Natasha

Natasha
Bertengkar



*******


"Kapan jadwal kamu check up sayang?" tanya Ziyo sambil memakai kaos sehabis mandi tadi.


"Besok." jawab ku singkat.


Lalu kami sama-sama berjalan menuju dapur untuk sarapan pagi ini.


Kami duduk berdampingan, sesekali Ziyo memeriksa ponsel nya sekedar mengecek notifikasi yang dari tadi tak berhenti berbunyi.


Aku masih saja diam, fikir ku Ziyo memang sudah berubah. Tak seperti dulu yang hanya ada aku di mata nya.


Apa yang aku lakukan tak lepas dari pandangan matanya, apa yang aku kerjakan tak lepas dari senyuman manis nya.


Tapi kini, Ziyo malah sibuk dengan ponsel nya dan sesekali menyuapkan potongan roti ke dalam mulutnya itu.


Ziyo sama sekali lupa, biasa nya dia yang selalu menyiapkan susu khusus kehamilan semenjak aku mengandung.


Ponsel nya kini menyita semua perhatian nya, hingga akhirnya ku putuskan untuk membuat susu untuk ku sendiri.


Dengan malas ku angkat tubuh ini dari atas kursi, deritan nya sedikit menyita perhatian Ziyo yang terlihat melirik ke arah ku.


Aku meraih kemasan susu yang berada di rak atas kemudian ku raih gelas di samping nya.


Tapi ketika aku hendak menuangkan nya tiba-tiba tangan ku di hentikan oleh Ziyo.


"Biar aku yang buat."ucap nya sambil tersenyum.


Aku kembali duduk di kursi, sambil ku perhatikan Ziyo yang dengan telaten membuatkan susu untuk ku dan calon bayi kami.


"Maaf...aku keasyikan balas chat." lanjut nya.


Aku mengangguk, dengan sedikit wajah yang sengaja di buat acuh aku kembali berkata,


"Chatting sama siapa?sampai keasyikan kayak gitu."


"Chat sama Gery tentang kerjaan. Terus sama Bella juga." jawab nya sedikit hati-hati.


Spontan saja ku hentak kan gelas susu yang sebagian masih terisi susu.


Mendengar nama Bella tiba-tiba saja hati ku seperti mendidih.


Kemarahan ku seperti terakumulasi saat ini.


Kemarahan ku yang sejak kemarin aku simpan agar tak meledak.


Jujur saja aku cemburu saat Ziyo menyebut wanita lain di hadapan ku.


Aku marah saat ku ingat apa yang sedang terjadi di antara Ziyo dan Bella.


Meskipun hanya drama picisan yang pihak lain buat.


Ziyo menyadari semua perubahan yang terjadi pada ku saat ini.


Ziyo berdiri di hadapan ku, aku masih saja diam tak bergeming.


Tanpa pikir panjang Ziyo meraih pundak ku dan menyenderkan nya di dada nya.


Tanpa sadar aku menangis.


Aku menangisi semua yang terjadi pada diri ku. Drama yang Ziyo buat dengan Bella benar-benar mengancam hubungan kami.


Sudah berjalan 1 bulan tapi Ziyo sama sekali belum bisa menyudahi drama percintaan dengan Bella. Padahal Ziyo menjanjikan waktu 2 bulan untuk menyelesaikan semu kekacauan ini.


Aku malah pesimis dibuat nya, apalagi ku lihat Ziyo yang makin intens dengan Bella.


"Aku sama Bella punya projek yang sama lagi, rencana nya akan ada sequel dari film kemarin." ucap Ziyo.


"Kamu tau kan, film aku dan Bella sukses di pasaran." lanjut nya.


"Iya aku tau, malah aku sangat tau kalo film itu booming karena di tambah dengan hubungan asmara kalian. Yang entah sekedar drama atau mungkin kalian punya hubungan spesial di belakang ku." Jawab ku penuh penekanan.


"Tapi kamu tau sendiri, aku dari awal udah nolak sama Gery dan pihak agensi tentang hubungan pura-pura ku dengan Bella.


Tapi kamu dan Gery nyatanya malah mendukung ku." Jelas Ziyo tak kalah panjang nya.


