Natasha

Natasha
Klarifikasi...



**************


Aku masih terduduk di sofa saat ku lihat Ziyo tak juga bicara. Masih tersirat keraguan dan kecemasan di raut wajah nya.


Gery pun masih berada di ruangan yang sama dengan kami, aku masih saja setia menunggu penjelasan entah seperti apa.


Yang pasti Ziyo sesekali melirik kepada ku, lalu kemudian menatap Gery. Seolah ia tak mampu untuk berbicara.


Yang aku yakin bahwa semua ini tidak baik-baik saja, hingga kemudian Gery yang memulai pembicaraan ini.


"Okey, mungkin gua yang bakal duluan jelasin permasalahan nya!" ucap nya di barengi oleh helaan nafas Gery yang terlihat berat.


Aku hanya mengangguk lalu aku sedikit merubah posisi duduk ku, ku lihat Ziyo yang sedari tadi hanya menunduk, kemudian kedua tangan nya meraih tangan ku begitu erat.


Aku tau ini bukan masalah biasa,


"Selama proses syuting mungkin 'lo udah tau kan 'Nat tentang gosip kedekatan antara Ziyo dan Bella? gua dan Ziyo tidak membenarkan atau pun membiarkan karena masih kita anggap wajar. Lagi pula ada keuntungan juga untuk film yang bakal rilis itu. Kita ga munafik kalo gosip itu sedikit gimmick untuk film sih ga masalah pikir gua Ama Ziyo," jelas nya.


Aku sedikit nya sudah paham apa yang akan kami bahas kali ini, tapi seolah-olah ingat dengan apa yang aku lewati di depan kantor rasa penasaran ku pun memuncak,


"Kalo emang ini cuma gimmick kenapa pas tadi gua masuk gua harus ngendap-ngendap lewat pintu samping tanpa boleh melewati para awak media?" tanya ku menelisik ke arah Gery.


kemudian ku arah kan pandangan kepada Ziyo yang duduk di sampingku,


"Zi...bukan nya mereka tau kita pacaran,"


tanya ku pada Ziyo dengan pandangan yang nanar kepada nya.


Seketika Ziyo memeluk ku, aku terkejut seperti hal nya Gery yang sama-sama terkejut melihat Ziyo yang langsung memeluk ku.


Aku mulai meneteskan air mata, ku sadari ada yang tidak beres dengan kami, dengan hubungan ini.


Ziyo menyadari aku sedang menangis hingga kedua tangan nya menangkup pipi ku lalu kemudian mencium bibir ku.


Tangan nya menghapus air mata yang terus mengalir, entah mengapa hati ini merasa kan sakit tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.


Aku hanya ingin Ziyo yang menjelaskan ini semua, bukan Gery. Aku terus saja menatap Ziyo sambil terus menangis.


Tatapan yang mengisyaratkan jawaban dari semua nya.


Hingga akhirnya Ziyo yang menjelaskan,


"Ternyata tanpa kita tau, Bella melakukan wawancara dengan awak media. Dan parah nya Bella bilang di depan mama nya juga para awak media kalo Bella dan aku udah pacaran sebelum syuting."


"Aku marah dan protes ke pihak menejemen tapi sayang nya mereka malah semakin menyudut kan aku. Mereka anggap itu adalah moment yang bagus untuk project film ini."


"Dan lagi mama nya Bella nganggep kalo aku dan Bella benar-benar pacaran."


Aku semakin terisak, aku tau kalo semua perkiraan ku itu nyata.


Bella benar-benar menyukai Ziyo hingga memanfaatkan situasi ini, dia terlalu licik untuk semua ini.


"Sayang...Maaf," ucap Ziyo sambil terus memeluk ku.


"Sekarang kamu tau kan kenapa sampai harus sembunyikan kamu masuk kesini, karena hari ini aku sama Bella mau klarifikasi ke media bahwa kami pacaran dan aku pastikan ga sampai 2 bulan setelah rilis film aku bakal menyudahi semua sandiwara ini.


Percaya sama aku," pintanya.


