
Flasback ON
"Langit? Lo mau gak?"
Langit hanya menggelengkan kepalanya. Perempuan itupun mengerucutkan bibirnya kesal karena tawarannya ditolak.
"Ayolah lang, mau ya? Ini enak kok." Ucap perempuan itu sembari bersiap menyuapi Langit Sepotong bakso
"Gak." Ucap Langit datar sambil sibuk memainkan benda persegi panjang
"Langit! Lo bisa gak sih sedikit pengertian ke gue?" Ucap perempuan itu sambil bangkit dan menyambar ponsel Langit
"Keysa!" Bentak Langit sambil menggeprak meja
Perempuan dipanggil Keysa itupun mulai berkaca-kaca, lalu melempar ponsel Langit yang ada digenggamannya ke lantai.
"Maaf key, kita lebih baik putus." Ucap Langit meninggalkan Keysa
Flasback OFF
"Keysa adalah adik gue, dan lo udah buat dia frustasi sekarang!" Kata Arlan sembari mendekati Langit
"Bukannya lo juga pernah buat Sesey nangis?" Ucap Langit yang juga mendekati Arlan hingga jarak antara keduanya hanya terpaut beberapa senti
Arlan tertawa "Jadi karena cewek cupu itu lo sakitin ade gue?"
"Jangan pernah panggil Sesey Cupu!" Ucap Langit Memegang erat Kerah Arlan
"Dia memang cupu! Pastinya ade gue jauh lebih baik dari cewek cengeng itu." Ucap Arlan sembari menaikan satu sudut bibirnya
"Sialan!" Langit mengumpat, lalu melayangkan tinjuan ke wajah Arlan
"******!" Kali ini Langit yang terkena baku hantam
"Keluar!" Teriak Arlan
Membuat Kelompok Langit terkepung.
"Anj-."
****
Dikelas, Senja dan Lia terus khawatir akan keadaan Langit dan Arif. Mereka tak fokus mengikuti pelajaran di jam terakhir.
"Permisi pak." Ucap Arkan membuyarkan fokus semua murid
"Ada apa Arkan?"
"...."
Pertemuan Pak Surya dan Arkan semakin membuat jantung Senja dan Lia berdegub kencang.
"Duh, kenapa sih kak Arkan lo itu gak ngomong depan kita aja?" Kata Lia kesal
"Lia, lo bisa tenang gak? Dari tadi kaki lo geter." Kesal Senja
"Ih kok lo malah bahas kaki gue."
"Turunin dulu kaki lo."
Setelah itu Pak Surya kembali, lalu mengumumkan sesuatu yang membuat semua murid kelas X MIPA 4 kegirangan, kecuali Senja dan Lia.
"Loh pak? Emangnya ada apa?" Tanya Senja
"Heh! Udahlah gak usah banyak tanya." Ucap Tiara si pentolan kelas MIPA
Senja berdecak kesal karena yang menjawab pertanyaannya Tiara bukan pak Surya.
"Senja? Mending sekarang kita cari kak Arkan." Tanya Lia
"Kak Arkan?"Ucap Senja mengernyitkan dahinya heran
"I.. iya, kan lo juga pasti khawatir sama Langit."
"Hm, eng.. gak, ka.. kata siapa ih?" