Natasha

Natasha
Mengabaikan



*******


Ya, sampai Gery datang untuk menjemput Ziyo ke lokasi syuting pun aku masih saja mengacuhkan nya.


Jujur saja, ini adalah hal pertama yang aku lakukan selama bersama Ziyo. Tak pernah sedikit pun aku mengabaikan keberadaan Ziyo, pun jika Ziyo menghubungi ku lewat ponsel. Tak pernah aku seacuh ini.


Bahkan aku menolak setiap perlakuan nya padaku. Menolak saat Ziyo ingin mencium ku. Menolak saat Ziyo yang selalu memeluk ku dan mengelus-elus mesra rambut ku.


Bahkan aku menolak saat Ziyo ingin mengusap sayang perut ku yang masih rata, dimana ada calon bayi nya sendiri.


Dan yang paling parah, saat Ziyo berusaha menghampiri ku saja aku jelas-jelas menolak nya. Aku tak ingin berada di dekat nya.


Entah itu sebagai protes keras ku atau itu hanya lah hormon dari kehamilan ku.


Entahlah...


*********


Seperti saat ini, ketika Ziyo mencoba pamit kepada ku. Aku yang sedari tadi berada di samping Vani tak sedikit pun menoleh ke arah Ziyo saat dia memanggil ku.


Ziyo lalu menghampiri ku yang terduduk di sofa yang berada di samping Vani.


Lalu Ziyo menekuk lutut nya agar posisi nya sejajar dengan ku. Kami saling berhadapan, manik mata kami saling menatap. Begitu besar keberanian ku saat ini, hingga membalas tatapan mata nya dengan penuh.


Tapi berbeda dengan Ziyo, tatapan nya seolah nanar. Ada kesedihan di dalam nya. Mungkin beberapa penolakan tadi membuat nya sedih.


Ku akui aku tengah merajuk, lalu kedua tangan Ziyo menangkup kedua pipi ku.


Aku hanya terdiam, ekspresi ku datar-datar saja, lama Ziyo menatap ku sambil mengelus lembut kedua pipi ku.


Vani dan Gery yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku kamu, terlihat semakin keheranan. Terlihat dari wajah mereka yang mengerutkan dahi nya dan saling beradu pandang menatap kami


Lalu Ziyo berkata pada ku.


"Aku pamit kerja ya sayang."


Dengan kedua tangan yang masih saja menangkup kedua pipi ku.


Aku memutar kedua bola mataku, seakan jengah mendengar ucapan Ziyo.


"Aku janji...sore udah pulang ke apartemen."


Lanjut nya lagi kemudian mencium kening dan juga bibir ku.


Aku lalu meronta dan menghempaskan tangan nya kasar dari pipi ku.


"Terserah..." jawab ku.


Sambil berdiri dari sofa dan menuju ke arah kamar. Mereka bertiga saling menatap melihat kelakuan ku yang tak biasa.


Lagi-lagi aku menolak Ziyo, rasanya ini lebih dari sekedar merajuk.


Ziyo yang terlihat begitu sedih karena terkejut akan reaksi ku saat ini.


Kemudian berjalan mengekor di belakang ku.


Saat aku duduk di tepi ranjang, ku lihat Ziyo yang mulai masuk ke dalam kamar.


Wajah nya benar-benar kacau, aku berhasil membuat mood nya hancur saat ini.


Tetapi tak ada keinginan untuk meminta maaf atau pun merasa bersalah kepada Ziyo.


Aku masih diam memandang ke arah Ziyo.


Ingin sekali aku berteriak dan menyuruh nya pergi dari hadapan ku.


Ziyo tertunduk lesu, kali ini dia duduk di lantai. Kedua tangan nya mengunci tubuh samping ku.


Wajah nya yang berada di bawah ku, terlihat kacau. Kini dia tak berusaha untuk menyentuhku. Hanya diam menelesik manik mata ku dan berkata.


"Aku tinggal kerja ya..." ucap nya lirih.


"Aku cinta sama kamu..." ucap nya lagi.


Lagi-lagi hanya itu yang aku dengar.


Bahkan bukan kalimat itu yang saat ini aku dengar. Hingga tiba-tiba, Gery sudah berada di depan pintu kamar ku.


"Zi...keburu siang ini takut nya kena macet."


ucapan Gery berhasil memecah keheningan di antara kami.


Ziyo yang langsung berdiri, kali ini menarik tubuh ku agar sejajar dengan nya. Ia menuntut ku untuk keluar dari kamar.


