
"tunggu, kamu pasti rivanda kan?" ucap sofi sinis. "hah,, tampang pas pasan begini mana mungkin dimas serius padamu. asal kamu tahu ya, selama ini dimas hanya menjadikanmu pelampiasan saja, sudah jelas jelas dimas tidak mungkin bisa melupakan aku" ucap sofi berusaha membuat hubungan mereka hancur.
"benar saya rivanda. memang tampang saya pas pasan. tapi asal anda tahu juga saya menyayangi chef simas tulus bukan karena menginginkan sesuatu. oh ya tentang pelampiasan? kalau benar chef dimas tidak bisa melupakan anda, kenapa selama ini dia tidak pernah membahas sesuatu tentang anda, bahkan menyebut nama anda saja tidak pernah" balas panda tak kalah ketus.
"kurang ajar" ucap sofi kemudian plaak.. tamparan cukup keras mendarat di pipi panda. sontak panda langsung memegang pipinya karena merasa kesakitan.
"pantas saja chef dimas berpaling darimu. wajahnya saja cantik tapi hatinya tidak" ucap panda yang sudah geram.
"apa kamu bilang?" sofi mendorong tubuh panda sampai panda mundur beberapa langkah. saat sofi mau memukul panda lagi, tiba tiba burhan menahan tangan sofi. burhan sudah melihat pertengkaran mereka sejak tadi. awalnya burhan mengira mereka hanya akan adu mulut seperti pertengkaran wanita biasanya. saat burhan melihat sofi menampar panda burhan sangat terkejut dan langsung menghampiri mereka berdua.
"hentikan sofi, apa kamu tidak malu dilihat banyak orang?" burhan melepaskan tangan sofi kasar.
"jangan ikut campur han, dia sudah merebut dimas dariku" ucap sofi kesal.
"hah,, hentikan omong kosongmu. bukan dia yang merebut dimas. tapi kamu yang menyia nyiakan dimas. aku sudah tau kamu yang sebenarnya sejak lama. jangan permalukan dirimu sendiri. cepat pergi dari sini" ucap burhan dengan senyum tipis dibibirnya.
karena merasa kalah dan terpojok sofi pun tak mampu menjawab kata kata dari burhan. ia memilih pergi dengan wajah penuh amarah. ia juga tidak memperdulikan berapa banyak mata yang sedang melihatnya. para koki yang sedang sibuk memeasak pun terkejut saat sofi menampar panda. namun apa daya mereka harus menyelesaikan masakanya. untung saja burhan langsung melerai mereka.
"kau tidak apa apa?" tanya burhan kepada panda.
"sudahla.. sana obati wajahmu" burhan menepuk bahu panda pelan.
saat panda hendak mengambil es batu, dodi sudah dulu menghampori panda dan menyodorkan bongkahan es batu yang siap dipakai untuk mengompres wajah panda.
"makasih ya di" panda meraih es itu dan duduk disebuah kursi. kenapa chef dimas tidak turun sih saat kayak gini? apa iya dia tidak serius denganku? panda bertanya dalam batinya. toba tiba lamunanya terbangun saat dodi bertanya padanya.
"perlu bantuan?" tanya dodi karena ia sangat menghawatirkan panda.
"ahh.. tidak usah di.. udah mendingan kok, udah sana kerja lagi. aku baik baik saja kok?" jawab panda dengan wajah tersenyum bermaksud dodi menuruti perintahnya.
dodi pun melanjutkan pekerjaanya dan meninggalkan panda. daritadi sejak sofi keluar dari ruangan dimas, dimas memang tidak keluar ruangan, ia merasa lelah dan memilih berbaring diranjangnya. ia menyalakan musik dan menikmati alunanya. tentu saja ia tidak mendengar ada keributan dibawah.
burhan yang merasa kasihan melihat panda memilih naik kelantai atas menghampiri dimas. burhan pun bingung kenapa dari tadi dimas belum juga turun. sesampainya diruangan dimas burhan menggelengkan kepala melihat dimas yang berbaring dengan santainya.
"keterlaluan kamu dim, dibawah panda sedang kesakitan malah kamu enak enakan tiduran disini" ucap burhan sembari duduk disofa.
dimas terkejut dan langsung duduk dari tidurnya. "kesakitan? kenapa dengan panda?" tanya dimas yang sudah ingin berlari menghampiri panda.