Paradox: Dark and Light Warrior

Paradox: Dark and Light Warrior
V3 PROTECT THE WORLD XIV



DUNIA MANUSIA DIKUASAI IBLIS


Para dewa tidak ingin bertindak lebih, karena jika bertindak mungkin akan terjadi perang seperti dulu, yang hampir menghancurkan alam semesta. Karena kini para dewa membuat perjanjian untuk tidak pernah ikut campur lebih dalam perbuatan iblis, kecuali dalam tindakan membunuh manusia dewa boleh ikut campur.


***


"Kenapa kalian menghindari kami?" tanya Yuri kepada salah satu penduduk.


Orang-orang tampak diam, terlihat murung, dan kaku, suasana yang hijau, banyak orang


Namun sepi, akhirnya ada seseorang yang menjawab.


"Kami, takut, jika kamu membawa kami, menjadi budak iblis?" ucap pria yang berada di paling belakang, yang tampak terdiam melihat kebawah.


Saat pria itu mengatakannya semua orang memperhatikannya, dan merasa nyawanya sudah aman.


Setelah selesai mengucapkannya pria itu menghela nafasnya. Kemudian semua orang mencoba melindunginya.


"Jika kau memang benar, budak iblis, lawan kami jika kalian ingin menangkap kami!" ucap seorang pria berkulit hitam dengan jangut yang hampir panjang seperti seorang pengembara.


"Benar jika kau ingin, langkahi mayat kami, karena kami tidak akan mau menjadi budak, meskipun, kami harus mati!" teriak seorang perempuan yang memegang senjata Kampak di tangannya.


Mereka langsung berkumpul untuk melindungi semua orang,


"Tenang, apa kalian ingin kue?" ucap Wuu menjulurkan kue di tangannya.


"Tidak perlu khawatir, kami di sini untuk membantu kalian untuk melawan para iblis." ucap Yuri tersenyum melihat mereka dan mendekatinya.


Yuri berjalan mendekati mereka, saat berada dekat dengan penduduk. Para penduduk bersiap-siap jika akan ada penyerangan.


Yuri menjulurkan tangannya dan memegang salah satu penduduk, sekaligus mengatakan.


"Tidak perlu khawatir, kami para pemburu dan pemusnah iblis, jika kalian tidak percaya maka kami akan membuat kalian percaya." ucap Yuri tersenyum sekali lagi.


Akhirnya mereka percaya, tetapi masih ada perasaan ragu. Karena terlalu lama di hutan mereka mengajak Yuri Asuna dan Wuu untuk pergi ke tempat persembunyian.


Jalan berlumpur, pohon yang lebat, sunyi, tanpa ada binatang sama sekali saat berjalan menuju tempat persembunyian.


Terlihat tanaman menjalar di depan, seseorang mengatakan bahwa di sana tempat persembunyian.


"Di sana, cepat masuk!" ucap pria tersebut.


Terlihat semua orang memasuki tanaman menjalar di depan mereka.


Yuri menunggu di luar, untuk menutup keberadaan tempat ini.


"Seni kegelapan pertama area kegelapan"


"Sekarang tidak akan ada mahluk yang mengetahui tempat ini." ucap Yuri setelah mengeluarkan kekuatanya dan kemudian berjalan masuk kedalam gua.


Saat berada di dalam terlihat sedikit gelap, di depan terlihat cahaya terang. Saat semakin dekat cahaya itu mulai begitu terlihat, Mata Yuri silau karena pengalaman pertamanya melihat cahaya yang memudar saat didekati menjadi terang.


Pandangan Yuri melihat kedepan, struktur gua begitu berbeda. Luas gua, bahkan terdapat rumah-rumah kecil di dalamnya yang terlihat seperti desa kecil di dalam gua.


Pertanian, perkebunan bahkan ada hewan di dalamnya persis seperti kehidupan dalam gua.


"Penduduk yang berada juga lumayan banyak, tak heran menjaga tempat ini." gumam Yuri.


"Yuri, cepat kemari!" teriak Wuu dari kejauhan yang sedang berada tak jauh dengan dirinya berdiri.


"Ya, baik..." ucap Yuri yang singkat dan berdiam sebentar kemudian berlari menemui mereka.


