Not A Hero

Not A Hero
Eps. 15 - Kerikil



Satu Minggu berlalu sejak Loyd mulai mengajari Escal tentang teknik Berpedang, dan menjadi gurunya saat pagi sampai waktu makan siang.


Berkat pemahamannya yang tinggi dan juga bisa dibilang jenius, sekarang Job-nya naik menjadi Knight. Sebuah Job yang tingkatannya lebih tinggi dari Swordsman, setingkat di bawah Sword Master.


Dia juga telah menjadi Human Level 15 yang adalah puncak dari manusia rendah, sebelum menjadi High Human dan terakhir adalah Demi God.


“Hari ini sampai di sini dulu. Tapi, kau benar-benar jenius Escal! Bakat langka, hahaha!”


Loyd tak lagi berbicara formal pada Escal yang sekarang berstatus sebagai muridnya. Tetapi dia benar-benar kagum dengan perkembangan Escal yang begitu pesat.


Benar-benar mudah di ajari, dan bisa langsung mempraktekkan gerakan yang baru pertama kali dia lihat.


Escal sedikit membungkuk untuk menghormati pengajaran Loyd.


“Anda terlalu berlebihan, Guru.”


Ekspresi dan nadanya sama sekali tidak berubah, tetapi Escal lebih sopan dan hormat karena Loyd yang mau mengajarinya.


Sejak dulu dia memang seperti itu. Bukan orang yang memiliki status tinggi dan orang tua yang ia hormati. Tetapi orang yang memberinya pelajaran berharga, dan mau menghormati orang lain, maka Escal juga akan hormat kepada dirinya.


Prinsip Escal pun demikian, memperlakukan orang lain sebagaimana dia diperlakukan.


Hanya saja jika perlakuan itu buruk, dia akan menjadi lebih buruk karena balas dendam seharusnya lebih kejam.


“Kalau begitu aku akan kembali dulu! Ada investigasi yang harus aku lakukan.” Loyd melambaikan tangannya sambil berjalan pergi.


Escal pun tak memiliki keinginan untuk menahannya, dia hanya menunduk dan mengangguk sebagai tanggapan walau Loyd tidak melihatnya.


Layar sistem yang menampilkan statusnya muncul tiba-tiba di depan Escal, karena dia memang berniat untuk mengeceknya.


..._____...


Nama: Escaleon [Escal] » Human Lv. 15


Usia: 23 Tahun


Job: Swordsman↑Knight


Gelar: Rebellion Star, Young Genius


Mana: 15.000 / 15.000


Pekerjaan Sebelumnya: Pembunuh Bayaran


Skill:


- Eternal Ice Control » Level 10


Kemampuan untuk mengendalikan Elemen Es Abadi.


Mana: Sebanyak Es yang di buat


Cooldown: -


» Ice Burst Lv. 7


Pengguna dapat menembakkan Es Abadi yang kuat.


Mana: 30 Poin


Cooldown: -


» Spear of Hydra Lv. 1


Pengguna dapat membuat Mini Hydra Es selama satu menit untuk digunakan sebagai penyerang.


Mana: 2550 Poin


Cooldown: -


[Skill Lain Masih Terkunci]


- Speed Up » Level 10


Mempercepat gerakan. Bisa di tingkatkan sampai penggunaan bergerak secepat cahaya.


Mana: Selama penggunaan mengaktifkan Skill


Cooldown: Berlaku saat kehabisan Mana [Mana Pulih]


Swordsman↑ Knight Skill:


- Slash [Lv. 10 Puncak] » Melakukan tebasan umum


- Strong Slash [Lv. 10 Puncak] » Menebas dengan kekuatan lebih


- Rough Breathing [Lv. 5] » Pengguna mengontrol pernafasan dengan cepat dan memicu kekuatan tubuh secara ekstra dalam waktu satu menit.


Efek: Kelelahan setelah Pemakaian


Mana: 250 Poin


Cooldown: 3 Menit


- Dance of the Steel Blades [78%]


Seni Bela diri pedang yang di ajarkan Loyd. Membuat pertahanan dan kekuatan meningkatkan tiga kali lipat dan sulit di tangkis musuh!


Efek: Tergantung pemahaman dan keahlian pengguna!


