
Semua yang ada dalam ruangan nampak terkejut mendengar pernyataan Escal.
“Apa kau mengetahui konsekuensi dari yang kau katakan, Nak?” Julius menatap Escal seolah meminta penjelasan.
Escal mengangguk ringan, “Tentu saja. Harusnya kalian sendiri sudah merasa aneh dengan situasi ini. Seorang Viscount berusaha memberontak? Kecuali ada kekuatan besar di belakanganya, ini hanyalah tindak bunuh diri.”
Tidak ada seorangpun yang membantah ucapan Escal, termasuk Frank yang sejak tadi terus berdebat dengannya. Mau bagaimanapun, hal ini memang masuk akal.
“Selain itu, aku juga memiliki dugaan lain jika Pangeran Ketiga bekerja sama dengan Kerajaan Earthvill yang sedang berperang dengan Kerajaan ini.”
Keempat Komandan merenungkan ucapan Escal dengan seksama. Seperti apapun keadaannya, keempat orang itu tetap saja Pemimpin yang sering diberi tugas untuk berpikir, entah itu dalam strategi maupun investigasi.
Otak mereka bekerja dengan cepat, Harold langsung menatap ke arah Escal.
“Rencanamu,”
Satu kata itu langsung di pahami oleh Escal, dia pun tersenyum tipis dan mulai mengatakan rencananya.
Serangan akan dilakukan secara tiba-tiba, malam itu juga agar musuh tidak sempat menyiapkan apapun.
Escal akan ikut dalam penyerbuan, tapi bukan di garis depan. Melainkan menjadi pengintai yang akan mengendap-endap ke dalam Benteng untuk mencari bukti dan kebenaran.
Dia juga mengatakan hasil pengamatannya semalam ketika mengintai Benteng. Hal paling mengejutkan para komandan adalah, Keberadaan High Human yang ada di Benteng.
Apalagi jumlah yang belum diketahui pasti karena informasi itupun Escal dapat dari pemberitahuan Sistem.
“Akan sulit melawan High Human, apalagi jika itu lebih dari satu. Dengan pasukan yang kurang maksimal walau persenjataannya lengkap, kemungkinan untuk menang tidak ada setengah.”
Loyd menghela nafas kasar, Harold dan yang lainnya pun berpikir keras untuk memecahkan satu masalah itu.
“Mereka sepertinya kurang memperhatikan sekitar. Jika saja ini tidak terkait dengan Sub Misi dengan hadiah bagus, aku tidak akan peduli.”
“Aku punya saran.” Dengan nada datarnya yang biasa, Escal mengangkat tangan kanannya.
Langsung saja semua perhatian terarah padanya, “Kita manfaatkan saja para Warrior yang datang untuk menambah pasukan. Terserah kalian akan menjanjikan imbalan apapun, mereka tetap akan sulit menolak.”
Hal yang dikatakan Escal tentunya bukan omong kosong belaka karena dia tahu seberapa berharganya hadiah dari Misi yang akan di dapat setelah menyelesaikan Sub Misi.
Selain nilai Kontribusi pada kerajaan akan meningkat, ada Senjata Kelas Tinggi dan Ratusan Koin Emas yang dijanjikan sebagai Hadiah.
Meski begitu, hanya beberapa Warrior saja yang mengetahui maksud asli Sub Misi. Sementara yang lainnya, hanya tertuju pada hadiah tanpa mengamati dengan benar.
Semuanya pun berjalan dengan lancar, berkat kerja sama Escal dan para Komandan. Pasukan hampir menyamai jumlah asli yang seharusnya, meski Warrior diberikan kebebasan untuk menyerang secara individu.
Ada juga yang bergabung dengan kelompok kerajaan, tapi kebanyakan berpencar dan menyerang duluan.
Escal dengan pakaian serba hitam dan berbeda dari biasanya, membawa beberapa barang yang nantinya akan dia gunakan.
Melihat pertempuran yang mulai pecah, Escal menatap ke arah pertempuran sejenak sebelum mulai menjalankan aksinya untuk mengendap-endap.
...___...
“BRAK!” Veron menggebrak mejanya sampai hancur ketika mendengar kabar buruk dari bawahannya.
“Sial, kenapa waktu penyerangan tiba-tiba berubah?! Apa mereka berkhianat?”
Dia mendekati bawahannya yang melapor dan memegang pundaknya, “Bakar tempat ini ketika pertempuran hampir di menangkan, bahkan jika itu artinya kau juga ikut terbakar. Mengerti?”
Mata Veron seperti menyala sebentar sebelum kembali redup, sementara di sisi lain bawahannya yang melapor seperti kehilangan cahaya dari sorot matanya seperti di kendalikan.
“Saya mengerti, Tuan.”
Veron tersenyum tipis dibalik kain yang menutupi mulutnya, kemudian pergi setelah memastikan jika hipnotisnya berhasil.
Di luar, pertarungan kembali berat sebelah karena Max tiba-tiba muncul dan mengamuk. Kekuatannya benar-benar sangat besar, hingga banyak pasukan langsung terpental begitu terkena pukulannya.
“Hahaha! Mati! Mati!”
Sepertinya sedang menggila, Max menyerang dengan membabi-buta dan hendak menghancurkan tubuh seorang pasukan yang tidak bisa berdiri.
"BANG!"
Serangan tidak terduga langsung membuat Max dalam posisi bertahan dan terdorong mundur, memposisikan kedua tangannya di depan dada dengan sebuah luka goresan.
“Lumayan juga.”
Tubuh pria besar yang hampir sama dengan Max berdiri di depan pasukan kerajaan yang terduduk dengan tangan kanan terkepal di depan karena baru saja melesatkan sebuah pukulan.
Barrey kembali dengan posisinya, begitu juga dengan Max yang entah kenapa menjadi tertarik.
“Walau ini hanya setengah kekuatanku, harusnya Human Level Dua Belas sampai Tiga Belas masih akan kalah. Menarik,”
Barrey memasang wajah serius, kemudian menyuruh pasukan di belakanganya untuk pergi dari arena pertempuran dengan semua tenaga yang tersisa.
“Baiklah, aku tidak akan main-main walau kau mungkin akan mati.”
Setelah mengatakannya, tubuh Max seperti membengkak dan semakin besar dengan urat-urat yang menonjol di seluruh bagian tubuhnya. Ancaman luar biasa langsung terasa, bahkan sebelum dia menyerang.
“Aku juga harus serius. Berserker Bear!”
Taring dan kuku Barrey memanjang seperti binatang buas, bulu ditubuhnya menjadi semakin lebat dan tubuhnya semakin besar. Benar-benar seperti Humanoid Beruang yang ganas.
Keduanya pun melesat, membuat kabut tebal yang menyapu daerah mereka bertarung.
Di sisi lain, Zhale bergerak dengan cepat ke dalam Benteng. Ketika dia melihat sebuah bayangan hitam, refleknya langsung melayangkan sebuah serangan dengan sebuah tendangan kuat di belakang punggung.
Namun dengan mudah di hindari, dan kakinya dicengkeram. Zhale memutar tubuhnya agar kakinya lepas, dan kembali melayangkan sebuah pukulan kuat.
"Pats!"
Pukulan itu dengan mudah di tahan dan digenggam, Zhale berpikir untuk menyerang lagi tapi sebuah suara dari orang yang ia serang menghentikannya.
“Cukup, atau aku benar-benar akan melumpuhkan mu.” Suara dingin tanpa emosi, Zhale pernah mendengarnya.
“Escal?”
.......