Natasha

Natasha
Status pernikahan



********


Dengan wajah sumringah aku membawa kantong makanan yang tadi dipesan online oleh Ziyo. Aku duduk di sofa di samping Vani.


Vani pun kegirangan melihat ku membawa makanan, dan dia pun berkata,


"Wah...bener-bener temen sejati lu 'Nat... Pagi-pagi begini tau aja gua belum sarapan."


"Bukan lu aja yang seneng Van, gua juga sama tau-tau di pesenin makanan sama Ziyo.


Emang pacar pengertian." jawab ku.


"Oh...Ziyo yang pesenin. Baik bener deh.."


ucap Vani.


"Eh... ngomong-ngomong laki lu mana Nat?" sambung nya.


"Ziyo lagi mandi, kan ada syuting juga hari ini."


jawab ku sembari kedua tangan ku yang di sibukkan dengan membuka makanan yang di pesan secara online oleh Ziyo.


Vani hanya mengangguk tanda mengerti sambil tangan yang menerima makanan yang aku sodorkan padanya.


Ziyo yang baru saja selesai mandi dan berganti baju, terlihat keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri kami.


Sambil tersenyum kearah ku, Ziyo terlihat segar sekali. Berbeda dengan ku yang masih terlihat layu seperti khas nya orang yang bangun tidur.


Ziyo duduk di samping ku, tanpa bicara Ziyo terus menghujani ku dengan ciuman.


Aku sedikit risih di buat nya, karena ada Vani di dekatku yang sedari tadi mengamati kami.


Apalagi saat ciuman Ziyo berpindah ke arah perut ku yang masih terlihat datar.


Terlihat Vani yang mengerutkan kening nya.


Di tambah tangan Ziyo yang henti-hentinya mengusap-usap sayang perut ku.


Terlihat sekali jika Vani ingin sekali bertanya tentang semua yang dia lihat sekarang.


Aku menyadari nya, hingga ku kirim kode pada Ziyo untuk memberi tahu Vani jika saat ini aku memang tengah mengandung calon anak dari Ziyo.


Ziyo memang cukup peka menangkap isyarat dari ku. Karena nya Ziyo berkata,


"Van...makasih loh udah mau mampir kesini.


Kebetulan hari ini gua ada kerjaan tapi kondisi Natasha yang kurang fit bikin gua khawatir. Untung nya lu mau main kesini jadi Natasha ada yang nemenin." Jelas Ziyo agak panjang.


"Iya sama-sama, gua juga emang udah kangen sama Natasha." Ucap nya dengan mulut yang penuh sedang mengunyah makanan yang ada di tangan nya.


"T-tapi kalau boleh tau, emang lu sakit apa Nat? katanya lu kurang fit segala."


Aku hanya diam tanpa ada keinginan untuk menjawab pertanyaan dari Vani, lagi-lagi Ziyo yang berbicara,


"Natasha ga sakit apa-apa, Natasha sedang hamil!!!"


Aku melihat keterkejutan di wajah Vani, sambil melirik menatap ku tajam.


Kuanggukan kepala sebagai tanda mengiyakan apa yang Ziyo katakan adalah benar adanya.


"Gua lagi dalam fase mual dan muntah nih Van, makanya agak kurang fit."


"Serius lu hamil anak Ziyo? terus kalian kapan menikah?"


Aku dan Ziyo seperti tertampar mendengar ucapan dari Vani. Aku langsung menatap Ziyo dan kita saling beradu pandang.


"Zi...lu ga kasian apa sama Natasha yang cuma sebatang kara tapi hamil tanpa status pernikahan bahkan kalau orang-orang tau pun itu cuma bakal memandang rendah sama Natasha." ucap Vani dengan penuh penekanan saat mengucapkan pernikahan.


Tanpa ada aba-aba lagi kini airmata sudah mengalir di kedua pipi ku, aku hanya diam seolah-olah membenarkan ucapan Vani.


Aku tau Vani mempunyai maksud baik untukku sehingga dia membahas pernikahan pada Ziyo. Terlihat dari wajah nya yang berusaha melindungi ku.