- Mana Focus [85%]


Memfokuskan mana tidak teratur yang ada di dalamnya tubuh, dan mengeluarkannya menjadi hal yang diinginkan!


Mana: Menyesuaikan!


[Skill Lain Masih Terkunci]


- Asmodeus - Charging » Terkunci


- Hell Fire Control » Terkunci


- . . .


...-----...


“Akan lebih sulit menaikkan level setelah ini. Tapi ku pikir, ini sudah cukup bagus untuk orang yang baru kemari kurang dari dua minggu.”


Escal menutup layar sistem di depannya, setelah merasa tidak ada yang bisa dia lakukan.


Jika saja ada orang yang mendengar ucapannya yang seperti kurang bersyukur itu, pasti orang itu akan muntah darah karena marah. Menjadi Human Level 15 hanya dalam kurun waktu kurang dari dua Minggu. Itu bukan hanya jenius lagi, tetapi sudah seperti Monster.


Dia bahkan memiliki kapasitas mana besar dan dapat melawan musuh yang kira-kira memiliki perbedaan lebih 2 Level di atasnya.


Namun kemungkinan perkembangannya tidak akan secepat sebelumnya, karena mulai dari Evolusi High Human akan memakan lebih banyak waktu juga kesulitan.


Kecuali dia benar-benar terus memaksakan batasnya dan melawan musuh yang benar-benar kuat, perkembangan Escal akan melambat.


Menoleh ke arah Liliane yang tengah mengayunkan pedang kayu sampai berkeringat deras, Escal menyarungkan pedang yang sejak tadi ia bawa lalu memungut sebuah batu.


Lebih tepatnya kerikil yang cukup besar, dan mengangkatnya sedikit tinggi.


"Wush!"


Tanpa aba-aba apapun, Escal melemparkan kerikil itu dengan menggunakan seperempat kekuatannya ke arah Liliane.


"Hah!"


Entah dengan keberuntungan atau insting tajam, Liliane berhasil menangkis lemparan kerikil dengan kekuatan cukup besar itu meski sedikit terdorong mundur dengan bilah pedang kayunya seperti berlubang dangkal.


Escal mengangkat satu alisnya. Terkadang dia memang melakukan hal ini, tentu saja secara tiba-tiba untuk memberikan serangan kejutan.


Bukan bermaksud untuk sengaja melukai Liliane, tetapi Escal hanya ingin melatih insting dan kewaspadaannya agar tidak lengah di manapun.


Bisa dibilang ini adalah kedelapan belas kalinya, setelah beberapa lemparan sebelumnya yang tidak dapat di tangkis sehingga terkadang Liliane terluka. Lecet, ataupun memar.


Untungnya Escal bukan orang yang begitu tidak berperasaan, menyiksa 'bawahan' atau pengikutnya sendiri.


Escal pasti akan mengobatinya, atau memberikan Health Potion kualitas rendah untuk mempercepat pemulihan sehingga hanya butuh waktu beberapa jam luka tersebut sudah hilang tanpa bekas.


Akibat mengubah arah Pedang yang di ayunkan dengan kuat, Liliane merasa tangannya sedikit nyeri. Apalagi ketika menangkis sebuah kerikil yang hanya sebesar kelereng itu.


“Kau melakukannya dengan baik, Liliane.”


Escal memuji dengan tulus, berjalan mendekati tempat Liliane yang menurunkan pedangnya.


“Terima kasih, Tuan!”


Liliane nampak bersemangat ketika mendengar Escal memujinya, itu menjadi lebih baik ketika Escal membelai kepalanya dengan lembut.


Walau sederhana, menurut Liliane itu adalah hadiah terbaik yang bisa ia dapatkan di sisi Escal. Benar-benar pemikiran sederhana seorang anak kecil.


“Andai aku bisa melihat statusnya. Sangat di sayangkan aku tidak memiliki Skill Appraisal.”


Escal tanpa sadar menghela nafas, membuat Liliane sedikit memiringkan kepalanya karena heran.


“Apa ada sesuatu, Tuan?”


.......


Jika pembaca suka cerita ini, mohon beri dukungan like, komen, vote untuk mendukung author.


Happy Reading!


^^^- Xiao Ko^^^