi tetapi tidak melihat keberadaan Yuri, mereka semua tidak sadar Yuri sedang tergeletak di dekat taman mawar. Pandangan mereka tidak melihat ke arah tumbuhan mawar.
"Seni Pemanah Pertama Mode Lock"
Asuna mencari keberadaan Yuri dengan mata setajam penglihatan elang, tetapi tetap saja tidak menemukan keberadaan Yuri.
Asuna menghela nafasnya, "Bagaimana Asuna?" tanya Arga. "Tidak, tidak terlihat sama sekali keberadaannya hanya terlihat budak dan iblis saja." pandangan Asuna begitu rendah ke bawah.
Tak lama, hawa kesedihan hampir mendekati. Kecurigaan jika Yuri sudah ditawan oleh iblis muncul.
"Tunggu dulu, aku mencium bau Yuri." ucap Arga mencium bau keberadaannya.
"Namun, baunya mulai hilang." ucap Arga kembali.
Arga mempunyai indra penciuman yang sangat kuat, Arga mampu mengetahui bau seseorang yang ia temui. Dengan itu tak heran lagi Arga dapat mengetahui bau keberadaan Yuri.
***
Hawa keberadaan Yuri lama-lama mulai sedikit demi sedikit menghilang bersama deru angin kencang yang tiba-tiba datang. Mengetahui pencarian Arga, Asuna dan Wuu tidak menghasilkan apa-apa . Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah kayu. Tetapi jiwa mereka tidak ingin menghentikan pencarian, tetapi apa boleh buat. Mereka harus menjaga manusia yang berada di rumah kayu.
Tidak lama, terdengar suara seperti malaikat turun.
Hoooaaaa! Hemmmmmm!
Entah suaranya seperti apa, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, suara yang indah seperti alunan nada tinggi kemudian rendah.
Awan tiba-tiba menutupi cahaya matahari, hanya menyisakan celah sedikit, celah itu membuat Cahayanya tampak seperti mengarah ke mana Yuri berada. Waktu pun, tiba-tiba berhenti. Burung-burung terhenti seperti patung yang melayang di udara.
Bunga mawar yang berada di dekat Yuri tiba-tiba berkumpul di satu titik. Bunga yang berkumpul tersebut hampir terlihat seperti sesosok manusia dan akhirnya, terbuka seperti kuncup bunga yang baru mekar.
Sesosok perempuan berpakaian gaun hijau dengan hiasan daun dan bunga yang berada di pakaiannya. Dengan tongkat berupa tanaman padi yang dibaluti bunga merambat.
Perempuan tersebut langsung menghampiri Yuri yang tergeletak, memberikan cahaya yang terlihat berwarna hijau. Menyerap ke kepala Yuri. Tak lama cahaya itu diberikan kepada Yuri sesosok perempuan itu menghilang dan tumbuhan bunga mawar kembali ke kebun itu bersamaan dengan hilangnya perempuan yang tak diketahui namanya.
Yuri yang tergeletak, kehabisan darah lama kelamaan pulih kembali, seakan-akan luka dalam yang dialami Yuri pulih kembali.
Pandangan yang buram lama kelamaan terlihat jelas, tubuhnya yang lemas lama kelamaan pulih kembali. Yuri kembali bangkit, tampak heran dengan kejadian yang dia alami. Seperti seseorang yang bangun mimpi, akhirnya Yuri berjalan menuju ke rumah kayu.
Dalam perjalanan kembali dalam benaknya Yuri, "Siapa sesosok perempuan yang berada di dalam mimpiku?" batin Yuri bertanya-tanya sepanjang kembalinya ke rumah kayu dengan kondisi seperti orang yang sudah sehat kembali.