
“S-Saya hanya ingin membalas kebaikan anda,” Anak perempuan itu menjawab dengan terbata-bata.
“Mengikutiku tidak membalas apapun.” Singkat Escal, ucapannya terdengar datar dan dingin.
Anak perempuan itu bergidik terkejut, “B-Bukan begitu! M-Mungkin barang kali A-anda ingin bertanya tentang Kota Viell, s-saya yakin kalau saya memiliki banyak informasi tentang Kota ini walau tidak lengkap.” Ujarnya dengan gugup.
Escal mengangkat satu alisnya dan diam sejenak kemudian berkata, “Ikut aku.” Tanpa menjelaskan apapun, Escal langsung berjalan mendahului.
Anak perempuan itu langsung menurutinya dan berjalan perlahan di belakang Escal, mengekornya. Escal pergi ke sebuah kedai makan, dan duduk di salah satu meja kosong.
Melihat anak perempuan itu yang masih berdiri Escal pun berkata, “Apa yang kau tunggu? Duduk!” Perintahnya.
Anak perempuan itu masih sedikit heran, tetapi menuruti ucapan Escal dan duduk di kursi yang berhadap-hadapan dengannya. Escal mengangkat tangan kanannya, memanggil pelayan dan memesan beberapa hidangan makanan.
Setelah selesai, dia kembali menatap anak perempuan di depannya yang tengah menunduk dan sedang memainkan tangannya dengan ekspresi gugup.
“Siapa namamu?” Escal membuka pembicaraan, tetapi nadanya tetap monoton seperti biasa.
Anak perempuan itu menoleh ke arah Escal, “L-Liliane..” Jawabnya dengan suara kecil.
“Jadi informasi apa yang bisa kau berikan untukku, Liliane?”
“S-Saya akan menjawab hal yang ingin anda t-tanyakan, sebisa saya.” Liliane berkata dengan mantap walau rasa gugupnya belum hilang.
Mendengar jawaban dari Liliane, Escal berpikir sejenak.
“Hanya Kota Viell, huh?” Tanya Escal, Liliane langsung menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“M-Mungkin jika informasi umum, saya masih bisa mengatakannya..” Sambungnya, Escal menyanggah kepalanya dengan malas menggunakan tangan kanan yang di tumpu pada meja.
Jari telunjuk di tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja dengan pelan selama beberapa saat. Setelah memikirkannya, Escal membuka mulutnya untuk berkata sesuatu.
......................
“Aku peringatkan sekali lagi! Kalau kau benar-benar mengikutiku, bersiaplah dengan jalan penuh genangan darah dan perintah mutlak yang tak boleh kau tolak. Paham?”
“Bahkan jika artinya itu, kau harus membunuh seseorang!”
Escal meyakinkan sekali lagi ketika keduanya selesai makan. Liliane mengangguk penuh keyakinan.
Melihat hal tersebut, Escal menghela nafas panjang dan menatap langit-langit kedai makan itu. Entah mengapa, Escal merasa seperti melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Terpaksa memilih satu-satunya jalan, walau tahu jika jalan yang akan di tempuhnya itu berbahaya dan berdarah. Beresiko memang, namun sama sekali tak memiliki pilihan lain. Hampir sama seperti yang Liliane rasakan.
“Sudahlah, ayo pergi dan tunjukkan jalan menuju Biro Informasi Kerajaan yang ada di sini.” Escal beranjak berdiri dan hendak pergi ke meja kasir, Liliane juga beranjak berdiri untuk mengikuti Escal.
Namun sebelum sampai di meja kasir, Escal tiba-tiba menghentikan langkahnya yang membuat Liliane heran. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa ada barang yang tertinggal?
Tiba-tiba saja Escal berkata, “Tidak apa kau mengikutiku, tapi jika suatu saat kau menemukan sesuatu yang lebih baik di perjalanan. Katakan saja padaku, saat itu juga aku akan melepasmu.”
“Tapi sebelum itu, kau harus menjalankan semua perintahku!” Escal berkata tanpa menoleh, kemudian melanjutkan jalannya tanpa menunggu respon Liliane.
Tak melihat jika dibelakangnya Liliane begitu terharu dengan kata-katanya, dan dalam hati dia memantapkan dirinya sendiri untuk terus mengikuti Escal karena menurutnya, dia telah membuat keputusan yang tepat.
Setelah itu keduanya pun pergi menuju Biro Informasi Kerajaan Cabang Viell, setelah Escal membayar makanan dan minuman yang ia pesan.
Dengan arahan Liliane, keduanya pergi menuju Biro Informasi Kerajaan yang adalah sebuah Bangunan besar berlantai dua yang kokoh dan kuat. Orang-orang biasa menyebut tempat ini sebagai BIK agar lebih singkat.
Banyak kesatria yang ditugaskan menjaga tempat itu, dan berpatroli walau tempat tersebut termasuk umum untuk di kunjungi siapapun.
Mereka mengurus persoalan jual beli tanah, rumah, perdagangan milik kerajaan, informasi, saran, misi dari kerajaan dan beberapa hal-hal lain.
Untuk kali ini, Informasi yang ia dapat dari Liliane sudah cukup untuk sementara karena dia juga berniat ingin menimbun kekuatan terlebih dulu agar bisa hidup dengan tenang di Dunia ini.
Oleh karena itu, Escal berniat membeli atau setidaknya menyewa rumah sebelum dia bisa membelinya saat sudah mengumpulkan cukup uang.
Escal tidak memilih penginapan, karena menurutnya tempat itu membuatnya tidak leluasa untuk melakukan sesuatu.
“Tetap dekat denganku,” Escal berjalan memasuki Bangunan Besar berlantai dua itu, sementara Liliane mengikuti dari belakang.
Escal berjalan menuju tempat resepsionis yang kosong, karena di beberapa tempat resepsionis lain sudah di isi oleh orang-orang yang juga sedang mengurus sesuatu.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Seorang resepsionis pria menyambut Escal begitu dia mendekati tempatnya, terlihat nama identitasnya di dada kanan, bernama Nick.
“Aku butuh sebuah rumah sederhana yang di jual, atau paling tidak di sewakan dengan harga kurang dari 50 Koin Emas.” Escal langsung berkata tanpa basa-basi.
...^^^.^^^...