Not A Hero

Not A Hero
Eps. 17 - Rencana Pemberontakan



"Kieeek!"


Goblin terakhir mengerang kesakitan sebelum meregang nyawa ketika bilah belati Liliane menembus tengkorak kepalanya.


“Fuhh.. fuu..”


Nafas Liliane naik turun dengan cepat, kakinya tiba-tiba lemas dan terduduk dengan banyak bagian tubuhnya penuh bercak darah hijau juga memegang sebuah belati yang berlumuran darah.


Tujuh mayat goblin biasa berserakan disekitarnya. Akhirnya setelah pertarungan yang seperti ajang hidup dan mati, Liliane bisa beristirahat.


Walau menderita luka cukup parah yang sejak tadi ia paksakan, Liliane masih bisa mempertahankan nyawanya sebab Escal tak mengambil langkah apapun saat Liliane berhadapan dengan Goblin-goblin itu.


Sosok Escal melompat dari atas dahan pohon, mendarat dengan lembut tidak jauh dari tempat Liliane. Dia kemudian berjalan mendekatinya, berjongkok dan mengelus pelan kepalanya saat sudah tepat di depan Liliane.


“Kerja bagus, dengan ini ku pikir kau sudah membuktikan jika kau cukup layak..”


Dengan nafas terengah-engah Liliane memaksakan senyumannya, “Terima.. kasih Tuan!”


Tersenyum tipis selama sesaat, Escal berdiri dan memberikan sebuah botol kaca kecil berisi Health Potion untuk menyembuhkan luka Liliane.


“Minum itu, dan segera kita akan pergi.”


Escal menunjuk Health Potion yang ada di tangan Liliane, langsung saja Liliane menanggapi dengan sebuah anggukan dan kemudian meneguk setengah Health Potion itu sementara setengahnya lagi dia oleskan pada luka.


Escal masih berdiri di sampingnya, tetapi pandangannya kemudian menatap ke arah semak-semak saat merasakan beberapa keberadaan mendekati tempatnya.


“Keek! Ke ke ke!”


Beberapa Goblin keluar dari semak-semak, dan terlihat marah saat melihat sebangsanya sudah mati berserakan di sekitar Dua Manusia yaitu Escal dan Liliane.


Salah satu goblin menunjuk ke arah Escal dan Liliane menggunakan tongkat kayu yang ia bawa, menginstruksikan agar mereka menyerang.


“Tuan, biar saya..”


Baru akan berdiri dengan menopang tubuhnya menggunakan belati, Liliane kembali terduduk. Energinya benar-benar terkuras saat ini, dan kakinya sangat lemas.


“Tidak apa, istirahatkan dirimu. Lagipula ini tidak akan memakan waktu,”


Escal berjalan dengan santai ke arah beberapa Goblin yang menerjang menuju dirinya dengan mengangkat senjata mereka masing-masing.


Mengeluarkan Rock Tiger Sword dari Penyimpanan dan menarik sedikit dari sarungnya, Escal mengangkat sudut bibirnya.


“Dance of Steel Sword - One Step!”


Tubuh Escal berkedip di tempat, dan tiba-tiba muncul di belakang semua Goblin dengan menyarungkan kembali pedangnya tanpa ada yang tahu apa yang terjadi.


Sesaat kemudian, kepala para Goblin langsung jatuh dengan tubuhnya yang masih bergerak seolah tak mengetahui kapan kepala mereka terlepas, dan pada akhirnya jatuh.


Liliane menatap ke arah Escal dengan takjub, melihat ke arah orang yang nantinya akan dia ikuti.


Setelah itu, Escal mengambil semua taring panjang milik Goblin-goblin yang ia bunuh untuk menyelesaikan tugas misi.


Pada akhirnya karena Liliane tak kunjung pulih, Escal menggendongnya kembali ke rumah. Baru kemudian pergi ke Guild Raider untuk mengambil bayaran.


Tak langsung kembali, Escal pergi ke sebuah Kedai Minum yang sering ia kunjungi untuk mencari informasi.


“Yo! Sedang senggang setelah perburuan terakhir kali, Nak?”


Mendengar suara yang cukup akrab di telinganya, Escal menoleh ke sumber suara tersebut. Melihat Alfredo dengan pakaiannya yang biasa tengah melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum ramah seperti biasa.


“Tidak juga, Pak Tua. Aku baru saja selesai mengambil misi,”


Escal menanggapi dengan cukup akrab, sejak terakhir kali pertemuan keduanya. Alfredo tertawa renyah, kemudian berjalan ke meja Escal.


“Boleh ku duduk?”


“Silahkan.”


Escal mempersilahkan dengan nada dan ekspresi biasa, langsung saja Alfredo duduk di kursi yang berhadap-hadapan dengannya.


“Tumben kau keluar dari tokomu, Pak Tua.”


“Haah, aku sedang kesulitan sejak tiga hari ini karena Kabar Burung tentang Rencana Pemberontakan itu.”


Escal mengangkat sebelah alisnya, “Rencana Pemberontakan? Apa itu?”


“Kau belum tahu?”


Escal menggelengkan kepalanya yakin, sementara Alfredo menghela nafas sejenak dengan ekspresi wajah yang cukup buruk.


Tiga hari lalu, muncul sebuah kabar burung tentang Rencana Pemberontakan yang di lakukan oleh Viscount Salmo yang juga termasuk penguasa Kota Viell karena Baron Solace selaku walikota adalah bawahannya.


Hal itu semakin terbukti ketika pihak kerajaan mengirim Komandan Loyd untuk menyelidiki ke tempatnya, banyak prajurit yang tidak ada di tempat bersamaan dengan Viscount Salmo yang tiba-tiba hilang.


Lokasi pertambangan yang tak jauh dari Kota Viell menjadi dugaan persembunyian mereka, dan terbukti kebenarannya saat muncul aktivitas mencurigakan, juga pembuatan benteng tiba-tiba yang dibangun di depan Wilayah Pertambangan.


Saat ini Komandan Loyd bersama dengan Komandan lain tengah memikirkan cara untuk meredam aksi tersebut, sebelum mereka memiliki kesempatan untuk bertindak.


Selesai mendengar cerita dan keluhan Alfredo pasal tidak ada pemasokan bahan baku pembuatan senjata karena Tambang di kuasai para Pemberontak, Escal menangkap sesuatu yang janggal.


Seorang Viscount yang hanya bergelar satu tingkat di atas Baron ingin memberontak pada kerajaan, menurutnya hal itu cukup aneh.


Escal justru memiliki dugaan lain yang lebih kuat, walau hal tersebut memang dapat terjadi. Ada pihak yang lebih kuat dan berusaha menjebak Viscount.


Mungkin begitu, dan karena orang-orang terlalu terpaku pada Rencana Pemberontakan sehingga pikiran mereka tidak menangkap luas.


“Ya, lagipula itu tidak ada hubungannya denganku.” Pikir Escal sambil menatap segelas Bir di depannya yang baru di antar oleh pelayan.


Walau gurunya adalah salah satu yang menyelidiki pasal rencana pemberontakan itu, Escal tak berniat memberitahukan opininya karena baginya hal itu akan merepotkan dan membuatnya ditargetkan.


Meskipun Escal tak takut siapapun, tetapi dia juga tahu batasan dan sudah mengubah jalan pikirannya tentang hidup.


Asal tidak ada yang menganggu nya, dia tidak akan peduli.


.......


Jika kalian menyukai cerita ini mohon beri apresiasi berupa like komen vote untuk mendukung Author Ko