Natasha

Natasha
Kecewa



******


Sebenarnya aku merasa keheranan sendiri dengan situasi ini, perut ku selalu tiba-tiba merasa mual jika aku berpikir tentang Ziyo.


Seperti saat ini, saat aku dan Vani membahas tentang Ziyo. Atau tepat nya dari semalam saat aku pertama kali nya mengacuhkan semua tentang Ziyo.


Sekali lagi, apa ini karena aku yang sedang merajuk dan sebagai bentuk protes ku pada Ziyo atau memang bawaan calon anak nya.


Apa ada ngidam yang seperti ini???


Aku dan Vani kembali melanjutkan kegiatan bermalas-malasan hari ini, hingga tak terasa waktu berganti petang.


Saat Vani tengah bersiap-siap untuk pamit, terdengar suara deritan pintu sebagai tanda seseorang masuk dalam apartemen ku ini.


Ziyo benar-benar menepati janji nya pada ku.


Untuk sesegera mungkin bisa kembali pulang pada ku.


Harus nya aku senang dan biasa nya terlihat antusias dari wajah ku melihat kedatangan kekasih ku.


Tapi kali ini, kurasakan biasa saja. Saat Ziyo menghampiri ku dan memberi ku kecupan lembut dan kening juga bibir ku.


Apalagi saat tangan Ziyo mulai mengelus halus perut ku dan kemudian mencoba untuk mengecup jabang bayi yang ada di perutku.


Tiba-tiba saja perut ku terasa mual dan ku coba melepaskan tangan Ziyo yang masih menyentuh perut ku.


"Ada apa sayang?" tanya Ziyo dengan penuh kecemasan.


Aku hanya bisa melangkah cepat ke arah wastafel yang berada di dapur.


Kemudian ku muntah kan kembali sesuatu yang terus mendorong-dorong yang ada di tenggorokan ku.


Ziyo kembali mengelus-elus pundak ku lembut, sambil membenahi sebagian rambut yang menutupi wajah ku.


Hingga ku sudahi saja acara mual dan muntah saat itu.


Ziyo menuntun ku kembali ke sofa, memeluk tubuh ku yang terlihat lemas.


"Apa dari tadi seperti ini?" tanya nya.


Aku menggeleng kan kepala ku.


"Tiap kali Deket kamu aku itu selalu saja merasa mual."


"Mungkin bayi ini ga suka sama kamu."


lanjut ku sekena nya.


Mendengar jawaban ku ku lihat Ziyo membenahi duduk nya dengan sedikit terkejut dengan kalimat ku.


"Gimana bisa dia ga suka, aku kan papa nya!"


Jawab Ziyo sedikit serius.


"Papa darimana, nikah aja ga pernah kamu bahas-bahas." jawab ku penuh penekanan.


Mendengar penjelasan ku Ziyo tak bereaksi apapun.


Kecewa yang kurasakan semakin menjadi saat Ziyo berkata,


"Apa sepenting itu pernikahan buat kamu?Apa semua ini belum cukup bukti buat kamu?"


Tanpa sadar wajah ku sudah basah oleh air mata yang terus saja mengalir.


Terasa sakit sekali hati ini, sungguh aku tak pernah sedikit pun menyangka Ziyo akan berkata seperti itu.


Aku berlari ke arah kamar dan ku hempaskan tubuh ku ke atas ranjang.


Aku menangis sejadi-jadinya.


********


Sementara di ruangan lainnya, Ziyo kini sedang terduduk dengan wajah yang terlihat kalut. Di balkon apartemen Ziyo kini berada.


Dia terduduk diam seperti patung, hanya helaan nafas yang berat itu yang terdengar.


Sesekali Ziyo mengusap kasar wajah nya.


Sekilas Ziyo teringat akan ucapan yang ia katakan pada Natasha, wanita yang sangat ia cintai dan juga ibu dari calon bayinya.


Bukan nya tanpa sebab Ziyo berkata seperti itu, bukan pula dia tak berencana untuk menikahi kekasih nya. Hanya saja, saat ini Ziyo tengah berada dalam situasi sulit.


