
Semua orang di dapur sedari tadi juga melihat semua kejadian itu. Mereka hanya tercengang dan tidak ada yang berkata sepatah katapun. Mereka hanya saling memandang satu sama lain. Setelah dimas naik keatas, dodi berjalan mendekati panda.
“hei,,, tidak usah takut, aku tidak akan memecatmu panda, tenang saja. Oh ya trimakasih ya” ucap burhan kepada panda. “oh ya kalian semua sudah boleh pulang sekarang, trimakasih untuk hari ini” lanjut burhan kepada semua karyawan, kemudian ia pun pergi menyusul dimas.
Apa? Kenapa kak burhan berterimakasih padaku? Akukan melakukan kesalahan besar hari ini, apa ini sebuah ancaman? Matilah aku kalau ini benar benar ancaman. Eh tapi tapi tidak, dia bilang kan tidak akan memecatku, huft amanlah aku.kata panda dalam hati.
“ sudahlah jangan difikirkan lagi. Kak burhan juga sudah memaafkanmu kan. Ayo siap siap pulang” kata dodi sambil menepuk bahu panda.
“ahh,, oh iya di,, kamu duluan aja ya sama yang lain, aku mau mencari cincin chef dimas dulu”, jawab panda dengan memasang muka memelas.
“aku bantuin ya” dodi berniat membantu panda. “aaahh,,, tidak usah di, aku takut nanti kamu jadi ikut kena marah gara gara bantuin aku”. Jawab panda. Duhh kenapa aku menolaknya harusnya tadi aku bilang iya saja biar cincinnya cepat ketemu. Ahh ya sudahlah lagian aku juga takut dodi kena masalah gara gara aku, gumam panda dalam hati.
“hei panda,,, kau dalam masalah besar sekarang”, reno.
“yaaa, jangan ganggu panda, ayo pulang,,” ucap angga sambil menarik reno berjalan keluar.
“hehehe,, kami pulang dulu ya pan,, “ ucap bagas sambil melambaikan tangan kepada panda.
“ya sudah kalau begitu, aku juga pulang dulu ya, jangan pulang terlalu malam” ucap dodi sambil mengusap rambut panda.
Semua orang sudah keluar meninggalkan restaurant, panda pun mulai mencari cincin itu. Hahh dimana sih kamu cincin, kenapa pakai hilang sih, gumam panda sambil mencari cincin itu kesana kemari.
Dilantai atas dimas yang baru saja tiba diruanganya langsung duduk. Haish sial!! Kenpa jadi gini sih, bahkan aku belum bicara tentang perasaanku sedikitpun ke sofi, malah kaya gini kejadianya, gerutu dimas kesal.tapi,,, kenapa sofi sekasar itu ya tadi, jelas anak itu kan tidak sengaja tadi, kenapa dia sampai menampar anak itu? Tanya dimas kepada dirinya sendiri. “haishh..” mendesah kesal.
Tak lama kemudian datanglah burhan, ia langsung duduk disamping dimas. “sudah,, jangan marah lagi. Toh sudah terjadi tidak bisa diulang lagi kan” ucap burhan dengan senyuman diwajahnya.
“sepertinya kau senang sekali melihat acaraku gagal han” kata dimas sambil mendorong tubuh burhan.
“heiii,,, tenang dim, bukanya aku senang, tapi yaaa,,, mau bagaimana lagi sudah terjadi, lagian ingat tidak kemarin kita sudah bahas ini. Atau mungkin memang belum saatnya untuk kamu melamar sofi atau bahkan memang sofi bukan jodohmu, iya kan”, kata burhan sambil meledek dimas.
“kau ini, katanya sahabat bukanya mendukung malah meledek”.. jawab dimas kesal. Tapi apa burhan benar ya, kenapa setiap aku mau mengungkapkan persaanku selalu saja ada halangan. Apa iya kita tidak berjodoh? Kata dimas dalam hati.
“sudahlah, lupakan saja, ayo pulang” ajak burhan sambil berjalan keluar ruangan.
“pulang duluan saja nanti aku menyusul”, jawab dimas.