Natasha

Natasha
Aku hamil...



*******


Akhirnya setelah beberapa lama menunggu, akhirnya aku dan Ziyo kini berada di ruangan dokter kandungan.


Setelah sedikit berbinacang, aku di arahkan oleh suster menuju ranjang untuk melakukan Usg. Setelah tubuhku di rebahkan kemudian perut ku di oleskan cairan dingin oleh suster yang masih terlihat muda itu.


Kemudian dokter itu pun mengarahkan alat USG ke perut ku.


Ku lihat Ziyo tengah memandang kearah monitor besar di hadapan nya.


Lalu kami melihat ada sebuah titik hitam di monitor itu yang ku yakini itu adalah janin ku.


Aku kembali melihat raut wajah Ziyo, yang kali ini terlihat tersenyum melihat monitor dan sesekali memandang wajahku.


Pandangan kami bertemu, kulihat rona bahagia di wajahnya, sambil terus tersenyum kepada ku.


Aku pun begitu, tapi hati kecil ku merasakan sesuatu selain rasa bahagia ku ini.


Setelah selesai, aku pun kembali duduk.


Ziyo mendekat untuk menuntun ku duduk kembali di meja dokter.


"Selamat ya Pak...usia kehamilan istri bapak kurang lebih 5 Minggu," ucap dokter itu.


"Karena masih sangat muda usia kandungan nya, jadi ibu jangan terlalu kecapekan apalagi stres, karena bisa mempengaruhi janin." lanjut nya kembali.


Sambil terus menggenggam tangan ku Ziyo tersenyum mendengar penjelasan dari dokter.


Tak lupa dokter pun memberikan resep obat untuk aku konsumsi setiap hari sebagai vitamin dan juga obat untuk mengurangi rasa mual pada perut ku.


Setelah kami berjabat tangan, kami pun berjalan keluar ruangan. Ku lihat Gery, tengah duduk di ujung kolidor rumah sakit.


Tapi ku lihat gerak tubuh nya terlihat resah, saat menyadari kedatangan kami, sedikit berlari Gery menghampiri kami.


Aku yang masih merasa lemas, hanya diam dan merasa ada sesuatu yang terjadi.


"Ada apa?" tanya Ziyo singkat.


"Di luar banyak wartawan." Jawab Gery.


"Sial...." umpat Ziyo kesal.


Dari tadi aku hanya menunduk lemah, mendengar umpatan yang keluar dari mulut Ziyo hati ku seolah sakit. Aku merasa Ziyo kebingungan dengan situasi ini.


Aku tau jika Ziyo merasa serba salah akan semua ini, apalagi di depan banyak wartawan yang siap meliput kejadian ini yang menjadi makanan untuk para pencari berita.


Posisi Ziyo sulit, karena media hanya tau kalau Ziyo berpacaran dengan Bella sedangkan saat ini aku yang pacar sesungguhnya sedang hamil anak nya Ziyo.


Tapi Ziyo harus kembali bersandiwara di depan media.


Akhirnya terjadilah kesepakatan antara kami, Aku dan Gery yang sudah terlanjur menjadi pacar pura-pura nya, kini harus berganti peran dengan Ziyo.


Kali ini bukan Ziyo, yang menggenggam tangan ku berjalan kearah halaman rumah sakit, bukan Ziyo yang memeluk tubuh ku di depan banyak wartawan, bukan Ziyo yang memakai tubuh nya sebagai perisai dari banyak nya dorongan orang-orang yang sedang berkumpul.


Ya, kali ini tempat itu di gantikan oleh Gery, Ziyo berjalan di samping ku.


Ziyo berjalan beriringan dengan ku tapi tak menggenggam tangan ku,


Ziyo berada di samping ku tapi tak memeluk tubuh ku yang lemah ini.


Ziyo berdiri di samping ku, tak melindungi ku tubuh ku dari banyak nya wartawan yang saling mendorong meminta jawaban.


Aku hanya tertunduk, lemas, sakit hati dan menahan tangis.


Apalagi saat salah seorang wartawan meloloskan pertanyaan kepada Ziyo,


"Zi..siapa yang sakit?"


"Katanya lagi hamil ya Zi...?"


