
*************
Kami masih asyik bercengkrama sambil menonton tv dan tentu saja di temani dengan 2 cangkir kopi dan beberapa camilan.
Sesekali kami tertawa menyaksikan film bergenre komedi yang saat ini sedang kami saksikan.
Hingga tiba-tiba saja pintu apartemen ku terbuka, kupastikan itu adalah Ziyo.
Sontak saja pandangan kami tujukan kearah pintu masuk.
Ku lihat Ziyo berjalan dengan sedikit tergesa, ku lihat tak ada senyum di bibir nya.
Kami saling melirik, hingga tiba-tiba saja Ziyo menghampiri Gery yang duduk di sofa single,
setengah berlari Ziyo menghampiri Gery kemudian menduduki nya. Tangan mengapit kepala Gery hingga satu pukulan telak ia arah kan ke perut Gery, aku yang dari tadi terkejut kemudian mendengar Ziyo berkata,
"Sialan 'lo Ger'!!!! dasar temen kampret, berani-berani nya nyentuh milik gua,"
Sambil tangan nya terus saja mengapit kepala Gery, lalu pukulan bertubi-tubi di dapat kan Gery lagi.
Sambil terus tertawa, mereka masih saja belum melepaskan diri masing-masing seperti anak kecil yang sedang bercanda.
"ampun deh ampun..." serah Gery pada Ziyo.
Kemudian mereka kembali duduk di tempat masing-masing, Gery masih di sofa single yang sama sedangkan Ziyo berjalan menghampiri ku yang sedari tadi terpaku melihat tingkah mereka berdua.
Ziyo mendudukkan tubuhnya tepat di sampingku, ku geser ke samping tubuh ku menghadap Ziyo. Tubuh kami saling berhadapan dan dengan mata yang masih saling memandang. Ziyo meraih tubuh ku dan mendudukkan ku di pangkuan nya. Kemudian Ziyo memeluk pinggang ku erat sambil terus menghujani ku dengan ciuman nya.
Tak ada percakapan diantara kami, hanya bahasa tubuh ini yang berbicara.
"Ger'...kok belum pulang sih, ganggu tau," pinta Ziyo pada Gery.
"Udah malem woy...males gua sekali-kali nginep di sini boleh kali," jawab Gery acuh.
"Lagian kan besok cewek 'lo masih jadi pacar gue, iya ga 'Nat?" jelas nya sambil menoleh kepada ku.
"Iya boleh, masih ada kamar kan disini. Pake aja." sahut ku.
Tapi tangan Ziyo masih saja memeluk pinggang ku erat, dan masih saja menciumi ku sedari tadi.
Aku saja sudah mulai jengah di buat nya.
"Sayang udah dong!!! emang kamu ga mau mandi dulu gitu." tanya ku.
"Emang mau mandiin?" tanya nya enteng.
Saat aku akan menjawab nya kembali, tiba-tiba Gery memotong pembicaraan kami.
"Woy....masih ada gua ini. Ga kasian apa sama gua yang masih jomblo."
"Makanya cari pacar!" jawab Gery.
"Ngapain...pacar gua kan Natasha."
Jawab nya sambil tersenyum jahil.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua, kali ini aku duduk di sofa setelah berusaha menurunkan tubuh ku ke sofa agar terlepas dari Ziyo. Tapi tangan nya masih saja posesif merangkul leher ku.
"Tapi gua akui Ger'...akting 'lo benar-benar bikin Mama nya Bella percaya kalo kalian pacaran. Soalnya dari tadi terus aja ngomongin kalian." jelas Ziyo yang membuat aku dan Gery saling tatap tak percaya.
"Katanya kalian pasangan serasi lah, cocok lah, pokoknya terus aja di bagus-bagusin sampe gua kesel sendiri dengernya."
Aku semakin membulatkan mata ku mendengar penjelasan Ziyo.
"Itu kan yang mereka pengen Zi' bikin kamu cemburu dan mulai nyalah-nyalahin aku."gumam ku dalam hati.
Meskipun sekarang belum ke tahap menyalahkan aku, tapi aku yakin jika itu salah satu dari rencana mereka.
