
Saat ini semua orang yang berkonstribusi besar dalam penyerbuan Benteng, di undang langsung oleh Viscount Salmo ke Kediamannya untuk membicarakan masalah yang terjadi.
Sebelumnya ketika Viscount Salmo baru tiba di kediaman. Istri, anak, pelayan serta penjaga yang mengabdikan diri pada Keluarga Salmo langsung menyambut kepulangan tuan mereka yang sangat dirindukan.
Mereka adalah orang-orang yang percaya jika Viscount Salmo tidak mungkin melakukan hal tersebut. Dia terkenal baik, dan semua orang yang ada dikediamannya tahu jika Viscount Salmo tidak pernah tergila-gila oleh pangkat.
Hidup harmonis bersama keluarganya dan mengelola sebuah wilayah, Viscount Salmo sering bersyukur atas hidupnya.
“Tolong siapkan teh dan makanan ringan.” Aldean memerintahkan kepala pelayan yang ada di sampingnya.
Segera kepala pelayan itu pergi untuk menjalankan perintah Aldean, selaku Kepala Keluarga Salmo. Di dalam ruangan itu, semua orang duduk cukup teratur mengelilingi sebuah meja oval dengan sisi ujung diisi oleh Aldean dan Loyd.
Selain mereka ada tiga komandan lain, Darius, Escal, Zhale, Barrey, Pemanah sebelumnya yang bernama Grey, dan Pemuda berjubah yang bernama Heizen.
“Mohon Viscount Salmo untuk mengatakannya segera, agar Kasus ini cepat diproses jika pihak kerajaan benar-benar terlibat.”
Darius yang pertama kali membuka suara. Tidak ada kata desakan, dia tenang tetapi kata-katanya memang terdengar masuk akal.
Aldean mengangguk, “Ini bermula dari satu bulan lalu. Sebenarnya saya pernah menangkap gerak-gerik mencurigakan dari Pangeran Aemon ketika berada di Ibukota untuk membahas masalah pasokan sumber daya dengan Guild Perdagangan Pusat..”
Ketika itu, Aldean yang sedang berjalan pergi menuju Guild Perdagangan Pusat tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria dengan penampilan tertutup. Tentunya dia langsung minta maaf, tetapi pria itu mengacuhkannya dan berjalan pergi.
Ketika itu, Aldean tidak menemui keanehan apapun. Sebelum pandangannya menangkap sebuah Emblem Token dengan ukiran Singa dengan Mahkota. Tentu saja Aldean langsung mengetahuinya, Lambang Kerajaan Earthvill.
Dengan pikiran positif untuk sesaat, Aldean mengambil Emblem itu. Berniat untuk mengembalikannya, dia mencari keberadaan pria yang tadi bertabrakan dengannya.
“Sial! Kemana Emblem Token ku!” Suara umpatan terdengar dari dalam Gang gelap yang hendak Aldean lewati.
“Tidak masalah, aku percaya kau utusan yang dimaksud Tuan Gerald.”
Suara yang cukup familiar memasuki telinga Aldean. Membuat dia yang awalnya hendak maju, segera bersembunyi. Untungnya di antara kedua orang itu, tidak memiliki Skill Pendeteksi sehingga posisi Aldean aman untuk sejenak.
Pandangannya tidak melihat terlalu jelas karena pencahayaan yang kurang.
“Langsung saja, katakan Perintah dari Tuan Gerald dan kapan bantuan Kerajaan Earthvill datang untuk menaklukkan Kerajaan ini?”
Mendengar hal itu, Aldean tidak bisa untuk tidak terkejut dalam persembunyiannya, dan hal yang semakin membuatnya semakin tidak percaya adalah lawan bicara dari utusan Kerajaan Earthvill.
Matanya yang mulai beradaptasi dengan kegelapan, menemukan sosok pria tampan berambut hitam dengan mata heterochromia. Mata hitam disebelah kanan, dan merah di bagian kiri.
Penampilan yang cukup mencolok, siapapun tidak akan pernah melupakannya jika orang itu datang ke Istana dan bertemu Anggota Kerajaan.
Pangeran Ketiga, Aemon Alven Aireest yang memiliki rumor cukup buruk antar anggota Keluarganya.
Anak haram berdarah campuran, ayah yang tidak menyayanginya, selalu dibanding-bandingkan dengan Pangeran Pertama yang juga Pangeran Mahkota.
