
***********
Mereka bertiga begitu panik melihat ku menangis, apalagi Ziyo yang saat ini duduk di samping ku dan sedang mendekap erat tubuh ku. Ziyo yang kebingungan dengan sikap ku hanya bisa mendekap tubuh ku walaupun wajah nya nampak gusar.
Jimmy yang dari tadi selalu berada di pihak ku akhirnya berkata sambil tangan yang masih memegang kemudi,
"Zi...'lo tau kan kalo wanita hamil itu suka moody, gampang nangis, apalagi kalo sampe stres? Bisa bikin janin bermasalah itu. Dan yang paling parah kalo si calon ibu nya stres bisa bikin keguguran." ucapnya sedikit sarkas dan di barengi oleh anggukan Gery uang membernarkan.
Mendengar kata keguguran, sontak saja tangis ku semakin kencang kini aku berusaha berontak dari dekapan Ziyo, berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan nya.
Ziyo pun yang mendengar penjelasan dari Jimmy terlihat ketakutan apalagi melihat diri ku yang histeris dan mulai melepaskan pelukan. Tersirat kesedihan dan ketakutan dalam wajah nya. Lalu tiba-tiba saja tangan Ziyo berpindah ke arah perut ku yang masih datar, tangan nya mengusap-usap lembut perut ku dan wajah nya disenderken ke ceruk leher ku sambil memeluk ku. Terasa hembusan nafas Ziyo yang seketika membuat ku tenang, apalagi usapan tangan nya di perut ku yang membuat perasaan ku kini terasa nyaman. Aku mulai diam tak berusaha lagi lepas dari dekapan Ziyo, tangisan ku pun terhenti. Ziyo tersenyum melihat ku lalu mencium lembut pipiku. Sisa-sisa airmata ku, Ziyo hapus dengan jari tangan nya yang lembut.
"Anak kita pasti sehat ya, aku jamin ga akan ada lagi yang bakal bikin kamu sedih," Ucap nya lembut di telinga ku.
Gery dan Jimmy saling menatap mendengar ucapan Ziyo, tapi tak ada reaksi apa-apa dari ku.
Karena aku terlalu nyaman dengan perlakukan Ziyo saat ini.
Mungkin janin yang ada di dalam rahim ku ini pun terasa nyaman dengan usapan lembut dari tangan ayah nya sendiri.
***********
Akhirnya kita sampai juga di depan apartemen ku. Jimmy memarkirkan mobilnya di basemen sedangkan aku, Ziyo dan Gery berjalan masuk terlebih dahulu menuju lift yang akan membawa kami naik ke lantai apartemen ku.
Ziyo masih setia menggenggam tangan ku,
di dalam lift yang hanya ada kami bertiga kusenderkan tubuhku pada Ziyo karena jujur saja aku masih merasa begitu lemas.
Gery terlihat sibuk dengan ponsel nya, sesekali umpatan lolos dari mulut nya.
Ziyo seakan tak mau ambil pusing dengan apa yang sedang manager nya itu lakukan padahal Gery jelas-jelas sedang membereskan kekacauan yang sedang kami buat hari ini.
Hingga sampai lah kami di lantai ini, kami keluar beriringan sampai di depan pintu.
Saat masuk, aku langsung menuju kamar karena lama-lama kaki ku seakan tak mampu lagi menopang tubuh ku ini.
Ziyo merebahkan tubuh ku di ranjang, lalu tangan nya mulai sibuk mengacak-acak isi tas ku. Dan setelah apa yang di cari nya ia dapatkan, Ziyo tersenyum lalu mengambil gelas yang berisi air putih di atas nakas.
"Ini minum obat nya dulu, sayang!" Ucap nya sambil memasukkan obat nya ke arah mulut ku.
Aku sedikit mengangkat tubuh ku agak bangun dan bisa meneguk obat nya.
Kemudian tubuh ku di rebah kan nya kembali,
"Istirahat lah, biar calon bayi kita sehat ya...Aku temenin sampai kamu tidur ya?" jelas nya lagi.
Kemudian Ziyo ikut berbaring di samping ku, lalu ku lingkarkan tangan ku di pinggang nya.