Seorang ketua dari penduduk menghampiri kami, saat dia datang yang ternyata kita pikir dia adalah ketua ternyata ...


"Katakan alasan kalian datang kesini? Apa kalian budak para iblis?"


Seorang pria tersebut tampak dingin, nada pembicaraan yang tinggi dan tegas menunjukkan kewibawaannya.


"Tunggu sebentar tuan, kami di sini, karena di ajak ... Dan sekaligus untuk membantu kalian terbebas dari para iblis, lalu nama tuan siapa Apa tuan adalah kepala desa ini?" jawab Yuri membukukan badanya untuk menghormati dan nada pembicaraan yang halus dan lembut.


"Saya hanya, pengawal kepala suku." ucapnya kemudian seorang anak kecil keluar dari belakang tubuhnya.


"Ini Kepala suku kami." ucapnya sambil memberikan penghormatan kepada Kepala suku.


"Saya heran, di usiaku yang masih kecil sudah menjadi apa." ucap Wuu dalam hatinya, kemudian bengong membayangkan masa kecilnya.


"Apa benar? Tubuhnya kecil, dan dia seperti anak kecil, Apa benar ..." tanya Asuna yang kemudian disela oleh pengawal kepala suku.


"Kau bicara apa, jaga mulutmu! Jangan sampai kalian mendapatkan ..." pekiknya dan kemudian disela oleh kepala suku.


"Sudah, memang benar, tubuhku kecil dan saya masih anak kecil. Tetapi itu bukan halangan," ucap kepala suku yang menunjukan jiwa kepemimpinannya.


"Lalu, siapa namamu?" tanya Yuri.


Kepala suku berbisik sementara dengan pengawalnya.


"Jangan, beri tahu, bisa saja dia ..." bisik pengawal tersebut.


"Sudah, tidak akan, saya mempercayai mereka." bisik Kepala suku.


"Baik tuan," ucap pengawal tersebut tampak patuh dengan perintahnya.


"Panggil namaku Arga." jawabnya.


"Kau pria atau wanita?" tanya Wuu.


"Pria, apa kau bodoh!" teriak Arga.


"Abis tubuhnya keliatan kaya wanita, dan kau imut sekali." ucap Wuu yang terpesona melihat keimutannya.


"Eh ... Apa dia bicarakan." gumamnya.


"Apa, kau tadi bicara apa?" tanya Wuu.


"Benar, sebelum itu bagaimana kalian mendapatkan tempat ini, mencari tempat persembunyian seperti ini sangat sulit." tanya Yuri yang melihat-lihat gua.


"Tentu saja, itu karena kekuatanku," jawabnya.


"Apa, kau membuat tempat ini! Kau seorang penguna kekuatan?" tanya Wuu yang kaget mendengar jawaban Arga.


"Lalu tipemu apa?" tanya Asuna.


"Ngomong-ngomong apa itu tipe?" tanya Hanura yang memegang dagunya seperti orang yang tidak mengetahuinya sama sekali.


"Tipe kekuatan dibagi menjadi, penyerang, pelindung, pembantu, dan penyerang jarak jauh." ucap Yuri yang mendeskripsikan masing-masing tipe dengan sangat jelas.


"Kekuatanku sepertinya hanya mengubah dan mengendalikannya."


"Benar juga, kekuatanmu berarti dalam dua kategori, Arga ." ucap Yuri.


"Lalu, apa tipe kekuatanku?"


"Karena kau bisa mengendalikan benda, maupun yang lainnya, kecuali cahaya, kegelapan, sepertinya kekuatanmu bisa menyerang dan melindungi"


"Wah ternyata ada hal seperti itu."


"Tentu saja, bagaimana jika kau ikut menyelamatkan desamu dan ikut bersamaku menjadi tim pemburu iblis." tanya Yuri kepada Hanura yang ingin Hanura berada di dalam timnya.


"Biar saya pikirkan dahulu," Jawab Hanura yang kemudian pergi jauh.


Sebelum Hanura pergi Yuri memanggilnya, dan akhirnya dia berbalik badan.


"Hanura, negara ini sangat luas, bagaimana jika kau ikut bersamaku? Apa kau tidak ingin dunia ini aman, atau mungkin kau hanya menunggunya hancur?." ucap Yuri saat Hanura membalikan badannya.