Aku hanya diam dan menangis menyadari bahwa orang yang akan berganti peran dengan ku adalah Bella.


Perempuan yang kenyataan sangat menyukai pacarku.


Apa adil untuk ku? Jika nanti dia malah semakin menghayati peran nya sebagi kekasih dari pacarku.


Aku yang terganti kan harus di sembunyikan dari dunia.


Aku tidak yakin dengan semua ini, aku hanya diam tak ingin berkata apapun.


Hingga kemudian suara ketukan dari arah pintu terdengar,


ku lihat ada seorang pria yang cukup berumur dengan penampilan yang sangat rapi dan wajah yang tampan. Aku tau dia adalah bos menejemen ini. Lalu yang satu nya lagi adalah sosok yang sama sekali tidak ingin aku temui,


Bella.


Pria yang biasa di panggil Pak Raymond itu menghampiri ku dan Ziyo.


Kami berjabat tangan untuk menunjukan kesopanan kepadanya.


Kemudian dia meminta maaf kepadaku dengan semua ketidaknyamanan ini, dia mengetahui semua yang terjadi pada ku dan juga Ziyo. Tapi semua sandiwara ini memang harus di lakukan untuk saat ini sampai film itu rilis katanya.


Aku bisa apa, Ziyo sudah terikat kontrak dengan proyek ini. Ini semua bukan masalah uang kontrak atau pun yang lain nya, karir Ziyo pun di pertaruhkan profesionalisme nya.


Aku tidak bisa egois, walaupun aku harus siap dengan semua kejutan dari sandiwara ini.


Setelah Pak Raymond pergi, giliran Bella yang menghampiri ku.


Dia meminta maaf tapi kurasakan seolah mengejek ku.


Ingin ku bicara tentang kebenaran nya pada Ziyo, tapi aku tak berdaya.


Ziyo mungkin saja belum tau ada sandiwara di balik sandiwara ini.


Hingga Ziyo di panggil harus wawancara dengan awak media bersama dengan Bella.


Sebelum pergi keluar ruangan ini, Ziyo terus memeluk ku, dia menatap ku sendu tanpa ada satu kata yang ia ucapkan.


Dan aku merasakan semua penyesalan nya, tapi aku pun tidak bisa menyalahkan nya.


Ziyo pergi dari ruangan ini, tinggal aku dan Gery.


Gery mengajak ku keluar, untuk melihat ke bawah dimana akan ada Ziyo dan Bella yang akan memerankan sebagai sepasang kekasih di depan para pencari berita.


Kurapikan penampilan ku yang terlihat berantakan setelah drama menyedihkan tadi, kuperbaiki wajah dan rambut ku.


Tidak ada lagi air mata di pipiku, dengan malas ku langkahkan kaki mengikuti Gery.


Tubuh ku berjalan beriringan bersama Gery, tapi batin ku meronta tak ingin melakukan nya.


Sesekali Gery menatap ku, seolah-olah menyelediki apa yang sedang aku pikirkan.


Dan di ruangan besar ini, ku lihat beberapa awak media tengah bersiap-siap.


Tampak kamera -kamera dan lampu yang berjejer di depan tempat duduk untuk Ziyo dan Bella.


Gery menuntun ku berdiri di tengah, ingin rasanya aku berlari dari ruangan ini.


Lagi -lagi emosi menguasai diriku, tapi aku tak ingin terlihat kalah oleh Bella karena ku yakin Bella ingin aku mundur perlahan agar bisa menguasai Ziyo sepenuh nya.


Tak lama ku lihat Ziyo dan Bella berjalan, bersiap untuk wawancara.


Ku lihat mereka tersenyum kepada para wartawan itu. Hati ku seolah teriris, ketika tangan Bella menggelayut manja pada Ziyo.


Bella seolah tidak ingin sedetik pun lepas dari Ziyo, sempurna sekali peran yang Bella mainkan.


Mata ku dan Ziyo saling beradu, kurasakan sesak di dada ku saat pertanyaan itu di tujukan pada Ziyo...


*************