Not A Hero

Not A Hero
Eps. 26 - Rencana B



"BOMMM!" Ledakan hebat terjadi di Daerah Tambang Emerlin.


Tempat itu sudah porak-poranda sekarang. Beruntung orang-orang sudah di evakuasi ke tempat yang aman. Sisanya hanya orang yang kemungkinan mampu berhadapan dengan Max dalam mode gilanya.


Empat komandan, Zhale, Barrey, Pemuda berjubah, seorang Pemanah, dan Escal dalam kondisi yang bisa dikatakan tidak cukup baik. Menderita banyak luka, tetapi masih bisa berdiri.


Walau kondisi Max tidak jauh berbeda, apalagi dengan satu lengan yang sudah terpotong, tidak ada tanda-tanda dia akan tumbang. Bahkan Benteng pun sudah setengah runtuh saat ini.


“GRAHH!"


Max yang seperti Monster mengamuk, meraung dan memukul tanah dengan sangat keras hingga muncul retakan. Bahkan dampaknya sampai menyebabkan Gempa Bumi kecil.


Semua orang terpental, pemanah juga jatuh dari pijakannya di atas menara yang kemudian roboh dan sulit untuk berdiri.


“Sialan, jika terus begini. Pasti tidak akan berakhir baik!” Escal mengedarkan pandangannya sejenak.


Menggertakkan giginya, Escal yang hanya memiliki setengah dari keseluruhan Mana memanggil Spear of Hydra yang naik level menjadi Level Dua dengan ukuran sedikit lebih besar.


Tidak begitu menganggap luka-luka di tubuhnya penting, Escal ikut melesat bersama dengan Mini Hydra yang ia buat. Dia harus menyelesaikan pertarungan dengan segera, sebelum Mananya habis.



Menghadapi dua sosok yang cukup kuat, Max sedikit kesulitan untuk mengimbangi kerja sama antara Escal dan Mini Hydra. Apalagi hanya dengan satu tangan yang tersisa, dia menerima banyak luka.


Namun sepertinya, Teknik Terlarang yang ia gunakan memiliki keunggulan lain walau kendali pikirannya hilang, yaitu bertambah kuat seiring luka yang ia dapat semakin parah.


Mata merah Max yang menyala, berkilat dingin sebelum mencengkeram kaki Mini Hydra dan membantingnya dengan kuat sampai hancur berkeping-keping.


Escal sendiri tak percaya dengan apa yang ia lihat. Mini Hydra dihancurkan dengan mudah, fokusnya yang terpecah membuat Escal hampir terkena pukulan kuat Max.


Beruntung dia memposisikan pedangnya di depan untuk menangkis, walau hal itu membuat Bilah Pedangnya yang masih memiliki cukup banyak Durability menjadi hancur.


“Sial!” Tak sampai di sana, Escal kembali terpukul oleh Max yang tiba-tiba sudah ada di depannya.


Menabrak Benteng yang hancur, menjadi semakin hancur. Escal memuntahkan seteguk darah segar, tulang-tulang dan organ dalamnya benar-benar terluka parah saat ini.


“Grr.. Grrhhh!”


Max yang menggeram, bergerak dengan perlahan ke tempat Escal. Entah kesadarannya masih ada atau tidak, dia seperti merasa percaya jika tidak ada yang bisa mengalahkannya saat ini.


Sekarang dia sudah ada tepat di depan Escal yang sudah tidak memiliki tenaga untuk menghindar, Max mengangkat tangan besarnya yang terselimuti oleh aura jahat.


"Tidak!"


"Berhenti!"


"Escal!"


Teriakkan beberapa orang yang ia kenali terdengar untuk membelanya. Entah kenapa Escal merasa hal itu sedikit lucu, karena dia tidak akan mati disini.


Sebab rencana yang ia buat tidak hanya satu, dan saat ini dia sudah cukup untuk mengulur waktu.


Suara siulan keras tiba-tiba terdengar dari arah Kota, Max melihat ke arah tersebut dengan tatapan seperti terancam seolah mengetahui apa yang datang.


“Menyerahlah, manusia kotor yang bekerja sama dengan iblis!”


Suara yang terdengar mendominasi dan agung, memasuki pendengaran semua orang yang ada di Tambang Emerlin. Seorang Pria tiba-tiba datang dengan jubah putih kebesarannya.


Visualnya tampan seperti Escal dengan rambut pirang panjang bak emas, dan mata biru safir yang indah. Darius Harzt, dia adalah rencana cadangan Escal.


......................


Sebelumnya, ketika membahas tentang rencana penyerbuan. Escal juga membahas rencana cadangan, anggap saja itu sebagai Rencana B jika rencana awal yang adalah Rencana A tidak berjalan sesuai rencana.


Jikalau pun rencana awal berjalan sesuai dengan yang diperkirakan Escal, tidak ada ruginya memanggil bantuan dari Kerajaan untuk mengurus kelanjutan permasalahan ini.


Walau Escal tidak bersyukur atas kegagalan rencana awal, tetapi dia cukup senang dengan rencana kedua karena sepertinya berhasil.


Mengulur waktu dan menunggu sampai bantuan tiba saat pasukan tidak mampu mengalahkan musuh. Poin penting dalam rencana ini adalah, Bala Bantuan yang di kirim pihak kerajaan.


Tentunya hal ini tidak akan terjadi dan berjalan sesuai rencana Escal, jika bukan keempat Komandan sendiri yang setuju untuk meminta bala bantuan dari pihak kerajaan.


Darius Harzt, dia adalah pemimpin dari bala bantuan yang di maksud. High Human Level 5 dengan Job Saint yang memang khusus untuk berhubungan dengan hal-hal yang mengandung kutukan atau kegelapan.


Max yang merasa terancam langsung hendak pergi dari tempat itu, tetapi Darius tentu saja langsung menghentikannya.


“Satu-satunya tempatmu adalah, Neraka! Golden Sacred Chain.”


Darius mengarahkan tangannya pada Max, dan tiba-tiba muncul lingkaran sihir berwarna emas di bawah Max yang seketika membuatnya tidak bisa bergerak.


Enam rantai berwarna emas tiba-tiba muncul dan melilit tubuh Max, dengan ujung runcingnya yang menancap di kedua tangan dan kaki, kepala, lalu jantung.


Darius membuat gerakan tangan seperti menggenggam, dan seketika Rantai melilit lebih kuat, sampai tubuh Max menjadi hancur menjadi beberapa potongan.


Semua orang yang ada di tempatnya takjub dan juga ngeri dengan pemandangan tadi.


“Terima kasih atas kerja keras kalian, Dewa pasti senang dengan perjuangan kalian melawan musuh dunia.”


Orang-orang yang terluka diliputi oleh butiran cahaya kecil yang perlahan-lahan menyembuhkan luka mereka. Tak terkecuali Escal. Itu adalah Skill yang umumnya dimiliki para Saint, yaitu Heal.


Beberapa saat setelah itu, pasukan kesatria kerajaan datang menyusul dan membantu sisanya.


Darius juga mewakili pasukannya karena datang terlambat sebab Teleport Scroll yang ada kurang, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk menambah persediaan.


“Tidak apa, kami bersyukur anda telah datang Saint Darius.”


Memiliki senyum lembut di bibirnya, Darius mengangguk. Tetapi ekspresi menjadi cukup serius secara tiba-tiba.


“Menurut permintaan kalian yang ada di surat, kalian juga mengatakan jika kemungkinan Pangeran Ketiga juga terlibat. Katakan padaku, apa maksudnya?”


.......