Kami berdua saling memandang, tak ku sangka aku dan Ziyo akan bertengkar kembali pagi ini.


"Pikiran kamu terlalu jauh, aku sama Bella emang Deket dari dulu. Kami sahabat."


"Kamu sebenarnya sadar Ziyo kalo Bella punya rasa lebih sama kamu. Hanya saja kamu ga berani mengakui nya. Karena rasa cinta nya di tutupi oleh hubungan persahabatan kalian."


"Sudah lah Nat, aku capek berdebat terus dari malam."


"Aku masih ada jadwal hari ini." ucap Ziyo yang ingin menyudahi pertengkaran kami.


Aku masih merasa dongkol di buat nya, terlebih Ziyo seperti nya sudah tak lagi memposisikan aku sebagai wanita satu-satunya.


Kami masih saling menatap, tapi lagi-lagi naluri keibuan ku kembali hingga tanpa sadar ku elus-elus lembut perut ku.


Dalam hati ku terasa sakit, tapi aku tak ingin semakin menyakiti anak yang ada di rahim ku.


Orang bilang jika ibu nya sedih dan menangis, bayi yang berada dalam rahim nya pun otomatis merasakan hal yang sama.


Tak lama terdengar bell dari pintu apartemen ku, ku pastikan itu pasti Gery yang akan menjemput Ziyo ke lokasi tempat nya bekerja.


Ziyo berjalan menuju pintu untuk membuka sedang aku berjalan menuju sofa di rumah tengah. Kududukan tubuh ku di atas sofa kemudian kunyalakan televisi sekedar mengalihkan sebagian dari otak ku.


Gery dan Ziyo berjalan beriringan.


Mereka duduk di sofa yang berhadapan dengan ku.


Ku lihat Gery tengah menyelidik apa yang sedang terjadi antara kami.


Hingga Ziyo berkata kepada ku,


"Sarapan nya lanjutin yuk..." ajak Ziyo kepada ku.


Aku hanya menggeleng sambil mata tak berpaling dari televisi.


Ziyo kembali mendekat kepada ku, meraih kedua tangan ku lalu mengecup nya.


Tapi hati ku seperti nya tak juga melunak.


Hingga tiba-tiba saja Gery memecahkan keheningan di antara kami.


"Kalian berantem lagi?"


Aku dan Gery mengangguk bersama-sama sambil melirik kearah Gery.


"Ada apa lagi sih kalian?" lanjut Gery.


"Semalam kita bahas pernikahan dan kami salah paham. Lalu tadi kita berantem lagi gara-gara Bella." Ucap Ziyo.


"Bella lagi...Bella lagi. Jelas aja dia marah."


jawab Gery sedikit emosi.


"Coba gua tanya sama 'lo Zi, kapan 'lo bakal nyelesein semua ini sama Bella?Jangan sampai saking asyik nya 'lo menghayati peran 'lo sebagai pacar bohongan nya Bella 'lo lupa kalo itu semua cuma sandiwara."Jelas Gery yang seolah mewakili semua perasaan ku yang tak sempat aku Utarakan tadi saat bertengkar dengan Ziyo.


Ziyo tak berkata apapun setelah mendengar ucapan Gery.


Aku sangat lelah jika harus kembali berdebat dengan Ziyo. Ku putuskan untuk mengalah lagi kali ini. Ini semua aku lakukan untuk si calon bayi ku. Tak ingin ku terlihat sedih dan merasa selalu sedih. Aku ingin dia tumbuh dengan sehatnya tanpa kekurangan satu apapun.


Aku meraih tangan Ziyo, ku genggam erat tangan nya seolah mentransfer kekuatan untuk nya. Ziyo tersenyum lalu mengusap lembut pipi ku.


"Nanti sore aku anter check up anak kita ya.."


ucap nya lembut.


Aku mengangguk senang. Tak sabar rasanya menunggu datang nya sore.


Ingin sekali ku lihat perkembangan bayi ku dan di antar oleh orang yang aku cintai.


Semoga saja kebahagiaan kembali hadir diantara kami.


********


😘❤️✌️💜