
Escal masih menatap penjaga yang menghadangnya dan meminta tanda pengenal, tak mengatakan apapun. Dia menyipitkan mata, sedikit menatap tajam dan langsung saja penjaga itu merasa tubuhnya bergidik.
Entah perasaan takut apa yang tiba-tiba muncul, saat Escal menatapnya tajam.
Seorang penjaga yang lain langsung menyela saat atmosfer keduanya dalam keadaan tegang di keheningan, dia tampak lebih bersahabat di banding rekannya.
“Maaf atas sikap kasar rekan saya, Tuan. Tetapi bisakah saya melihat tanda pengenal anda?” Rekannya berkata dengan sopan.
Escal melihat ke arahnya, “Aku tidak punya.” singkatnya tanpa basa-basi.
“Jika begitu, anda akan cukup kesulitan untuk masuk kota ini dan kota lain.” Penjaga itu sedikit terkejut.
Escal termenung sejenak, “Kalau begitu, bagaimana cara mendapatkannya?”
“Anda bisa membuatnya di pos penjaga sekarang, tetapi di kenai biaya pembayaran 1 koin emas.”
“Tidak masalah, di mana tempat itu?”
Penjaga itu menunjuk ke sebuah tempat yang ada di dekat gerbang, ada beberapa orang di sana yang sepertinya juga tengah membuat Tanda Pengenal yang berisikan biodata singkat.
“Temui saja orang bernama Tom di sana, dia yang mengurus pembuatan Tanda Pengenal.”
Mendengarnya Escal mengangguk, dan langsung pergi tanpa mengucapkan apapun. Rekannya yang sejak tadi diam menjadi geram.
“Apa-apaan dia itu? Mengucapkan terima kasih atau meminta maaf saja tidak, malah menatapku seperti itu!” Penjaga bernama Warrick itu berkata ketika Escal sudah cukup jauh.
Rekannya, Theo langsung sedikit panik, dia buru-buru menempelkan jari telunjuk di bibir sebagai isyarat untuk diam.
“Stt! Jangan bicara keras-keras, apa kau tidak tahu rumornya?”
Warrick langsung menaikkan satu alisnya, “Rumor apa?” tanyanya yang memang tidak mengetahui apapun.
Theo menggelengkan kepalanya pelan dan menghela nafas, “Tadi malam, Fenomena aneh terjadi. Bulan purnama yang harusnya berwarna putih keemasan menjadi biru, dan itu adalah tanda jika Gerbang Dunia di buka untuk para Warrior.”
Theo dengan antusias menjelaskan, tentu saja tidak ada yang tidak tahu apa itu Warrior yang ia maksud, termasuk Warrick.
Warrior, mereka adalah sebutan bagi orang-orang dari dunia lain yang di panggil ke Vixcell termasuk Escal. Di berkati oleh sistem dari Sang Dewa Arveous yang mengelola Dunia kecil Vixcell, para Warrior nantinya akan di tuntun untuk melakukan tugas mereka melawan 'Bencana' yang akan datang.
Orang-orang meyakini jika para Warrior memiliki kekuatan besar, di banding orang-orang pada umumnya karena itu banyak yang enggan berurusan dengan mereka.
“Lalu apa hubungannya dengan pemuda itu?” Warrick tidak mengerti, dan itu membuat Theo memukul lengannya pelan.
“Dia tidak seperti orang dari Kerajaan ini, dan tidak memiliki tanda pengenal. Bisa saja dia salah satu Warrior!..” Theo menarik nafas sejenak.
“.. Kalaupun tidak, apa kau tidak melihat bentuk hitam di lehernya? Itu seperti Ekor Naga! Satu-satunya yang memiliki Tato Naga sebagai tanda adalah, Tyrant Drake! Kau mau berurusan dengan mereka?”
Mendengar Kelompok Pembunuh Bayaran terhebat di Benua Barat, Warrick langsung tertegun. Tentu saja dia tidak ingin hal itu terjadi, atau nyawa dirinya dan seluruh keluarganya akan tamat.
“Yaa.. Mungkin saja,” Warrick menelan paksa ludahnya, untung dia tidak melakukan kesalahan lebih banyak pada Escal.
Walau tak sepenuhnya benar, tetapi Escal memang berniat membunuh orang yang menghentikan jalannya dengan paksaan dan tentu saja, dia tidak suka jika ada orang yang hendak mengekangnya.
Termasuk Warrick, jika dia tidak bisa menahan mulutnya.
Setibanya di pos penjaga, Escal harus menunggu beberapa waktu karena ada beberapa orang yang lebih dulu ingin membuat tanda pengenal. Setelah selesai, Escal membayar biaya pembuatan seharga 1 koin emas lalu kembali pergi ke gerbang.
