Natasha

Natasha
Melankolis



*********


Aku tidak pernah menyangka jika kepindahan ku ke kota ini seperti melakukan sesuatu yang baru. Aku benar-benar keluar dari zona nyaman kehidupan ku.


Percintaan ku yang baru atau memang level dewasa ku meningkat hingga skema nya begitu menanjak tajam.


Aku juga tak pernah membayangkan sebelum nya, mencintai seseorang yang tak biasanya.


Tak semua nya di luar kuasa ku.


Aku hanya mengikuti alur cerita nya saja.


Jika memang aku hanya mengikuti alur yang ada, apa itu yang dinamakan tak ada pengorbanan dalam cinta? atau tak ada usaha dalam cinta?


Aku memang terlalu terbuai oleh cinta itu sendiri, dengan jumawa nya aku merasa sangat di cintai. Tak ada usaha pasti untuk mempertahankan cinta karena dengan sombong nya aku merasa aku menjadi wanita yang paling di cintai nya.


Lalu bagaimana dengan pengorbanan???


Aku rasa aku melakukan nya, dengan cara ini. Cara kita bersandiwara, cara kita menyembunyikan hubungan kita, cara kita mempertaruhkan hubungan yang tadinya baik-baik saja. Apa itu namanya jika bukan pengorbanan.


Tapi seperti nya pengorbanan seperti itu tidaklah cukup memuliakan Cinta itu sendiri.


Lagi-lagi aku harus berkorban, kali ini yang lebih besar lagi. Lebih menyakitkan???jelas saja.


Hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelum nya tapi tidak bisa aku hindari konsekuensi nya.


*********


Disini, ditempat ku bekerja. Aku duduk termenung di meja, sambil tangan masih asyik memainkan ponsel.


Kurasakan tubuh ku seperti lemas, sudah beberapa hari ku rasakan.


Aku seperti orang sakit, gampang kecapekan, merasa pusing dan tentu saja sesekali ku muntahkan apa yang ingin tenggorakan ku keluarkan.


Tetapi yang membuat ku resah adalah nafsu makan ku yang kurasakan meningkat dari biasa nya.


Bukan karena aku ketakutan dengan berat badan ku tetapi semua itu di barengi dengan rasa pusing dan mual.


Hati ku semakin bergetar, mengingat jika semua itu adalah salah satu gejala.


Meneruskan nya saja hati ku serasa penuh, semua gejolak itu kurasakan sekarang.


Aku menenggelamkan wajah ku di meja, sesekali ku acak-acak rambut panjang ku.


Tiba-tiba aku menangis, kebingungan untuk menafsirkan apa yang saat ini aku rasakan.


Hingga tiba-tiba kurasakan ada seseorang di hadapan ku.


Ku lihat Jimmy keheranan melihat ku, dia menatap iba padaku.


lalu Jimmy berkata,


"Nat...baik-baik aja kan?"


"Masalah 'lo sama Ziyo gua udah tau dari Gery, tapi kalo denger gimana cerita nya gua malah bingung harus apa,"


Aku mengangkat wajah ku yang masih saja meneteskan air mata, ingin ku bicara pada Jimmy menceritakan semua gejolak yang aku rasakan. Tapi tiba-tiba saja,"


"Nat...'lo sakit? muka 'lo pucat banget!!!"


Aku malah semakin menangis, mengingat Jimmy menyelidik keadaan ku.


"Ga apa-apa kok, gua oke!" jawab ku pelan.


Tapi Jimmy paham maksud perempuan yang mengatakan bahwa semuanya oke.


Itu semua malah membuat Jimmy makin penasaran, hingga kemudian bertanya lagi padaku,


"Cerita lah Nat' gua bingung harus nolong nya seperti apa? ,'Lo terus aja nangis mana wajah nya pucet. Khawatir gua Nat'!


Gua telepon aja ya si Ziyo," tanya nya panjang lebar sambil mengeluarkan ponsel di saku celana nya.


Sebelum aku tolak, terdengar jawaban dari sebrang telepon sana,


Jimmy : Hallo ...dimana Zi?


Ziyo : Lagi otw distro mau jemput Natasha.


Jimmy : Kebetulan banget, tadinya gua tau 'lo


aja. Dari tadi nangis Mulu mana


mukanya pucat gitu..


Jimmy : Hallo. ...halloo...