Aku semakin menggenggam kuat tangan Gery tanpa mampu melihat Ziyo saat Ziyo kembali menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan itu.


"Sebenarnya ini pacar nya Gery manager saya, kebetulan saya ikut anter ke sini,"


Jawab Ziyo, kemudian kami pun kembali berjalan ke arah parkiran mobil.


Kami berjalan sedikit cepat agar bisa segera menjauh dari kejaran wartawan yang seperti nya belum puas dengan jawaban yang di berikan Ziyo kepada para awak media itu.


Terlihat mobil yang di bawa oleh Jimmy mendekat kearah kami, Aku langsung masuk kursi belakang di susul oleh Ziyo yang duduk bersampingan dengan ku.


Dan Gery duduk di kursi depan samping kemudi.


Jimmy terlihat masih panik menatap ku melalui spion depan.


Gery terlihat sibuk memainkan ponsel nya, yang ku pastikan sedang mengatasi semua kekacauan yang terjadi hari ini.


Lalu Ziyo sedang menatap ku, tanpa bisa ku artikan apa yang sedang dia rasakan dan dia pikirkan. Sedangkan aku.


Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam dan menunduk kan kepala ku, semua nya terasa campur aduk saat ini.


Hingga Jimmy memecahkan keheningan sesaat ini,


"Apa yang sebenernya terjadi sama 'lo Nat'?"


tanya Jimmy sambil sesekali melihat kearah ku melalui spion depan.


Aku tak berniat menjawab nya, tak ada jawaban dari ku selain balas menatap Jimmy.


Kali ini Ziyo yang dari tadi menatap ku, membuka mulut nya untuk menjawab pertanyaan dari Jimmy.


"Natasha hamil..."


"Usia kandungan nya baru 5 Minggu."


Tak ada keterkejutan dari Jimmy, dia begitu santai nya mengendarai mobil menuju apartemen ku.


"Ya bagus lah kalau Natasha hamil, biar 'lo bisa akhiri semua sandiwara ini."


Jawab Jimmy dengan penuh penekanan saat mengucapkan kalimat akhirnya.


Dan Tak lama kemudian, terdengar panggilan masuk dari ponsel nya Ziyo.


Ziyo mengambil ponsel di saku celana nya, sambil menatap layar ponsel nya kulihat Ziyo ragu untuk menjawab nya.


Aku menatap wajahnya tanpa berkata apa-apa, tak tersirat pertanyaan siapa yang menelpon Ziyo.


Ziyo seperti tau maksud dari tatapan ku lalu Ziyo pun berkata kepada ku,


" Bella, yang..."


Aku mengangkat kedua bahu ku, saat Ziyo meminta persetujuan ku untuk mengangkat panggilan telepon dari Bella.


Dan saat Ziyo menggeser tombol hijau itu, ku alihkan pandangan ku kearah luar jendela di samping ku.


"Hallo..."jawab Ziyo.


Sesaat Ziyo terdiam mendengar kan suara di sebrang telepon sana. Ku lihat raut wajah nya seperti kesal, seketika rahang nya terlihat mengeras lalu terdengar Ziyo berkata,


"Gua rasa itu bukan urusan 'lo Bel...sadar diri dong 'lo bukan siapa-siapa gua...Jangan sok tau dan ngatur-ngatur hidup gua, ngerti!!!"


Ucap Ziyo dengan sedikit membentak, karena aku pun kaget mendengar Ziyo semarah itu.


Kontan saja aku, Gery dan Jimmy refleks memandang kearah Ziyo.


Meminta penjelasan apa yang saat itu Bella bicarakan kepada Ziyo, sehingga membuat Ziyo semarah itu.


Entah aku yang melankolis atau karena hormon kehamilan ku ini, tiba-tiba saja aku menangis. Dari yang hanya meneteskan airmata hingga aku menangis dengan sedikit terisak.


Mereka bertiga sontak saja kaget, begitu pun dengan Jimmy yang sedang mengendarai mobil tiba-tiba saja mengerem mobilnya.


Pandangan mereka semua tertuju kepada ku.


Apalagi Ziyo yang terlihat panik di buatnya.


Ziyo mendekatkan tubuhnya kepada ku, Lalu mendekap tubuh ku dengan Erat.