Natasha

Natasha
Gimmick...



***********


Salah seorang wartawan akhirnya bertanya kepada Ziyo, kapan jelas nya mereka berpacaran karena sebelum nya jelas-jelas Ziyo mempunyai seorang kekasih.


Pertanyaan itu seolah menghantam hati ku, kurasakan gelisah di hati ku, tiba -tiba saja aku menunduk tak kuasa aku tegakkan kepala ini, tapi tiba-tiba saja tangan Gery menggengam erat tanga ku seolah-olah memberi ku kekuatan.


Dengan yakin ku tegak kan kembali kepala ku, ku edar kan pandangan ku lurus ke depan hingga netra kami saling beradu.


Sebelum menjawab, lagi -lagi ku lihat drama yang memuakan itu, seolah lugu Bella menatap mesra ke arah Ziyo dengan tangan yang tak pernah ia lepaskan dari lengan Ziyo.


Sesaat Ziyo terdiam, kami saling pandang.


Begitu pun dengan ku, tatapan ku mengisyaratkan agar Ziyo tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi, lagi-lagi aku kalah karena tak lama ku dengar Ziyo mengatakan,


"Kurang lebih satu bulan yang lalu kami pacaran,"


Tanpa sadar airmata ku meluncur begitu saja.


Sakit rasanya hati ku mendengar kalimat itu walaupun hanya sekedar pura-pura.


Tanpa aba-aba ku lepaskan genggaman tangan Gery yang tak nyatanya tak sanggup memberikan ku kekuatan.


Kenyataan nya aku hancur, hanya aku yang di rugikan saat ini.


Dengan cepat ku langkahkan kaki ku dari ruangan ini, aku berlari meninggalkan tempat yang tak seharusnya aku datangi tadi.


Aku terus berjalan menjauhi tempat ini, tanpa tau kemana aku akan pergi, sambil terus menangis.


Kini aku sudah berada di tengah keramaian, cukup jauh aku berjalan dan airmata ku sudah kering.


Hati ku masih berkecambuk, aku masih ragu apa yang harus aku lakukan.


Sementara itu, kusadari tak ada Ziyo ataupun Gery yang berusaha mencegah kepergianku dan berusaha mengejarku.


Aku pesimis, dengan janji Ziyo yang hanya 2 bulan memainkan drama ini dan langsung membereskan kekacauan ini. Sedangkan apa yang sekarang terjadi, berusaha mencari ku pun tak ada.


Pikiran-pikiran negatif itu terus saja menghantui otak ku.


Aku lelah...


Kurasakan pegal di kaki ku, karena berjalan cukup jauh.


Ku dudukkan tubuh ku di bangku yang ada di dekat trotoar jalan ini, kuraih ponsel di dalam tas kecil ku.


Ternyata ada begitu banyak panggilan masuk dari Ziyo dan juga Gery.


Seketika aku tersenyum kilas, masih ada rasa khawatir dari kekasih ku.


Hingga tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan ku, aku hapal sekali pemilik mobil berwarna putih ini.


Ku lihat Vina sahabat di kampus ku membuka pintu mobil nya lalu berjalan menghampiri ku yang ku yakin wajah ku terlihat sangat kacau.


Hanya menatap ku pun kurasa Vina sudah merasakan kesedihan yang tersirat dari wajah ku, beberapa detik saling menatap kemudian Vina langsung memeluk tubuh ku erat.


Tanpa permisi lagi-lagi aku menangis, kali ini aku menangis penuh emosional tidak seperti tadi hanya menangis dalam diam.


Vina sudah membawa ku masuk ke dalam mobil nya, kami masih diam. Vina masih brlum bertanya masalah ku saat ini, dia paham betul akan situasi ku sebagai sahabat nya. Hingga tak lama kemudian kami sampai di depan halaman rumah mewah dengan pagar tinggi, tak lama seorang petugas keamanan di rumah Vina membukakan pintu gerbang agar mobil yang kami tumpangi bisa masuk.


