Paradox: Dark and Light Warrior

Paradox: Dark and Light Warrior
V4 Suara Keributan



Ketika Arga dan Yuri sedang membahas tentang siapa bayangan hitam yang dilihatnya, samar-samar suara keributan terdengar dan lama kelamaan terdengar keras seperti ada keributan.


Dalam benak Yuri merasakan, "Apa itu iblis, apa mungkin itu bayangan hitam yang Han jumpai tadi." batin Yuri terus memikirkan hal itu di kepalanya.


Teriakan orang memanggil nama kelompok pemburu iblis terdengar, Yuri, Asuna, Wuu dan Arga. Suaranya terdengar seperti seorang pria. Terdengar juga banyaknya langkah kaki menuju lantai dua, tempat Yuri dan lainnya berada.


"Apa mungkin itu mereka?" Arga bersiap-siap bila akan adanya serangan yang muncul.


Tetapi dalam benak Yuri berpikir bahwa itu tidak mungkin iblis yang datang, karena iblis tidak akan mungkin datang ke sini. Mereka hanya fokus dengan perbudakan saja, "Apa mungkin itu kedok mereka, untuk menjebak kami?" Yuri berfikir kembali dengan adanya keanehan saat melawan monster ular dan akhirnya berhasil masuk ke kota.


"Semenjak kami datang ke kota, hanya terlihat perbudakan, tanpa ada yang melihat kami ataupun menyerang kami, apa mungkin. Bukannya para iblis mengincar kekuatanku, mengapa mereka tidak menyerangku dan mengambil jiwa kegelapan yang berada di dalam tubuhku." pikiran Yuri terus-menerus memikirkan kenapa tidak ada iblis yang menyerangnya sedangkan di kota ini, semua iblis selalu berkeliaran.


Kesunyian di dalam kamar membuat indra ketiga Yuri dan lainnya menjadi lebih terlatih, suara jam yang tak jauh berada di samping Asuna terdengar sangat keras.


Tik-Tik-Tok! Tik-Tik-Tok!


Indra ketiga mereka semakin kuat, karena kesunyian yang berada di dalam kamar.


Bunyi jam terus menerus terdengar sangat jelas dan keras, Yuri menggelengkan kepalanya ke samping Asuna sambil mengedipkan matanya seperti mengisyaratkan sesuatu.


Suara langkah kaki yang tadinya keras lama-kelamaan tidak terdengar lagi, seperti sudah berada di depan pintu kamar.


Terlihat gagang pintu yang naik turun seperti akan dibuka oleh seseorang dari luar.


Krieeet ...!


Terdengar suara pintu terbuka, tak lama pintu itu terbuka, tetapi tidak ada siapa-siapa ataupun orang yang masuk ke dalam kamar.


"Tidak ada!" Asuna bergumam melihat tidak ada siapa-siapa yang masuk, hanya pintu yang terbuka.


"Apa mungkin, terbuka sendiri." Arga berfikir, "Mungkin pintu itu sudah rusak." ucap Han sekali lagi.


"Benar, bisa saja tapi ...." perkataan Asuna terhenti seperti memikirkan hal yang mungkin dapat terjadi nanti.


"Tapi apa?" tanya Arga yang ingin tahu kelanjutan pembicaraan Asuna yang dihentikan olehnya.


"Mungkin ini jebakan ... tapi apa mungkin? Dengan kondisi sekarang. Memang ada yang janggal." Asuna memprediksi akan apa yang akan terjadi.


"Jaga-jaga, kita keluar dari sini dan lihat apa yang sedang terjadi di luar sana." Yuri berjalan keluar kamar, melihat kondisi di luar.


Langkah kaki mereka kini hampir berada di luar pintu, langkah kaki terakhir Asuna ketika keluar dari kamar, tiba-tiba lampu yang tadinya mati.


"Tenang." ucap Asuna.


"Tidak ada apa-apa," ucap Asuna kembali.


"Ayok lebih baik kita turun." Yuri mempercepat langkah kakinya.


Suasana gelap dan sunyi ketika Yuri dan lainnya turun dari lantai satu. Tidak terlihat orang di sekitar mereka.


Lampu tiba-tiba hidup kembali, terlihat meja dan kursi tersusun rapih seperti akan adanya jamuan.


Di atas meja terdapat berbagai makanan, terlihat juga Wuu yang tertidur di salah satu bangku.


Perutnya yang buncit, masih terlihat bekas makanan di wajahnya. Menunjukkan dia tidak sabar menunggu Yuri Asuna dan Arga turun.


"Terima kasih. Maaf membuat kalian repot." Yuri membukukan badanya memberikan hormat.


"Sudah-sudah, cepat kalian duduk." ucap perempuan berbaju kuning menyuruh Yuri dan lainnya untuk duduk.


"Kecurigaanku ternyata salah." gumam Asuna.


Suasana mencekam, itu terbayarkan dengan kejutan yang tidak pernah dipikirkan oleh mereka. Orang-orang berpesta ria, seperti menyambut tamu dengan hormat.


Anak kecil terlihat berlari kesana-kemari, mengelilingi meja makan. Wuu yang masih tertidur, akibat kekenyangan.


Benak jail Asuna terlihat jelas, tangannya menghampiri Wuu yang sedang tertidur.


Asuna mengayunkan tangannya dengan keras ke perut Wuu.


Plakkk!


Tak lama suara itu terdengar, Wuu memuntahkan makanan yang ia makan ke atas meja.


Suasana yang tadinya, tampak hangat kini menjadi kacau akibat kejailan Asuna kepada Wuu. Untungnya penduduk yang tinggal di rumah ini hanya tersenyum, "Tolong bersihkan itu Han." ucap seorang kakek tua yang melihat cairan muntah di depannya.


Untungnya, hanya sedikit makanan yang terkena muntahan Wuu, dan itu hanya sisa makanan yang Wuu makan yang belum habis.


"Asuna!" Wuu berteriak sambil menatap tajam ke arah Asuna.


Asuna hanya terdiam, sambil menahan ketawanya.


Yuri, yang melihat keributan yang parah tiba-tiba, menghampiri tempat duduk mereka.


Tanpa disadari oleh mereka berdua Yuri kini berada tempat di tengah-tengah mereka.


"Kalian ini, memang serasi." Yuri merangkul mereka dengan sangat keras, senyuman malu terlihat dari wajahnya.


"Hehe, mana mungkin aku sama panda ini." Asuna berbicara tidak mungkin dia serasi dengan panda gendut.


"Tapi 'kan dia imut." Yuri memperkuat eratanya, yang hampir membuat mereka kehabisan napas.


Penduduk yang melihat hanya tertawa, "Ada-ada aja." ucap Han.


"Namanya juga masa muda Han." ucap Paman Han.


"Benar juga." Kakek tua itu langsung ikut tertawa dengan yang lainnya.


Tawa mereka membuat Yuri Asuna dan Wuu ikut tertawa.


Sedangkan Arga yang melihat mereka hanya bersikap keren dan dingin, " Kalian ada-ada saja, kalian memang payah" Arga berjalan menuju mereka bertiga, kemudian melepaskan pelukan Yuri yang sangat kuat.


Suasana tawa dan kebahagiaan terus menerus terdengar.


"Benar juga, seseorang yang bahagia adalah orang yang membuat kebahagiaan orang lain." ucap Arga dalam hatinya, sambil tersenyum bahagia.


Makan bersama, tawa dan anak kecil yang terus berlari membuat suasana bahagia yang tidak ada nilainya.