Natasha

Natasha
Perhatian Ziyo



********


Keesokan pagi nya, aku terbangun tepat pukul 5 subuh. Entah karena aku merasa lapar atau karena tidur ku yang kurang nyenyak.


Ku lihat kearah samping, Ziyo yang masih tertidur dengan lelap nya.


Aku menegakkan tubuh ku, perlahan ku angkat tangan Ziyo yang masih memeluk pinggang ku.


Aku berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah ku dan tak lupa ku gosok gigi ku terlebih dulu.


Sebelum keluar dari kamar mandi ku ikat rambut ku hingga terlihat seperti roti Bun.


Ku lirik ke arah Ziyo yang masih terlelap dan berganti posisi tidur.


Sambil berjalan aku mengelus-elus perut ku yang terasa lapar. Kemudian setelah sampai di dapur ku cari makanan yang bisa aku makan. Karena terasa malas untuk memasak, akhirnya ku jatuhkan pilihan ku untuk memakan roti tawar yang praktis pikir ku di tambah dengan selai coklat dan juga keju.


Aku memakan nya dengan lahap sampai tak tersisa, tak lupa susu coklat panas yang tadi aku buat pun di teguk habis oleh ku.


Ya... semenjak kehamilan ku. Aku selalu merasa lapar, mungkin karena nutrisi yang aku butuhkan bertambah seiring dengan berkembang nya janin yang ada di dalam kandungan ku.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja aku merasa kan sesuatu yang ingin keluar dari tenggorokan ku. Seketika aku merasa mual lalu setengah berlari aku menuju ke kamar mandi yang berada di kamar ku sambil menutup mulut ku karena takut sesuatu itu akan keluar bukan pada tempat nya.


Sesampai nya di depan wastapel, ku keluarkan semua isi yang tertahan di tenggorakan ku. Berkali-kali ku keluarkan semua nya. Lalu aku terduduk sebentar karena kurasakan pusing di kepala ku.


Tak lama kemudian, Ziyo yang sepertinya mendengar aktivitas ku di kamar mandi berjalan dengan cemas menghampiri ku yang saat itu sedang terduduk lemas di dekat wastapel. Ziyo terlihat cemas kemudian mengangkat tubuh ku yang lemas, sambil terus memeluk ku Ziyo berkata,


" Mana yang sakit sayang? Masih mual?"


Aku menggeleng kan kepala ku karena aku mulai mengerti dengan keadaan ini dimana sangat wajar seorang ibu hamil mengalami hal seperti ini.


Lalu dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Ziyo yang saat itu baru bangun dari tidur nya terlihat acak-acakan. Wajah nya yang masih panik terlihat sangat tampan di mata ku. Seketika rasa mual yang aku rasakan menghilang seketika melihat wajah dari ayah calon bayi ku ini.


Seolah menjadi candu untukku, setiap kali aku merasa mual atau pun hormon kehamilan yang membuat ku sedih jika melihat Ziyo semua nya seperti menghilang.


Ziyo menggendong tubuh ku menuju ranjang, karena tubuh ku yang masih terlihat lemas.


Ziyo kemudian ke dapur membawakan ku makanan dan juga segelas susu tak lupa segelas air putih untuk ku meminum obat.


Ziyo terlihat bolak-balik dari kamar ke dapur, kuperhatikan sikap nya yang begitu perhatian dan sayang pada ku. Hingga Ziyo berkata sambil menyendok kan makanan kepada ku,


"Sarapan dulu ya sayang, biar bisa minum obat. Biar rasa mual nya sedikit berkurang."


Aku spontan menutup mulut ku dengan tangan sambil menggeleng kan kepala ku.


"Ga mau yang, aku tadi udah makan roti sama susu. Malah bikin aku mual terus muntah-muntah." jelas ku.


Ziyo menyimpan kembali piring yang ia pegang, kemudian tersenyum kepada ku.


" Kalau gitu minum obat nya aja ya, kasian kamu kalau terus-terusan mual kayak gitu."


"Aku ga bisa jagain kamu loh hari ini banyak pekerjaan soalnya."


Kemudian aku arahkan obat dan vitamin ke mulut ku. Tak lupa ku teguk air putih hingga habis setengah nya.


"Ya kamu kalau kerja, ya kerja aja. Lagian kan hari ini Vani mau kesini. Dia bisa kok jagain aku." jawab ku sinis.


"Ga usah marah juga kali yang. Aku janji sore udah pulang deh. Bayi papa juga pasti kangen ya sama papa." ucap Ziyo sambil mencium kecil perut ku seolah sedang berbicara pada bayi yang ada di kandungan ku.


Aku malah semakin mengerucutkan bibirku, dan membuang muka.


"Mama nya juga kangen kan?" tanya nya jail.


Aku hanya mengangguk pelan dengan pipi yang ku pastikan memerah karena merasa malu.


"Janji deh pulang nya sore." Ikrar Ziyo sambil mengangkat kedua jari nya tanda berjanji.


Tak lama kemudian terdengar bel dari pintu apartemen ku.


Kami saling pandang seolah, bertanya siapa yang sudah datang berkunjung sepagi ini.


Apa itu Gery atau mungkin itu Vani?


Ziyo akhirnya berjalan menuju pintu hendak membuka nya. Karena aku di larang nya untuk ikut berjalan keruang tamu.


*********


Di ruangan lain nya, Ziyo membuka kan pintu yang dia pikir itu adalah Gery manager nya yang akan menjemput Ziyo ke lokasi.


Saat pintu di buka ternyata orang yang datang berkunjung sepagi ini adalah Vani.


Dengan ragu Vani memaksa kan senyuman nya pada Ziyo. Antara terpesona dan canggung melihat Ziyo yang terlihat tampan walau pun Vani tau Ziyo belum membersihkan tubuh nya semenjak bangun tidur tadi.


"Hai...gua udah janji ketemu Natasha." ucap Vani.


"Masuk Van..."ajak Ziyo sambil tersenyum ramah kepada Vani.


Meraka masuk beriringan dan mempersilahkan Vani untuk menunggu di ruang tamu. Sementara Ziyo menuju kamar untuk memanggil Natasha.


Vani mendudukkan dirinya di sofa empuk itu sambil terus membenah kan diri nya agar terasa nyaman.


*********


Sementara di dalam kamar, Ziyo duduk di tepi ranjang. Sambil mengusap sayang rambut ku dia berkata,


"Vani yang...dia di ruang tamu. Kamu mau mandi dulu? biar aku siapin air nya?"


"Nanti aja deh yang mandi nya agak siangan. Mending kamu aja yang mandi duluan kan mau kerja, keburu di jemput Gery loh."


tawar ku.


Ziyo berjalan menuju ke kamar mandi sementara aku berjalan keluar untuk menemui Vani yang sedang menunggu ku di ruang tamu.


Kami saling melemparkan senyum, sebelum menghampiri Vani aku berjalan menuju dapur.


Sekedar untuk membuat kan minuman untuk menemani kami mengobrol.


Tak selang beberapa menit, terdengar kembali bunyi bel di pintu apartemen ku.


Ternyata Ziyo diam-diam sudah memesan makanan via online untuk kami.


Aku tersenyum membawa 2 buah kantung makanan menuju ruang tamu, tak henti-hentinya aku menyunggingkan senyuman.


Merasa tersanjung akan sikap dan perhatian Ziyo sedari tadi.


Aku merasa seperti satu-satunya wanita yang di inginkan oleh Ziyo. Juga bagaimana Ziyo yang selalu perhatian dan memberi kasih sayang pada calon bayi di dalam kandungan ku.


🙏❤️😘💜