Not A Hero

Not A Hero
Eps. 30 - Second Main Quest



...[Pengumuman!]...


Sebelum kita mulai pada cerita, pertama-tama saya ucapkan Terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan kemauan pembaca untuk membaca cerita gabut nan penuh kekurangan ini.


Untuk 'sementara' [Lama sih] novel Not a Hero akan berhenti beroperasi terlebih dahulu.


Bisa sih saya langsung ngilang tiba-tiba gitu, tapi nanti kasian ama yang beneran nungguin nih Cerita ini [Kalo ada] jadi saya membuat beberapa pemberitahuan agar lebih jelas.


Jadi ya begitu, ini pengumuman Hiatus yang bakal lama banget nggak tahu sampai kapan. Entah hidup lagi atau enggak, sementara itu bagi Pembaca yang tertarik untuk menanyakan sesuatu bisa komen dulu.


Walau balasnya gak 'segera' tetapi nanti kalo dah balik, saya usahain jawab.


Sekian dulu, karena kependekan jadi saya akan lanjut dikit.


^^^Author: Xiao Ko^^^


..._____...


Satu Minggu yang damai kembali berlalu bagai air yang mengalir. Saatnya bagi para Warrior untuk kembali pada tujuan mereka di panggil ke Dunia Vixcell.


..._____...


...[>Won First Victory<]...


...B +...


...Shadowman mulai menampakkan diri dan muncul di beberapa titik tertentu! Sebagai pembuktian yang akan membawa beban Pahlawan, Warrior di harapkan untuk membunuh Shadowman dalam jumlah tertentu!...


...Shadowman: 150...


...Dark Knight: 3...


...Waktu: 30 Hari...


...Hadiah: ??...


...Hukuman: ??...


...---...


Begitulah semua Warrior dan Rebellion Star mengetahui Misi Utama Kedua setelah lewat beberapa hari sejak Penyerbuan Benteng Tambang Emerlin yang berhasil dengan baik.


Tak terkecuali Escal, dia menatap layar dengan pemberitahuan misi itu dengan serius karena penjelasan dari Hukuman dan Hadiah yang akan di dapat hanya tertera tanda tanya.


Tidak hanya itu, Escal juga tidak pernah tahu informasi mengenai Shadowman atau Dark Knight.


“Mungkinkah itu pasukan Raja Iblis?”


“Hei, Nak! Apa yang sedang kau pikirkan sampai memasang raut wajah seperti itu?”


“Bukan apa-apa. Lalu, bagaimana dengan Senjata yang ku minta?”


Escal bertanya pada Alfredo, saat ini dia tengah berada di Eden's Blacksmith karena empat hari yang lalu mengajukan pembuatan senjata berupa Golok yang mirip pedang dan tentu saja langsung di sanggupi oleh Alfredo.


Hari ini adalah waktu perjanjian di mana Escal akan mengambil Golok itu.


Alfredo menepuk dadanya dengan bangga, “Tentu saja! Ini cukup mudah, haha!” katanya setengah bercanda.


Escal tersenyum tipis menanggapi, “Aku tidak meragukan itu.”


Alfredo kemudian membawakan sebuah Golok dengan ukuran yang lumayan besar dan panjang. Bilahnya putih mengkilap, tidak terlalu banyak ukiran di gagang dan sarungnya, tetapi bisa di pastikan jika Senjata itu cukup kuat.


“Terima kasih, kalau begitu aku akan kembali.”


Escal mengambil Golok tersebut dan menyarungkannya. Tidak dia pakai, hanya di bawa dengan tangan kanannya untuk kembali ke rumah.


Golok itupun bukan untuknya, melainkan untuk Liliane yang berkata jika dia suka senjata yang lebih berat dari pedang biasa namun bukan Palu. Harus tajam seperti pedang.


Satu-satunya yang memenuhi kriteria itu adalah Golok yang sebenarnya hampir mirip dengan Pedang.


Liliane saat ini sudah terbiasa dengan perubahan tubuhnya, dan mengikat rambutnya ekor kuda. Escal juga membelikan pakaian yang sesuai dengannya.


Namun entah kenapa, sekarang Liliane terlihat seperti seseorang dari Era Murim Korea karena penampilannya yang benar-benar cocok dan pakaiannya.


Escal tidak mempermasalahkannya, menurutnya itu cukup cocok dan yang diutamakan oleh Escal saat ini adalah kekuatan bukan penampilan.


Saat ini Liliane tengah berada di halaman belakang rumah seperti biasa, untuk mengasah bela diri dan kekuatannya.


Tanpa mengatakan apapun, Escal melemparkan Golok yang masih tersarung rapi seperti melempar lembing dengan 'sedikit' kekuatannya ke arah Liliane yang tengah fokus.


Merasakan pergerakan yang di anggap berbahaya, Liliane langsung memutar tubuhnya dan menangkap Golok yang masih tersarung itu dengan kuat karena jika tidak, mungkin tangannya bisa terluka.


Sudah seperti itu pun, tangan Liliane menjadi merah hanya karena menangkap Golok yang di lemparkan Escal tanpa kekuatan penuh.


“ Sepertinya Anda benar-benar memiliki kebiasaan melempar sesuatu ketika saya sedang latihan, Tuan.”


Liliane berkata setengah bercanda, namun itu bukan kebohongan. Escal memang terkadang melemparkan kerikil dan bebatuan kecil untuk melatih reflek juga insting Liliane, walau terkadang lolos.


Kali ini benda yang di lempar cukup besar, sehingga Liliane bisa menangkapnya dengan tepat walau tangannya sedikit sakit.


“Lalu, apa ini?” Liliane melihat senjata di tangannya dengan heran.


Lagipula Escal memang tidak pernah mengatakan akan memberinya senjata, dia hanya pernah bertanya senjata seperti apa yang di sukai oleh Liliane. Jadi wajar Liliane tidak tahu jika senjata itu dibuat untuknya.


“Ambillah, mulai saat ini Golok itu yang akan menjadi senjatamu.” Escal berkata dengan nada acuh tak acuh seperti biasa.


.......