"Baik, saya akan membantumu," jawab Hanura yang melambaikan tangannya kemudian pergi menjauh.


TRADISI PENYAMBUTAN TAMU****


Semua penduduk menyiapkan hasil panennya untuk tamu yang datang, mereka percaya bahwa tamu adalah penyelamat sekaligus pembawa rezeki yang harus diperlakukan dengan baik.


Bunyi musim terdengar di dalam gua, suaranya menggema di dalam gua, menjadi harmonis musik yang didengar dari berbagai arah, melodi yang menenangkan tapi dengan ritme yang sederhana, menunjukkan keistimewaan lagu penyambutan tamu.


Makanan terlihat jelas begitu banyak di salah satu meja yang begitu panjang, para penduduk menyiapkan dan saling bekerja sama, menunjukan mereka penduduk istimewa yang saling membantu dan membutuhkan satu sama lain.


Seorang pendogeng menceritakan sebuah kisah awal adanya negara Indonesia ini.


Dalam ceritanya bahwa dahulu kala Indonesia adalah wilayah yang tidak subur, kemudian sesosok Dewi turun dari langit. Membagi kekuatanya demi negri yang tandus ini, Sang Dewi membuat negara ini sangat hijau. Bahkan lebih subur dari negara lainnya.


Dewi itu sekarang selalu menjaga negri ini dalam kondisi apapun, dia menyatukan jiwanya dengan wilayah ini.


Kesuburan, semua berkatnya tetapi, setelah kesuburan datang seorang pria mencoba merusak pulau ini tetapi, sang Dewi terus menyuburkannya kembali.


Seorang pria itu terus melakukannya, di kemudian hari, sang Dewi menemuinya.


Menanyakan " Mengapa kau merusak alam ini?" tanya sang Dewi.


"Saya, hanya melampiaskannya kepada alam." jawabnya.


"Jika alam ingin membalasmu bagaimana?." tanya sang Dewi.


Kemudian pria tersebut berpikir,


"benar juga ngapain saya merusak, dahulu ini tanah yang tandus, mengapa saya ingin menghancurkannya seharusnya menjaganya." ucapnya dalam hati.


Pria tersebut menjaga alam, sang Dewi memperlihatkan dirinya di saat, dia melindugi dan merawat alam.


Sang Dewi berterimakasih kepadanya.


Masyarakat menyebutnya dengan sebutan anak pelindung alam.


Pria itu digambarkan orang yang selalu membantu sang Dewi menyuburkan alam ini.


Sepanjang hidupnya dia selalu melindungi alam ini. Saat kematiannya sang Dewi menghidupkannya kembali menjadi salah satu mahluk pelindung.


Legenda mengatakan di Nusantara ini ada mahluk yang melindungi negara ini.


Mahluk itu bisa berubah wujud menjadi apa pun selalu mengawasi dan melindungi.


Sang Dewi memberikan tugasnya kepada sang pria tersebut untuk membantunya mempertahankan kesuburan di Nusantara.


Karena dia yakin suatu hari akan ada yang merusaknya.


Sang Dewi takut jika kejadian itu tiba alam akan membalasnya dan kekuatanya akan menyerang orang yang merusak.


Masyarakat selalu memperingati hari itu dengan sebutan hari kesuburan. Pawai selalu ada, penghijauan hutan, pelestarian, bernyanyi. Selalu dilakukan di hari kesuburan.


Akhirnya perbuatan sang Dewi dan pria itu membuat negara ini menjadi subur, kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, bahkan lebih.


Masyarakat selalu menjaga pemberian sang Dewi untuk melindungi alam ini.


Meskipun nanti ada yang akan merebut tetapi masyarakat percaya suatu hari sang Dewi akan datang untuk melindunginya


Dan legenda itu dipercaya bahkan dikatakan bahwa sang Dewi masih menjaga negara ini.


Sang Dewi disebut dengan nama


Ibu Nusantara, yang selalu menjaga alam, merawat, dan mempertahankan.


"Nah gimana nak, ceritanya" ucap seorang pendongeng.


"Kakek, lagi, seru ceritanya." ucap seorang anak kecil yang mendengarkan si pendongeng.


"Nanti kakek akan menceritakannya dikemudian hari." ucap pendongeng itu dan kemudian kembali kerumahnya.