Sementara Ziyo pamit ke kamar mandi untuk membersihkan diri, aku yang sedang berada di dapur membersihkan dan mencuci peralatan yang tadi kami gunakan.
Ku lihat Gery keluar dari kamar nya, terlihat segar mungkin dia juga sudah mandi.
Sambil celingukan dan memastikan jika Ziyo sedang berada di dalam kamar ku.
Akhirnya Ziyo berjalan menghampiri ku, dia duduk di mini bar sambil membawa segelas air putih dan kemudian berkata,
"Gua yakin itu sengaja, biar Ziyo cemburu dan lama-lama mulai ga percaya sama 'lo Nat, "
"Fix ini mah mama nya Bella sekongkol sama anak nya."
Aku hanya diam.
Ada kekhawatiran dalam diri ku, dan sekarang aku malah jengkel terhadap Ziyo yang seolah-olah tidak merasakan maksud dan tujuan sendiri.
"Kok jadi 'lo yang cemberut sih 'Nat?"
"Kesel gue sama Ziyo,"
Setelah itu ku tinggalkan Gery sendirian di dapur, sedikit tergesa ku langkahkan kaki ku menuju kamar ku.
Setelah masuk Ku dengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, Ziyo masih di dalam.
Sebagai bentuk protes sengaja aku duduk di tepi ranjang dengan mata yang menelisik ke arah pintu kamar mandi.
Tak berapa lama, Ziyo keluar dengan badan yang hanya terlilit handuk.
Rambut nya terlihat masih basah hingga masih menetes ke badan nya.
Ziyo tersenyum sambil menghampiri ku,
kini ABS nya tepat berada di depan muka ku.
tangan nya menuntun kepala ku untuk menempel ke perut rata nya itu.
Aku malah di buat nya nyaman, lalu tanpa di sadari aku malah balik memeluk pinggang Ziyo. Rasanya sangat nyaman, rasa kesal pada Ziyo seolah menguap. Ku sadari aku tak bisa jauh-jauh dari nya.
Tapi mengingat apa yang saat ini terjadi aku menjadi semangat khawatir juga takut kehilangan Ziyo.
Menyadari kediaman ku, Ziyo kemudian duduk di samping ku.
Menggenggam erat tangan ku, sambil berkata,
"sayang...ada apa?" tanya nya lembut.
Di beri pertanyaan seperti itu oleh Ziyo malah membuat hati seperti teriris dada ku seakan sesak hingga akhirnya pertahanan ku tak bisa lagi aku bendung.
Aku menangis di depan Ziyo terus saja menangis tanpa berkata apa-apa.
Ziyo memeluk tubuh ku, membiarkan perasaan sedih ku membuncah hingga tak tersisa. Aku semakin terisak saat ku bayang kan Ziyo meninggalkan ku sendiri.
Aku di buat sedih oleh pikiran ku sendiri, aku malah makin terhanyut hingga tiba-tiba kurasakan kepala ku pusing dan tiba-tiba saja perut ku seakan mual.
Seketika tangisan ku berhenti lalu kepegang kepala ku kemudian menutup mulut ku menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam tenggorokan kan ku.
Aku berlari menuju toilet, memuntahkan semua rasa tak enak dalam mulut ku.
Kurasakan tangan hangat di tengkuk leher ku, mengusap-usap lembut.
Ziyo begitu khawatir, kemudian Ziyo mengusap pelan bibir ku.
Di bimbing nya aku menuju ranjang, lalu berjongkok di hadapan duduk ku.
Tangan nya mengusap lembut kepala ku, kemudian Ziyo berkata,
"Kamu sakit? aku anter ke dokter yuk!"
Aku hanya menggeleng kan kepala ku, aku hanya lelah dan sedikit banyak pikiran.
"Aku cuma capek," jawab ku singkat.
Ziyo kemudian berjalan kearah dapur membawakan ku se gelas air putih,
aku meminum nya kemudian ku tidurkan tubuhku di ranjang.
Ziyo tersenyum melihat tingkah manja ku, kemudian ikut berbaring di sampingku sambil memeluk tubuh ku.
Rasa nya nyaman sekali.
************