Sebagai seorang selebriti yang karier nya tengah menanjak, baginya mempertahankan image salah satu faktor yang utama.


Bukan juga Ziyo tak peduli dengan tangisan yang saat ini ia dengar dari arah kamar.


Ya...tangisan wanita yang ia cintai terdengar begitu sedih. Bahkan mengiris-iris hatinya saat ini. Tapi apalah daya, Ziyo tak berani untuk sekedar menenangkan nya.


Mungkin tangisan bisa sedikit mengobati dan mengurangi rasa sakit pikir Ziyo.


Hingga beberapa lama kemudian terdengar hening dari dalam kamar,


"Mungkin dia sudah tertidur," gumam Ziyo.


Lalu tanpa banyak pertimbangan lagi Ziyo berjalan menuju kamar yang biasa mereka tempati.


Terlihat tubuh yang meringkuk layak nya bayi.


Dengan satu tangan yang masih menutupi sebagian dari wajah nya.


Ziyo mendudukan tubuh nya di samping tempat tidur, mengulurkan tangan nya untuk membelai sayang kekasihnya itu.


Lalu mengusap pelan perut yang masih terlihat rata itu. Dan tiba-tiba saja tetesan air mata yang Ziyo tahan sedari tadi meluncur begitu saja.


Menyesal???


Jelas saja Ziyo menyesali semua yang telah dia ucap kan. Kekasih nya saat ini begitu sensitif, bahkan berdekatan dengan nya pun membuat nya tak nyaman.


Ziyo tau apa yang biasa wanita hamil alami, tapi hanya sebatas mengidam-idamkan makanan dan sejenis nya saja.


Tak termasuk ini, merasa mual dan ingin muntah jika dia berada di dekat ibu dan calon anaknya.


***********


Tak terasa pagi pun datang, suara alarm di ponsel membuat Natasha beberapa kali mengerjap kan matanya.


Saat ingin bangun, Natasha merasakan pelukan yang begitu erat di perut nya.


Dengan malas ia singkirkan perlahan tangan Ziyo. Tapi lagi-lagi pelukan nya malah semakin erat.


Tanpa menyerah Natasha kembali menyingkirkan tangan Ziyo lagi.


"Mau kemana sih yang?" tanya Ziyo dengan suara serak khas orang yang baru saja terbangun.


"Bukan urusan kamu." jawab nya ketus.


Ziyo terbangun lalu didekap nya mesra tubuh wanita nya.


Seperti terhipnotis tubuh yang tadinya berontak kini mulai tenang, hingga Natasha dengan sendirinya menyenderkan kepala nya pada tubuh Ziyo.


Ziyo tersenyum, sambil mengelus lembut kepalanya Ziyo berkata,


"Maaf...bukan begitu maksud ku. Hanya saja aku salah menyampaikan apa yang ada di hati dan pikiran ku."


"Aku nyesel udah bikin kamu dan calon bayi kita nangis."


Natasha hanya mengangguk tanpa ada kata yang ia ucapkan.


Di satu sisi itu adalah kebahagian yang ia dapatkan pagi ini.


Tapi di sisi lain, jauh di lubuk hatinya masih saja tersimpan rasa kecewa yang mendalam.


Bagi nya laki-laki itu bukan hanya perbuatan nya saja yang di butuhkan sebagai bentuk tanggung jawab.


Perkataan nya pun sangat di butuhkan untuk menenangkan hati nya saat ini.


Bukan seperti itu yang ia inginkan, terkadang kata-kata manis yang mungkin terdengar gombal oleh orang lain bisa seperti pujian yang membuat nya melayang.


Kecewa yang ia rasakan seperti menjadi saat ini, Mungkin kah hanya ia yang akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidup Ziyo.


Sedangkan drama yang saat ini terjadi pun, tak bisa Ziyo selesai kan secepatnya.


Kecewa mungkin mengalahkan hati yang terlanjur mencintai.


Atau mungkin hati yang terlanjur kecewa mengalahkan cinta itu sendiri.


********


😘❤️✌️💜