Aku berjalan mengikuti Vina, hingga kami sampai di depan kamar di lantai atas. Sebelum masuk kamar Vina menyuruh asisten rumah tangga nya untuk membawa makanan dan minuman ke kamar nya.


Aku duduk di tepi ranjang dan mulai menceritakan sedetail-detailnya kepada Vina sambil terisak. Vina terlihat marah mendengar cerita ku. Tapi setelah mengetahui semua nya dengan lengkap ku lihat tatapan iba kepada ku.


Setelah semu nya membaik aku meminta Vina untuk mengantar ku pulang ke apartemen walaupun Vina meminta ku untuk menginap di rumahnya.


Ku pikir tak ada yang salah jika aku pulang ke apartemen ku sendiri, karena itu kan apartemen punya ku. Kalaupun ada hal buruk, bukan aku yang meninggalkan apartemen.


Vina hanya mengantar ku sampai parkiran, dengan sedikit terburu-buru aku langkahkan kaki ku masuk ke dalam gedung ini.


ku berjalan ke lorong kiri untuk masuk ke lift, ku tekan angka menuju lantai dimana letak apartemen ku.


Dengan hati-hati kudorong pintu apartemen ku, kusadari lampu-lampu menyala.


Apa dia disini?


Aku terus saja bermonolog dalam hati ku, hingga ku lihat sosok itu sedang duduk terdiam membisu menatap ku.


Ada perasaan senang melihat nya tetap pulang kepada ku tapi seketika rasa muak, jengkel dan kecewa tiba-tiba menguasai hayi ku.


Tubuh ku yang tadi nya ingin menghambur kedalam pelukan nya hanya diam membeku menatap balik matanya.


Hingga kemudian aku sadari, tubuh nya sudah berada tepat di depan ku.


tangan nya meraih pinggang ku, lalu membawa tubuh ku kedalam pelukan nya.


Aku diam tak ada respon balik dari tubuh ku.


Ingin aku berkata kasar, memaki kebodohannya, meneriaki keputusan nya dan mendorong jauh dari tubuh ku.


Tapi lagi-lagi otak dan tubuh ku tidak sama, yang ada aku malah terbuai dalam dekapan nya.


Ziyo membawaku ke ruang tamu, lalu dia mendudukan dirinya di sofa kemudian memangku tubuh ku.


Aku masih diam, tak ingin lagi bertanya dan tak ingin lagi mendengar.


Aku hanya terus diam sambil meneteskan airmata.


Ziyo kemudian memeluk tubuh ku sangat erat, lalu membisik kan kata nya lirih,


"Maaf...Maafin aku sayang"


"tolong percaya! aku akan membereskan semua kekecauan ini."


"Aku cinta sama kamu, ga mau yang lain,"


Suara nya bergetar, aku tau Ziyo pun menangis. Lalu ku balik kan tubuh ku berhadapan dengan Ziyo dan langsung saja ku peluk erat tubuh nya.


Ku putuskan untuk berdamai dengan keadaan ini, aku akan mencoba mengikuti alur drama yang akan mereka mainkan.


Untuk saat ini, aku tau Ziyo masih sangat mencintai ku tapi ada sedikit keraguan jika aku ingat dengan apa yang sudah Bella lakukan tanpa ada rasa bersalah kepada kami.


Yah, aku tau sandiwara baru saja di mulai,


aku pun ingin tau senatural apa peran yang akan di mainkan oleh Bella mengingat sesungguhnya dia benar-benar mencintai Ziyo.


Aku si pemeran utama yang seolah-olah di sembunyikan sementara oleh nya.


Harus mulai bisa membiasakan atau ikut bersandiwara.


Dan harus ku akui, aku merasa kalah.


Karena aku tidak bisa berakting senatural mereka.


Kita lihat saja, apa waktu yamg di janijkan selama dua bulan itu akan benar-benar kenyataan atau jangan-jangan mereka akan terlena kemudian nyaman dengan sandiwara ini.


Hanya Tuhan dan Author yang tau....


hahahaha....


🤗❤😘💜