
“Tidak sepenuhnya salah. Tetapi saya tetap tidak memperbolehkan anda mengganggu keberlangsungan rapat. Anda tidak keberatan menunggu?” Nick tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang terbuka, mengarah pada letak kursi yang berderet di dinding.
Escal menangkap isyarat tersebut dan mengangguk ringan, “Tentu.”
Escal kemudian berjalan pergi ke arah kursi kosong, kemudian menyilangkan tangannya dan mendongakkan kepalanya, mengarah pada langit-langit BIK dengan mata terpejam.
Tiba-tiba sebuah informasi sistem muncul dalam benaknya, dan Escal masih bersikap tenang melihat Notifikasi itu.
..._____...
...Ada Rebellion Star lain yang berjalan ke arah Anda!...
Sesaat setelah bunyi pemberitahuan sistem, terdengar langkah seseorang yang perlahan berjalan mendekatinya.
“Permisi, apa saya boleh duduk di sebelah anda?”
Suara lembut seperti wanita memasuki pendengaran Escal. Tahu pertanyaan itu ditujukan untuknya, Escal membuka sedikit matanya dan melihat sosok wanita itu.
“Tentu, ini properti publik.”
Setelah mengatakannya, Escal kembali memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya seperti tadi. Dia tak menyadari jika wanita di depannya itu cukup terkejut dengan respon dingin Escal.
“Kurasa para Rebellion Star memiliki sifat yang berbeda dari yang lainnya, pria tampan yang dingin. Menarik,”
Diam-diam wanita itu tersenyum licik tanpa ada yang mengetahuinya, karena senyuman itu yang begitu singkat dan kembali di rubah menjadi senyuman ramah.
“Kalau begitu, aku tidak akan sungkan.”
Wanita itu duduk di samping Escal, dan sesekali mencuri pandang ke arahnya karena visual Escal yang memang begitu sempurna.
Kulit putih bersih, rambut hitam dengan potongan keren, alis tebal dengan rahang yang kokoh memberikan kesan tegas, dan warna matanya begitu unik saat menatap Wanita tersebut. Abu-abu kekuningan yang mendominasi.
Di lihat juga otot di tubuhnya cukup menonjol, benar-benar idaman para perempuan.
Tetapi di saat wanita itu duduk di sebelah Escal, sebenarnya ada banyak orang yang menatap mereka berdua, lebih tepatnya wanita itu.
Wajahnya yang begitu cantik seperti lukisan dengan senyuman ramah yang membuat siapapun meleleh. Rambut sepunggung yang digerai bebas dan mata yang berwarna coklat muda, bulu mata lentik, kulit putih bersih, dan bibir merah menggoda.
Tubuhnya juga sangat proporsional dan menjadi idaman para pria.
Siapapun akan jatuh hati kepadanya. Tentu saja kecuali pria dingin yang juga memiliki visual sempurna di sampingnya.
“Sial, di lihat dari manapun dia memang pria yang sempurna!”
Batin wanita tersebut saat melihat wajah Escal dengan seksama.
“Tenang Azhalea Carolline. Ingat, tidak ada pria yang tidak bisa kau taklukkan!”
Banyak pria mau melindunginya, sekaligus bertekuk lutut padanya. Azhalea yang biasa di panggil Zhale itu, memanfaatkan para pria yang tergila-gila padanya untuk berkorban.
Padahal jika dia menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya, para pria itu bukanlah apa-apa dibandingkan dirinya. Sekarang saja dia sudah menjadi Human Level 12 yang bisa dibilang merupakan jenius.
Untuk Warrior saat ini, rata-rata level mereka kisaran Delapan sampai sepuluh dan yang mengambil resiko juga jenius, mampu mencapai Level yang lebih tinggi sampai Level Tiga Belas.
Juga yang melampaui, melebihi para jenius. Namun, belum ada yang mencapai Level High Human di antara para Rebellion Star dan Warrior.
“Bisakah kita berkenalan?”
Zhale sedikit memiringkan tubuhnya untuk menghadap Escal yang masih acuh tak acuh. Sesaat kemudian, dia membuka matanya dengan perlahan dan menatap Zhale cukup dalam.
Sedikit membuat Zhale gugup untuk pertama kali ketika berhadapan dengan pria.
“Maaf jika membuatmu tersinggung, aku-!”
“Katakan saja apa mau mu, tak perlu berbasa-basi.”
Escal langsung memotong ucapan wanita tersebut, dan kembali pada posisi duduknya beberapa saat yang lalu.
“Ah, sekarang aku sudah tahu..”
Senyuman di wajah Zhale berubah selama sesaat, kemudian ia juga memperbaiki duduknya menjadi lebih elegan. Auranya juga terasa lebih mendominasi dari sesaat yang lalu.
“Kurasa aku tahu kau tipe orang seperti apa. Baiklah, ku ulangi lagi.” Zhale mengulurkan tangannya pada Escal untuk berjabat tangan.
“Namaku Azhalea Carolline, Zhale. Kau bisa memanggilku begitu,”
Menatap tangan Zhale sebentar, Escal menerima uluran tangan itu sambil mendengus pelan.
“Escal.” Singkatnya tanpa basa-basi, dan kembali menarik tangannya.
“Kau belum menjawabnya, apa mau mu?”
Escal berbicara tanpa memandang Zhale, menatap lurus dengan tangan yang kembali disilangkan. Zhale tertawa kecil tiba-tiba, Escal tak mempedulikannya sama sekali.
“Ha.. kau ini benar-benar tipe dingin yang tak suka berbasa-basi, apalagi mempedulikan wanita ya. Tapi aku cukup suka tipe seperti itu, menarik..”
Zhale menatap Escal dengan senyuman menggoda, “Aku ingin menawarimu sebuah kerja sama, Rebellion Star Escal.”
.......
Jan lupa like komen vote jika menyukai cerita ini, Arigathank's^_^