Not A Hero

Not A Hero
Eps. 01 - Prolog



“Setelah menyerah dengan hidup, justru kehidupan memberikan kesempatan baru untuk kembali..


..Mempermainkan garis takdir seseorang. Apakah menjadi lebih baik, di dunia baru?..


..Kurasa tidak, sama sekali. Tak ada bedanya, kali inipun sama saja. Justru..


..Menjadi lebih Kejam?”


^^^- Escaleon^^^


.........


Seorang laki-laki membuka matanya perlahan dengan tenang, menatap layar hologram bagai tengah memainkan Game VR di depannya, dia tampak tak peduli.


..._____...


...[First Mission]...


......«Winners Survive»......


...Semua Warrior di harapkan untuk bertahan hidup di hutan selama Tiga hari, sebelum melanjutkan ke misi selanjutnya....


...Reward: Job Character...


...Waktu: 72 Jam [3 Hari]...


...-----...


Dengan pikirannya dia membayangkan layar tersebut hilang, dan langsung saja hal itu benar-benar terjadi. Helaan nafas keluar dari mulutnya, dia menatap ke arah ufuk timur dari atas dahan pohon yang dia duduki saat ini.


Terlihat fajar mulai timbul, membawa sinar dan kehangatan pagi hari.


Laki-laki itu, Escal. Mulai berpikir semua hal yang ia alami adalah kenyataan, setelah menganggapnya omong kosong beberapa waktu lalu ketika dia baru tiba di sini.


Karena dia tahu, hidup pertamanya yang mengenaskan itu berakhir ketika dia membuat keputusan untuk benar-benar mengakhirinya dan terbebas.


Namun, apa yang dia dapat? Bukannya kebebasan, dia justru mendapat hidup kedua bagai Karakter yang harus mematuhi sistem. Semakin terkekang!


...“Apa aku harus bunuh diri lagi?”...


Pikir Escal yang menatap ke arah bawah pohon yang menurutnya tidak terlalu tinggi.


Escal menghela nafas kasar, dia melompat turun dari atas dahan, dan membuka Peta yang di berikan sistem.


“Dunia ini bernama Vixcell, dan saat ini aku berada di Hutan terbesar di Kerajaan Aireest, Benua Barat. Hutan Brownhood!”


“Bertahan hidup selama tiga Hari katanya? Heh, aku bukan anak baik yang menuruti kemauan orang lain. Jika harus mati, toh aku pernah merasakannya..”


Escal mulai melangkahkan kakinya dengan santai menuju arah Barat, dimana dari kejauhan dia mendengar suara sungai yang mengalir cukup deras.


Mengingat Peta yang tadi ia lihat, kemungkinan itu adalah Sungai Aquart yang mengalir mengelilingi Kerajaan dan tak jauh dari sana, ada sebuah desa kecil. Escal tersenyum tipis untuk alasan yang tidak dia ketahui.


Escal, dia memiliki pemikiran menentang karena sejak awal dia hanya hidup dan bertahan sendiri. Dia adalah Serigala Buas tanpa kawanan, juga bukan seorang pemimpin.


Baginya, hidup sudah tidak memiliki aturan untuknya dan mengekangnya hanya akan membuat dia semakin memberontak. Tentu saja, sama seperti di kehidupan kali ini dia ingin bebas.


Jika kematian yang ia nantikan tidak memberikan kebebasan, maka dia sendiri yang akan membuat kebebasan itu!


Saat sistem menyuruhnya untuk bertahan tiga hari di hutan, Escal berpikir untuk segera keluar dari sana. Dia tidak peduli walau harus mati, sebab dia pernah merasakannya.


Karena itulah dia berjalan mendekat ke arah sungai, dan begitu tiba di tempat, Escal berdiri di tepi sungai dengan tenang.


Matanya terpejam sebentar, merasakan udara yang berhembus dan gemericik air yang mengalir deras. Escal mengatur nafasnya, kemudian ia membuka matanya perlahan dan di saat itu, uap dingin dia hembuskan dari mulutnya.


Escal mengangkat kaki kanannya untuk melangkah. Ketika kakinya menyentuh air sungai, dia tak jatuh ataupun terperosok ke dalam. Justru Escal berpijak, di atas air yang beku menjadi es dan keras.


Kaki kiri juga dia langkahkan. Sama seperti tadi, pijakannya pada air sungai membeku menjadi Es yang kuat dan kokoh untuk menopangnya.


Escal terus melangkah kakinya, hingga benar-benar sampai di sisi lain Sungai yang lebarnya lebih dari Tujuh Meter itu. Es yang menjadi pijakannya pun hilang, kembali menjadi zat cair.


Dia terus berjalan menuruti nalurinya, dan benar saja dia menemukan jalan setapak yang mengarahkan ke desa.


Sesaat setelah melanjutkan jalannya, muncul sebuah layar hologram kebiruan ketika dia sudah hampir mendekati Desa.


..._____...


...[Warrior Escaleon hampir keluar dari batas Map!]...


...[Di Harap untuk segera kembali ke Hutan!]...


...-----...


Escal menatap layar hologram itu sesaat, kemudian kembali melangkahkan kakinya seraya mengatakan sesuatu.


“Entah apapun kau, hidupku adalah pilihanku sendiri dan kau tak berhak mengaturnya. Walau aku mati, berarti itu adalah pilihanku.”


.......