Natasha

Natasha
Tanpa kabar



Sudah 2 hari, setelah kejadian yang sungguh membuat ku tak bisa berhenti memikirkan nya, aku sama sekali belum bertemu lagi dengan Ziyo.


Jujur aku merindukan lalaki tampan yang kadang menjengkelkan itu.


Setiap tindakan nya tak bisa aku tebak sebelum nya.


Tapi tubuh ini seakan tak pernah bisa untuk menolak semau perintah dan keinginan nya.


Aku sadar itu semua tanpa ada paksaan dari Ziyo.


Tapi hati dan tubuhku berjalan begitu saja,


Ya mungkin aku sudah jatuh cinta pada nya.


Aku tak bisa menghilangkan sosok itu di dalam otak ku.


Lalu ku sadari tak ada kabar berita darinya.


Sudah 2 hari, aku tak bertemu dengan si pemilik bibir tebal seksi dan manis itu.


Sudah 2 hari, aku tak mendengar kalimat-kalimat yang sedikit memerintah dari mulut nya.


aku rindu..batin ku


mungkin aku sudah benar-benar jatuh cinta pada lelaki itu.


Padahal masing-masing dari kita menyimpan kontak kita masing-masing tapi sama sekali tidak ada kabar dari Ziyo.


Pun aku enggan sekedar menanyakan kabar dari nya.


Seperti hari ini, aku baru saja sampai di apartemen ku.


Ku rebah kan tubuh lelah ku di atas ranjang nyaman ku.


Aku sedikit nyaman dengan posisi ini, dimana aku tidur terlentang dengan masih menggunakan baju yang terasa lengket oleh keringat ku yang seharian berada di kampus.


Ya, sudah 2 hari aku sibuk di acara kampus ku. Mungkin sampai 3 hari ke depan aku akan fokus mengikuti kegiatan yang kampus adakan untuk mahasiswa nya.


Jadi selama 5 hari ini, aku tidak pergi ke distro.


Hanya mengawasi lewat telepon dan tak lupa aku selalu mengecek laporan keuangan yang aku sempatkan di sela-sela waktu ku sebelum aku beranjak ke alam mimpi.


Tapi tak lama kemudian terdengar nada dering panggilan dari arah ponsel ku.


Aku dengan cepat meraih ponsel ku tepat di sebelah laptop ku tanpa aku lihat nama di layar ponsel ku.


Aku begitu semangat mengangkat panggilan ponsel ku.


Karena jujur saja aku sangat berharap Ziyo yang menelepon ku.


sekedar menanyak kabar ku atau setidak nya dia berkata sedikit menjengkelkan pun tak apa asal aku bisa mendengar kan suara nya.


Aku memang jatuh cinta padanya.


"Halo..." jawab ku antusias.


"Nat ini gua Bara," sahut nya di sebrang sana.


ada sedikit kecewa di wajah ku jika kenyataan nya yang menelpon ku itu adalah Bara.


teman kampus.


"iya Bar, ada apa?" jawab pelan.


"Oh kirain ada apa," balas ku.


" Ya engga sih, ya udah deh udahan dulu, dari nada bicara nya juga kayak nya Lo sedikit ke ganggu ya."


"okay, bye Nat'...see you tomorrow.."


jawab Bara dan panggilan pun terputus.


Aku dengan malas nya melempar ponsel ku hingga terjatuh ke lantai.


Aku putuskan untuk bangun dari ranjang nyaman ini.


Karena lagi- lagi ada pesan WhatsApp yang masuk. Karena ponsel ku sampai terjatuh ke lantai tadi.


Dengan malas ku ambil ponsel ku dan segera ku geser layar sentuhnya.


Ku lihat banyak sekali pesan WhatsApp dari layar ponsel ku.


Lagi-lagi Bara yang mengirimi aku pesan WhatsApp.


Hanya sekedar menanyakan apa yang sedang aku lakukan saat ini.


"Ga penting banget sih," gumam ku.


Lalu aku pun kembali menatap layar laptop ku yang masih berada di ranjang empuk milik ku


Ku rebah kan lagi tubuh ku sambil kembali bekerja di depan layar laptop.


Tanpa sadar aku pun sudah terlelap ke alam mimpi dengan nyenyak nya.


***** ****** *****


Ke esokan hari nya, waktu masih pukul 5 tapi aku sudah terbangun.


mungkin karena aku tidur terlalu nyenyak nya.


Tanpa alarm pun aku sudah terjaga.


Sengaja aku tidak langsung mandi.


Aku ke dapur untuk membuat kopi dan sedikit sarapan untuk ku


Aku mulai menyeruput kopi Capuccino ku dengan sepotong roti berselai kan sari kaya dan sedikit cokelat oles.


Aku habis kan pelan-pelan sarapan ku.


Aku pergi untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


Aku memakai celana jeans ku dengan atasan kaos polos lalu tak lupa aku meris tipis wajah ku agak terlihat lebih segar.


Saat aku keluar dari lift, tiba-tiba saja aku bertemu dengan Bara.


" Ngapain Lo di sini," tanya ku sekena nya.


" Mau jemput Lo Nat, biar sekalian perginya."


Aku pun mau ga mau mengikuti nya karena sudah tanggung juga kan untuk menolak keinginan Bara untuk bisa berangkat ke kampus bersama ku.


masih bersambung ya guys....