Dan sambungan telepon pun terputus begitu saja, ku yakin Ziyo sedang menyetir dengan kecepatan tinggi.


Aku tau tanpa menjawab kalimat dari Jimmy, Ziyo sedang mengkhawatirkan aku.


Aku ingin pura-pura terlihat baik-baik saja di depan Ziyo nanti, tetapi kurasa agak mustahil rasanya. Sementara aku bukan nya berhenti menangis, airmata ini malah terus menetes membasahi wajah ku. Emosi ku pun seperti bergejolak, perasaan saat ini yang mendominasiku.


Hingga tiba-tiba saja aku merasakan perut ku seakan melilit, seperti ada sesuatu yang mendorong keatas tenggorokan. Rasa nya sangat mual sekali, ini sudah lebih dari 8 kalinya aku ingin memuntahkan apa yang ada dalam mulut ku. Tetapi tubuh ini rasanya lemah sekali, untuk berdiri pun aku tak berdaya. Sambil menutup mulut ku dengan tangan kiri, ku gapai meja di depan ku tapi aku malah kembali terduduk.


Hingga Jimmy mendekati ku , wajah nya terlihat kahawatir. Tapi ketika Jimmy akan menuntun ku ke toilet, tiba-tiba saja dari arah pintu Ziyo memanggil ku khawatir.


Melihat keadaan ku tengah di papah oleh Jimmy, Ziyo semakin menautkan kedua alisnya.


"Sini aku aja yang bawa kamu ke toilet, " ucap Ziyo yang tiba-tiba saja mengangkat tubuh ku menuju toilet.


Ku keluarkan semua yang ingin keluar, walau tak ada lagi sisa nya.


Aku lemas, tiba-tiba saja kepala ku begitu berat, ku bersihkan kembali bibir ku dengan air. Tetapi kepala ku malah semakin pusing dan tiba-tiba semua nya terasa gelap.


********


Pelan-pelan ku kerjap kan mata ku hati-hati.


Karena rasa tidak nyaman masih saja aku rasakan. Saat ku membuka mata dengan sempurna, kulihat di ruangan ini ada Ziyo dan juga Jimmy.


Ku gerakan tangan ku menyentuh tangan Ziyo yang tengah duduk di kursi samping tempat tidur ku.


Kemudian Ziyo, membalikkan badan nya lalu tersenyum kepada ku.


Jimmy pun menghampiri ku, sebelum aku siuman rupanya Jimmy dan Ziyo seperti sedang berdiskusi.


Masih nampak jelas wajah mereka yang tengah serius tadi.


Serius???


Ada apa ini, apa aku sakit? penyakit serius mungkin? Atau ada apa ini.


Ziyo masi mengusap-usap kepala ku lembut, tak ada pembicaraan di antara kami bertiga.


Hingga Gery datang, setengah berlari Gery memasuki kamar rawat ku.


Gery tersenyum kepada ku rasa Gery sudah mengetahui semua nya dari Ziyo, terbukti lagi-lagi tak ada pembicaraan dari ruangan ini.


Aku mulai bosan dengan ini, semua nya seperti mengacuhkan ku.


Aku kembali meneteskan airmata, kenapa akhir-akhir ini aku begitu melankolis?


"aku mau pulang!!!" kata ku sambil sedikit bergetar.


Menyadari itu, mereka bertiga menghampiri ku.


Terutama Ziyo yang terlihat terkejut melihat ku menangis, Ziyo langsung saja meraih tubuh ku dalam dekapan nya. Aku tentu saja semakin menagis.


Entah apa yang aku rasakan hingga rasanya ingin selalu menangis.


Yang aku tau, tubuh dan hati ku menginginkan nya, Ya ingin menangis saja.


"Iya nanti pulang ya sayang...Setelah ini,"


Jawab Ziyo lembut. Ku lepaskan pelukan Ziyo kemudian balik menatap Ziyo penuh selidik.


Ziyo malah semakin tersenyum manis pada ku lalu mencium ku berulang-ulang.


"Setelah apa?" tanya ku bingung.


"Setelah pemeriksaan oleh dokter kandungan, sayang..." jawab Ziyo sambil menatap ku dalam-dalam.


Aku hanya diam, mencerna semua yang di ucapakan oleh Ziyo.


*********


😘❤️🙏💜