Aku yang meronta seakan tak bisa berbuat banyak, terpaksa mengikuti langkah nya.


Gery yang sudah bersiap untuk pergi pamit kepada ku dan juga Vani,


"Nat...Van...gua cabut ya..."


Ziyo kemudian menarik pinggang ku agar mendekat ke arah tubuh nya sambil berkata.


"Sayang aku pamit dulu, kamu boleh mengabaikan ku saat ini tapi setidaknya antar lah aku hanya depan pintu saja."


Kata-kata nya terdengar lirih. Aku hanya membuang muka ku ke sembarang tempat.


Hingga pintu tertutup, aku melihat wajah Ziyo.


Kali ini aku benar-benar sukses membuat mood nya hancur.


Pertama kali nya dalam hidup ku, aku mengabaikan setiap ucapan nya.


Aku menolak setiap sentuhan nya.


"Lu kenapa Nat'?" tanya Vani yang kini duduk berdampingan dengan ku.


"Gua juga ga tau Van, spontan saja gua ngerasa marah dengan keadaan ini."


"Maksud nya?" tanya Vani heran.


"Gua kok ngerasa tertampar denger tentang pernikahan, apalagi Ziyo sama sekali belum membahas nya."


"Jadi ini sebagai bentuk protes lu sama Ziyo? atau hormon kehamilan ku kali Nat?" lanjut nya.


"Bukan...bukan bayi gua yang pengen, jelas-jelas gua yang merajuk. Bahkan saat gua menolak semua sentuhan Ziyo jauh di dalam sana bayi gua sangat ingin di sentuh ayah nya." Jelas ku dengan mata berbinar.


"Lakukan apa yang bikin ku seneng. Lu ga boleh stres kasian bayi nya." Jawab Vani sambil memeluk tubuh ku.


********


Sedangkan di tempat lain, antara Ziyo dan Gery yang kini sedang berada di dalam mobil untuk menuju ke lokasi syuting.


Ziyo benar-benar kacau, Gery yang dari tadi diam-diam memperhatikan Ziyo.


Terlihat tak ada semangat dari Ziyo, bahkan terlihat malas sekali. Terlihat dari cara duduk nya di kursi penumpang.


Ziyo yang menyadari sedang di perhatian oleh Gery, kemudian bersuara.


"Ger'....gua harus apa?" tanya nya frustasi.


"Kenapa emang?" jawab Gery santai.


"Kok kenapa sih? emang lu ga liat Natasha kenapa!" tanya Ziyo.


"Hormon hamil nya kali Zi...seperti itu."


ucap Gery sambil terus fokus pada kemudi nya.


"Emang bisa seperti itu?" Tanya Ziyo cemas.


"Bisa lah Zi...mood nya orang hamil itu berubah-ubah, bisa sedih tiba-tiba senang.


Bisa cinta eh tiba-tiba jadi benci."


Kali ini kalimat Gery benar-benar menjadi perhatian Ziyo yang spontan saja membenarkan posisi duduk nya kemudian menghadap ke arah Gery.


"Parah lu Ger' bikin mood gua tambah hancur tau...mana bisa yang lagi cinta tiba-tiba benci gitu aja."


"Ya bukan nakut-nakutin sih, tapi itu fakta nya.


Kalo ga percaya lu tanya-tanya deh sana."


"Terus kalo tiba-tiba Natasha benci gua terus ga cinta lagi sama gua gimana Ger'?


Apalagi tadi dia mulai acuh sama gua, dia mulai menolak setiap sentuhan gua?"


Ucap Ziyo dengan nada yang penuh dengan rasa takut.


"Itu mah derita Lo Zi..." jawab Gery sengaja memancing Ziyo.


Bukan tanpa sebab Gery seperti itu, hanya saja Ziyo yang lamban sekali pergerakan nya untuk menyelesaikan semua kekacauan ini.


Gery seakan tak rela melihat Natasha yang menderita sendirian.


Ditambah dengan sikap Natasha yang saat ini seolah mengabaikan Ziyo. Membuat Gery semakin berharap agar Ziyo segera menyadari bahwa Natasha bisa meninggalkan Ziyo kapan pun.


Benar saja, Ziyo memang terpancing oleh Gery. Terlihat tatapan Ziyo yang tak bersahabat kearah Gery.


"Maksud lu apa?" tanya Ziyo dingin.


Gery ingin sekali membalas perkataan dari Ziyo, tapi situasi yang membuat nya tanggung.


Karena mereka sudah sampai di halaman parkiran tempat mereka syuting.


😁💜🙏❤️