Namun selama ini, dia juga tidak menunjukan keminatan atas Tahta dan bersikap biasa-biasa saja atas Raja yang terlihat tidak mempedulikannya. Beberapa anggota keluarganya juga masih ramah padanya.
Tentu hal itu sungguh mengejutkan, ketika Aldean menemukan jika Aemon bekerja sama dengan Kerajaan Earthvill untuk menaklukkan Kerajaan Aireest.
Tak sengaja karena mentalnya terguncang, Aldean melepaskan Emblem Token di tangannya.
"Trank!"
Suara benda logam jatuh langsung menarik perhatian Aemon dan Utusan Kerajaan Earthvill.
“Siapa di sana?!”
Saat keduanya keluar Gang untuk mengecek, hanya ada sebuah Emblem Token Kerajaan Earthvill yang jatuh di tanah, sementara Aldean berhasil melarikan diri tanpa diketahui identitasnya.
Ketika Aldean mulai akan bertindak dan mengirimkan sebuah surat. Malam hari sosok dengan wajah tertutup kain datang, Utusan yang dikirim untuk mengurus siapapun yang mengetahui rencana antara Pangeran Ketiga dan Kerajaan Earthvill.
“Begitulah, awal dari jebakan yang menimpa saya sebagai kambing hitam yang bekerja sama dengan Kerajaan Earthvill.”
Aldean menatap semua yang hadir, “Karena itu, saya benar-benar berterima kasih kepada kalian yang telah berjuang. Tentu saja, saya akan memberikan hadiah secara pribadi..”
“..Dan juga, mohon untuk yang tidak memiliki Hubungan dengan Kerajaan untuk pindah ke tempat lain terlebih dahulu. Maaf atas ketidaksopanan saya. Seth, tolong antar mereka.”
Aldean memerintahkan seorang pelayan untuk memandu. Escal yang pertama kali beranjak berdiri, diikuti Zhale dan yang lainnya.
Kurang lebih dirinya tahu, sepenting apa informasi yang akan dibahas karena kemungkinan besar, Aldean mengetahui rencana selanjutnya dari pihak musuh sebab ditahan untuk beberapa waktu.
Ketika itu, sebuah layar pemberitahuan muncul depan semua Warrior pada saat yang bersamaan.
..._____...
...[Sub Misi: Find the Traitor Selesai!]...
...---...
Bagi orang-orang yang tidak berkonstribusi dalam penyerbuan, hanya notifikasi seperti itu yang akan mereka dapatkan sementara yang memiliki kontribusi kecil akan berbeda lagi.
Hadiah yang diberikan akan dihitung dari seberapa banyak mereka berkonstribusi dalam Misi.
Dan yang melakukan kontribusi besar serta mendominasi Misi, akan mendapatkan semua hadiah.
..._____...
...[Sub Misi: Find the Traitor Selesai!]...
...Peran Aktif: Escaleon dan Azhalea Carolline...
...[Hadiah di berikan!]...
...---...
Melihat semua hadiah yang masuk ke dalam Penyimpanan mereka berdua, Escal dan Zhale diam-diam tersenyum puas tanpa melihat langsung.
"BRAK!"
Pemuda berjubah sebelumnya yang sekarang diketahui sebagai Heizen, menggebrak meja dengan keras. Langsung saja pandangan semua orang teralih padanya yang memiliki ekspresi marah.
“Apa-apaan! Aku yang sudah sampai di dalam dan bahkan masuk Sel Tahanan dengan Anti Skill tidak termasuk dalam peran Aktif?”
Heizen terlihat marah karena hadiah yang dia dapat terasa kurang. Auranya yang mengerikan seperti menekan tempat itu, beberapa orang bahkan merasa sedikit sesak.
Hal itu karena, dia adalah salau satu orang yang berevolusi setelah melawan Max ketika memakai Teknik Terlarang.
“Bodoh.” Suara dingin seseorang tiba-tiba terdengar, dan ketika itu aura Heizen di angkat oleh aura orang lain.
“Apa?!” Menatap ke arah orang yang mengatainya bodoh, dia semakin marah.
Escal dengan tenang, duduk sambil menyesap teh yang baru saja dibawakan pelayan. Dia membuka mata dan menatap Heizen dengan tenang.
“Kenapa? Apa aku salah?” tanyanya tanpa sedikitpun rasa takut.
.......