Aku benamkan wajah ku di dada nya, perasaan nyaman kembali kurasakan.
Apalagi tangan Ziyo yang terus menerus mengelus punggung ku dengan lembut seakan mentransferkan kekuatan dan kasih sayang nya untuk ku dan calon bayi kita.
Hingga pelan-pelan ku pejamkan mata lelah ku dan aku pun tertidur.
********
Sementara saat aku tertidur di kamar, di ruangan lain dalam apartemen ku.
Gery yang masih saja sibuk dengan ponsel nya tiba-tiba terlihat marah.
"Dasar licik...." Ucapnya.
Ziyo dan Jimmy keheranan dengan sikap Gery.
"Berita online?" tanya Jimmy.
"Media online sampai saat ini masih bisa gua handle, tapiii..." jawaban dari Gery tiba-tiba terhenti. Ucapnya ragu untuk mengatakan apa yang membuat nya semakin marah.
"Apa?" tanya Jimmy kembali.
"Cewe ini benar-benar licik, wajah nya aja keliatan polos tapi kenyataannya licik banget."
Ziyo yang sedari tadi terlihat acuh dengan yang di bicarakan oleh kedua sahabat nya itu tiba-tiba menghentikan tangan nya yang sama sibuk nya memainkan ponsel.
Lalu kedua matanya menatap ke arah Gery, mencoba menelisik dan ingin jawaban.
"Bella..." ucap Gery sambil menghembuskan nafas nya kasar.
"Bella ngancam gua supaya gua secepatnya nikahin Natasha walaupun dia tau kalo bayi itu anak 'lo Zi..."
Ziyo membulatkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang di utarakan Bella kepada Gery. Tersirat kemarahan yang tertahan di raut wajah nya.
"Dia ngancam bakal up ke media kalo gua ga nikahin Natasha secepatnya, dia bakal bikin nama 'lo terjun di media sampai blacklist katanya." lanjut Gery.
Jimmy sama marah nya dengan Gery dan juga Ziyo.
"Gua bilang apa Zi, ga usah deh main drama-drama kayak gini. Dari awal gua yakin masalah kyk gini bakal kejadian. Berkali-kali gua ingetin kalo c Bella beneran suka sama 'lo bukan sekedar pengen sahabatan doang. Cewe kayak Bella itu licik, di balik wajah cantik dan polos nya 'lo ke makan sama umpan yang dia buat," jelas Jimmy mengingat kan kembali.
Ziyo terlihat frustasi dengan apa yang saat ini terjadi, di satu sisi dia harus menyelamatkan karir nya yang selama ini ia rintis dengan sudah payah sedangkan di sisi lain dia juga sangat mencintai wanita yang saat ini sedang mengandung anak nya.
"Lo masih percaya Ama dia? masih mau ikut permainan cewek licik kayak dia?" tanya Jimmy dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.
"Lo sadar ga kalo selama ini Natasha cukup menderita dengan ide gila nya c Bella, atau Lo emang mau kehilangan Natasha dan calon bayi Lo?" ancam Jimmy.
"Gua tegasin sekali lagi sama 'lo Zi, kalo pun Gery ga mau pura-pura nikah sama Natasha.
Gua yang bakal nikahin Natasha beneran, sah Dimata hukum dan agama. Ngerti kan 'lo!"
Jelas Jimmy dengan penuh emosi.
Ziyo benar-benar kacau saat ini, mana mungkin dia membiarkan orang yang sangat ia cintai dan bayi nya menjadi milik orang lain dengan cara di nikahi oleh orang lain.
"Oke, gua tau apa yang harus gua lakukan.
Tapi Please..!!! jangan sampai Natasha tau soal ini. Gua ga mau sampai hal buruk terjadi pada Natasha dan calon bayi gua," tegas Ziyo.
Di sisi lain, aku yang sebenarnya sedang berdiri di balik pintu kamar diam-diam mendengarkan apa yang mereka bertiga bicarakan.
Aku tak sengaja mendengar apa yang mereka bahas, lagi-lagi hanya bisa bersabar menunggu skenario yang Tuhan buatkan untuk ku.
Sejauh ini aku bersyukur akan hadirnya janin yang ada di rahim ku.
❤️😘🙏💜