Not A Hero

Not A Hero
Eps. 21 - Rencana para Komandan



“Aku kerja sendiri.”


Ucapan Escal benar-benar menegaskan jika dia menolak tawaran Zhale, tanpa sedikitpun memikirkannya karena Escal memiliki rencana sendiri jika dia ikut partisipasi dalam misi ini.


“Tidakkah kau mau memikirkannya lebih dulu?”


Zhale benar-benar tidak menduga Escal akan langsung menjawabnya dengan sebuah penolakan keras. Harusnya dia pikir paling tidak Escal akan memikirkannya sebentar sebelum menolaknya.


“Aku sudah memiliki rencana sendiri.”


Escal tetap tak memikirkan tawaran Zhale, karena jujur saja dia benar-benar memiliki rencana sendiri untuk bekerja sama dengan Pihak Kerajaan agar bisa lebih banyak meraup keuntungan.


“Kau yakin?”


“Seratus persen.”


“Baiklah, jika begitu tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”


Zhale bangkit berdiri, dia menyerah untuk mengajak Escal bekerja sama. Tapi dia belum menyerah untuk diri Escal sendiri, karena merasa tertarik.


“Ini mungkin bukan pertemuan terakhir kita, jadi sampai jumpa.”


Zhale melambaikan tangannya dan pergi, menghilang di antara kerumunan orang-orang yang tengah berdesak-desakan karena rapat sudah selesai. Mereka buru-buru maju untuk mendapatkan informasi atau menawarkan bantuan pada Kerajaan lewat tempat itu.


“Sampah.”


Escal bergumam pelan tanpa ada yang mendengarnya. Dia juga bangkit berdiri, kemudian berjalan ke arah resepsionis Nick.


“Apa sekarang aku sudah boleh bertemu Komandan Loyd?”


Escal langsung ke inti pembicaraan, “Tentu. Silahkan ikuti saya,” Nick tersenyum profesional dan mulai memandu jalan Escal menuju bagian dalam Biro Informasi Kerajaan.


Sementara di kejauhan terlihat Zhale yang memperhatikan Escal sejak tadi, tersenyum tipis.


“Ternyata dia punya orang dalam, pantas saja dia menolak ajakan ku.”


Seorang pria kekar dan besar mendekatinya dari belakang, “Apa ada sesuatu, Zhale?”


Zhale mengalihkan pandangannya pada pria itu yang adalah temannya sejak awal keduanya tiba, karena kebetulan muncul di tempat yang sama.


Walau tampangnya besar dan garang seperti Beruang, tetapi dia adalah pria yang baik dan tidak mudah 'tergoda' sehingga Zhale menganggapnya teman.


Apalagi keduanya memiliki pemikiran yang sama untuk menentang sistem yang membawa mereka ke Vixcell, Zhale dan pria itu sama-sama menjadi seorang Rebellion Star.


Zhale dan pria tersebut juga memanfaatkan orang-orang. Lebih tepatnya seperti strategi 'otak dan otot' untuk mempengaruhi orang lain.


Zhale yang menjadi otak untuk aktifitas mereka, dan pria besar itu menjadi otot karena kekuatannya jelas lebih besar di bandingkan Zhale untuk mengawalnya agar orang-orang tidak berani macam-macam.


Memikat seseorang, memujinya, dan memberi harapan sementara Zhale sebenarnya lebih kuat apalagi dijaga oleh 'Manusia Beruang' seperti pria itu.


“Barrey, bagaimana menurutmu Pria tadi?”


Zhale menanyakan pendapatnya pada Pria besar yang bertanya padanya, Barrey Gulltom. Menaikkan satu alisnya, Barrey kemudian berpikir sebentar.


“Mungkin banyak keuntungan yang bisa di dapat darinya, tetapi melihatmu tadi yang tidak 'mempan' padanya.. dia berbahaya.”


“Kau benar, tapi aku merasa tertarik. Sudahlah, kita lakukan saja rencananya nanti malam.”


Zhale berbalik pergi mendahului Barrey yang kemudian mengikutinya, “Ya.”


Begitu sampai di depan sebuah ruangan yang adalah ruang pribadi Harold, dengan sopan Nick mengetuk pintu tiga kali.


“Siapa?” Suara berat Harold terdengar dari dalam.


“Nickolas, Kepala Biro. Tuan Escal datang untuk bertemu Komandan Loyd.”


“Masuklah.”


Nick langsung membuka pintu setelah di izinkan oleh Harold. Begitu pintu terbuka, pandangan semua orang yang ada di sana langsung tertuju pada Escal dan Nick. Ada Harold dan Loyd tentunya, serta dua orang lain yang tidak pernah di lihatnya.


“Saya hanya mengantar anda sampai sini, silahkan.”


Escal menatap Nick dan mengangguk sebagai isyarat terima kasih. Begitu melangkahkan kakinya ke dalam, Nick kembali menutup pintu dan membiarkan Escal melanjutkan jalannya.


“Ah maaf Escal, aku lupa memberitahumu jika hari ini tidak datang.” Loyd meminta maaf dengan tulus.


Escal mengangguk, “Tidak apa, tapi lain kali tolong beritahu aku lebih dulu. Kalau begitu aku akan kembali,” Escal sedikit membungkuk dan hendak berbalik, namun Loyd langsung menghentikannya.


“Tunggu, kenapa kau terburu-buru sekali Escal? Singgah lah sebentar, kami sedang membahas rencana untuk Para Pemberontak.” Loyd langsung berkata dengan sebuah senyuman.


Mendengar hal itu, Escal langsung berhenti karena merasa tertarik. Sementara kedua orang yang sepertinya juga berpangkat dalam Militer Kerajaan langsung terkejut karena Loyd yang begitu terbuka.


“Komandan Loyd? Maaf, tapi apa maksud anda? Ini informasi rahasia kerajaan!” Salah seorang yang terlihat garang dengan bekas sayatan di matanya langsung menyela.


Loyd mengibaskan tangannya sebagai isyarat, “Tidak apa Frank, dia murid ku selama satu bulan, Escal. Tenang saja dia di pihak kita, aku bisa menjaminnya.”


“Duduk di sebelahku, Escal.” Loyd menepuk pelan sebuah kursi kosong yang ada di sampingnya.


Escal mengangguk menanggapi dan duduk di sebelah Loyd dengan ekspresi dinginnya yang tak berubah sedikitpun. Pria yang di panggil Frank itu mendengus pelan, dan menyilangkan kedua tangannya.


“Bukankah rapat kalian sudah selesai, kenapa masih membahas tentang Pemberontak?” Escal berkata dengan nada datarnya.


Sebenarnya cukup tidak sopan, tapi Harold dan Loyd yang sudah mengetahui tabiat Escal tetap bersikap biasa.


Namun tidak begitu dengan Frank dan seorang pria di sampingnya yang juga berpangkat setara dengannya yang terlihat lebih ramah dari Frank, Julius. Mereka cukup terkejut dengan sikap Escal yang seperti tidak menghormati mereka.


Frank hendak marah, namun Julius langsung menghentikannya dengan segera.


“Kau terang-terangan sekali ya, Escal? Padahal kami lebih tua darimu dan seorang Komandan.” Julius berkata dengan sebuah senyuman.


Escal juga tersenyum tipis mendengar ucapan Julius, tanpa merasa takut atau bersalah.


“Aku akan menghormati kalian jika aku sudah tahu kalau kalian layak di hormati. Bahkan jika Raja ada di depanku, aku tetap akan membangkang jika dia bukan orang yang layak untuk dihormati.”


.......


Jangan lupa like komen vote jika menyukai cerita ini, Arigathank's^_^