
Escal menganggukkan kepalanya setelah selesai mendengar penjelasan Harold, yaitu alasan kenapa pihak Kerajaan tidak mengirim bantuan Resmi untuk menyelamatkan Komandan Loyd.
Hal itu dikarenakan tengah terjadi perang di daerah Timur Kerajaan, antara Kerajaan Aireest dan Kerajaan Earthvill.
Walau skalanya belum membesar, tetapi Kerajaan Earthvill yang menyerang dengan agresif harus benar-benar di hadang. Jika bisa, langsung dikalahkan sesegera mungkin sebelum korban bertambah banyak.
Sebagian besar pasukan di kirim ke Medan Perang Timur, sisanya memiliki tugas masing-masing di wilayah lain.
Akibatnya sulit untuk mencari bantuan Penyelamatan Loyd, sehingga Raja memutuskan untuk membuat Misi bagi siapapun yang mampu.
Tentunya imbalan dari Kerajaan tidak main-main, sehingga banyak yang mencoba dan pada akhirnya mati sia-sia. Tentu saja, kecuali Escal yang selamat dan menyelamatkan Loyd berserta pasukan yang tersisa.
“Kalau begitu.. Nick!” Harold melirik Nick dan mengangguk, sebuah isyarat yang langsung di tangkap baik oleh Nick.
Dia pun membungkuk sedikit sebelum pergi, kemudian beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah Peti Kayu yang cukup besar dan di taruhannya di atas Meja Harold.
“Silahkan, anda berhak menerima ini.”
Harold mempersilahkan dengan senyuman di wajahnya. Escal meliriknya sejenak, kemudian pandangannya jatuh pada Peti kayu di depannya.
Tangannya terulur, hendak membuka peti itu dan langsung saja dia melihat banyak benda berharga di dalam Peti.
Ratusan Koin Emas dan beberapa permata, juga Mana, Stamina dan Health Potion tingkat tinggi. Benar-benar barang berharga dan berkualitas yang sulit di dapatkan.
“Aku tidak akan sungkan.” Escal tersenyum tipis dan langsung saja memasukkannya ke dalam Penyimpanan Sistem.
Harold dan Nick tidak terkejut sama sekali, mereka berpikir Escal memiliki Space Ring setelah melihat sebuah cincin perak yang tersemat di jarinya, sehingga mengira itu adalah hal wajar.
Obrolan pun berlanjut cukup lama, sampai waktu makan siang tiba. Barulah saat itu Escal kembali ke rumah, dan di sambut oleh Liliane seperti biasa.
Keduanya pun makan siang setelah Liliane menyiapkan hidangan untuk mereka santap waktu itu.
.........
“Berhasil! Kita akhirnya berhasil!”
Melihat layar di depan mereka, sekelompok orang berteriak gembira. Akhirnya mereka selamat dari misi pertama yang mengharuskan mereka bertahan hidup di Hutan berbahaya Brownhood yang penuh Monster Level Lima sampai tujuh.
“Heh, dasar sekumpulan orang bodoh.”
Suara sinis dan merendahkan terdengar memasuki telinga orang-orang itu. Tentu saja, hal itu mengundang rasa kesal dalam hati mereka.
Serempak mereka menoleh ke satu arah, melihat seorang pemuda yang memakai jubah hitam bertudung yang dikenakannya, sedang duduk santai di atas sebuah Batu. Menopang kepalanya dengan tangan kiri, pemuda itu tersenyum meremehkan dengan mata merahnya berkilat dingin.
“Kenapa?”
Tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun, anak itu justru bertanya dengan berani.
Begitu jugalah yang orang lain pikirkan, karena mereka selamat juga berkat pemuda itu. Sehingga mereka hanya bisa mengepalkan tangan, menggertakkan gigi dan mengumpat dalam hati tanpa benar-benar berani melawan.
“Pengecut!”
Pemuda itu bergumam dan mendengus pelan, dia menatap ke arah langit yang nampak cerah dengan matahari yang mulai turun ke barat, menandakan jika waktu menjelang sore.
Menghela nafas sesaat, dia melompat turun dari batu dan berjalan pergi.
Seseorang langsung berusaha menghentikannya.
“Tunggu! A-anda ingin pergi kemana?”
Melirik ke sekelompok orang itu, pemuda tersebut melambaikan tangannya.
“Urusan kita selesai, aku bukan dermawan yang mau menampung orang-orang lemah. Terserah apa yang ingin kalian lakukan setelah ini, itu tak ada hubungannya lagi denganku.”
Pemuda itu meneruskan jalannya, tanpa peduli beberapa orang dibelakangnya yang memohon dan menyuruhnya berhenti.
..........
Duduk di sebuah kursi depan meja kerjanya, Escal bersandar pada kepala kursi dan mengetuk-ngetuk pelan meja dengan jari telunjuk.
Melirik ke arah sebuah buku yang terbuka dan sudah memiliki beberapa tulisan dengan alat tulis di sampingnya, Escal mengalihkan pandangannya keluar jendela.
“Seharusnya hari ini, orang-orang yang mematuhi sistem itu bisa keluar dari hutan kan?”
Escal bergumam pelan, teringat misi pertama dari sistem yang seharusnya dia kerjakan.
Berdasarkan waktu dari Misi pertama, harusnya sekarang para Warrior bisa keluar dari hutan dan menjalani misi kedua yang akan diberikan Sistem.
Tetapi dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang lain dari dunia yang sama dengannya yang juga ikut dipanggil kemari, sampai saat ini.
“Apa karena Rebellion Star?”
Escal berpikir kemudian menggeleng kepalanya, “Tidak, kurasa itu hal yang wajar! Lalu, apakah ada Rebellion Star yang lain saat ini?”
Escal memegang dagunya, sebuah kebiasaan yang tanpa sadar ia lakukan ketika sedang serius berpikir.
“Tok.. tok.. tok..!”
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar, menyadarkannya.
“Ada apa, Liliane?”
“Maaf mengganggu anda Tuan, tetapi ada seseorang yang mencari anda.”
.......