Tanda pengenal itu bisa di ibaratkan seperti Kartu Identitas yang terukir di sebuah lempengan tembaga ringan yang kuat, dan di ukir oleh sihir sehingga sulit untuk membuat Tanda Pengenal palsu.
Begitu penjaga selesai mengecek keasliannya, Escal mengambil kembali tanda pengenal nya dan berjalan memasuki kota.
Banyak anak-anak saling bermain, dan orang-orang berlalu lalang juga melakukan jual beli.
Escal mendengus pelan, “Heh, tak buruk juga.” Gumamnya tanpa merubah ekspresi dinginnya, tetapi sorot matanya sedikit melembut.
"Brugh!"
Tiba-tiba seorang anak kecil tak sengaja menabraknya karena berlari tanpa melihat jalan, dan terjatuh sementara Escal berhenti berjalan. Dia melirik ke arah anak perempuan yang tadi menabraknya.
Anak perempuan itu terlihat cukup dekil, dan dari ekspresinya dia seperti ketakutan. Pakaiannya lusuh, membawa sepotong roti dalam dekapannya.
Beberapa laki-laki berlari kearah keduanya, anak perempuan itu terkejut dan langsung berdiri, bersembunyi di belakang Escal dengan menarik pakaiannya karena takut.
“Dasar pencuri kecil sialan! Berhenti di situ, kau harus membayarnya!”
Seorang pria menunjuk ke arah anak perempuan di belakang Escal dengan wajah marah. Sudah sejak tadi dia mengejar anak itu yang mencuri Roti dari tokonya.
Pegangan pada pakaian Escal terasa bergetar, tentu saja Escal merasakannya.
Melirik anak perempuan itu sejenak, dia melihat ke arah sekelompok orang yang mengejar-ngejar nya. Dia kemudian sedikit merentangkan tangannya, isyarat jika dia tidak ingin menyerahkan anak perempuan itu.
“Hei, apa maksudnya itu?! Lebih baik kau serahkan anak perempuan itu!”
Salah satu laki-laki dari sekelompok orang yang mengejar anak perempuan itu berkata dengan cukup keras.
Escal masih hanya menatapnya sejenak, kemudian melemparkan sesuatu ke arah laki-laki yang berbicara itu dan langsung saja ditangkapnya. Ketika dia membuka tangannya, dia terkejut karena itu adalah sekeping koin emas.
Mengabaikan keterkejutan laki-laki itu, Escal berkata, “Itu seharusnya cukup kan?” nadanya terdengar datar.
Laki-laki tadi mendengus, “Sudahlah, ayo kita pergi!”
Menuruti arahan laki-laki tersebut, sekelompok orang itu pun pergi dengan rasa kesal, walau uang yang mereka dapat lebih dari seharusnya.
“Sudah kan? Sekarang lepaskan tanganmu dari pakaian ku.” Escal berkata dingin, dan langsung saja gadis kecil itu melepaskan pegangannya dengan panik.
Escal memandang sejenak, kemudian hendak berjalan untuk melanjutkan jalannya.
Anak kecil itu tersentak, “T-Tunggu!” Katanya berusaha menghentikan jalan Escal.
“Apa?” Escal hanya sedikit menoleh. Gadis kecil itu langsung membungkuk sembilan puluh derajat, “Terima Kasih, T-Tuan!”
Tak langsung menjawab Escal kemudian berkata, “Heh, jika ingin berterima kasih lakukanlah hal yang berguna untukku.”
Escal kembali berjalan, tanpa menoleh ke belakang dan tak menatap gadis kecil itu yang entah kenapa matanya menjadi berbinar saat melihat punggung Escal yang perlahan menjauh.
...----------------...
“Aku memang berkata jika lebih baik kau melakukan hal berguna untukku daripada hanya berterima kasih, tetapi kenapa kau terus mengikutiku. Hah?”
Escal berbalik ke belakang dengan ekspresi kesal, melihat anak perempuan yang tadi ia tolong tengah melakukan gerakan seperti mengendap-endap dan terkejut saat tiba-tiba Escal berbalik.
Dia sudah tidak membawa sepotong roti yang sebelumnya menjadi alasan dia di kejar-kejar, karena sudah ia makan.
Bukannya Escal merasa terancam pada gadis kecil itu, tetapi di ikuti seperti itu membuatnya tidak nyaman. Jika itu orang lain, tentu saja dia pasti akan menebas lehernya sebelum tahu jika ia telah ketahuan.
.......