Melihat ku yang sedang menangis Vani beranjak dari duduk nya, menghampiri ku di sofa yang sedang aku dan Ziyo duduki.


Vani memeluk tubuh ku, aku semakin terisak di buat nya. Kemudian Vani melepaskan pelukan nya dan berkata pada ku.


"Semua nya bakal baik-baik aja Nat', gua pastikan bakal selalu ada untuk membantu apapun yang terjadi sama lu."


Kami saling memeluk kembali lalu kami tersenyum, tapi tidak dengan Ziyo.


Ziyo menatap nanar kepada ku, melihat ku kini dengan sedikit rasa kasian.


Ya...menyedihkan sekali rasanya di kasihani oleh kekasih ku sendiri. Batin ku seolah bergejolak saat ini. Bagaimana aku bisa menikah saat ini sedangkan aku tak tau apa yang saat ini sedang terjadi di luar sana.


Apa Ziyo dan Bella masih menjadi pasangan kekasih di luar sana?


Apa yang Ziyo akan lakukan jika media tau kalau aku mengandung anak nya Ziyo?


Aku merasakan pusing sesaat, saat ku hapus semua airmata yang jatuh di wajah ku dengan tissue, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu dorongan dalam perut ku yang naik ke dalam tenggorokan ku.


Aku beranjak dari duduk ku, kemudian menutup mulut ku dengan tangan kiri ku dan setengah berlari aku menuju wastapel yang ada di dapur.


"Kenapa sayang?" tanya Ziyo yang sejak aku berdiri mengikuti ku dari belakang.


Di depan wastapel aku kembali mengeluarkan seluruh isi yang ada dalam perut ku yang belum lagi terisi sejak tadi.


Ziyo mengurut-urut pelan Tengkuk leher ku, sambil. Kusudahi ritual morning sickness ku kemudian aku membasuh wajah ku dengan air. Ziyo membalikkan tubuh ku agar berhadapan dengan nya. Tanpa ada suara terdengar dan terlihat dari gerakan bibirnya jika Ziyo berkata Maaf padaku.


Dan aku meletakkan telunjuk pada bibirku, seolah menyuruh nya berhenti berkata-kata.


Aku tidak ingin mendengar apapun saat ini yang bisa memperburuk mood ku saat ini, mendengar pembicaraan tadi saja membuat perut ku mual.


Ku acuhkan Ziyo yang berdiri di depan ku, aku berjalan ke arah ruang tamu. Ziyo mengikuti kemudian meraih tangan ku untuk di tuntun nya tapi spontan saja aku menepis tangan nya.


Entah lah, saat ini aku tidak ingin mendengar dan merasakan perhatian dan juga kasih sayang Ziyo yang saat ini kurasakan hanya sekedar rasa saja.


Sejak mendengar kata pernikahan yang membuat ku semakin merasa tak berdaya apalagi Ziyo tak pernah menyinggung sedikit pun tentang keinginan nya untuk menikahi ku.


Aku terduduk di hadapan Vani, kali ini aku sengaja duduk di sofa single agar Ziyo tak duduk berdampingan dengan ku.


Ziyo merasakan perubahan dari sikap ku, terlihat dari sikap nya yang salah tingkah dan mulai cemas.


Aku membuka wadah makanan tadi yang belum sempat kami makan, Ziyo menghampiri ku mencoba membantu membuka kemasan nya tapi lagi-lagi aku menolak nya.


Ziyo sekilas menatap ku sedih, tanpa beranjak dari duduk nya.


"Makan dulu Van, keburu tambah dingin."


Ucap ku tanpa menoleh sedikit pun dari makanan yang akan aku santap.


Vani mulai melahap makanan nya, sambil menelisik kejadian antara aku dan Ziyo tanpa berusaha bertanya lagi.


Jujur saja pertanyaan Vani tentang pernikahan menjadi tamparan untuk ku kemudian dengan spontan hatiku ikut merajuk kepada ayah calon bayi ku.


Yang saat ini hanya bisa menatap ku tanpa bisa menyentuh ku.


Wajah nya terlihat sedih mendapat penolakan dari ku. Hal yang belum pernah aku lakukan selama bersama dengan nya.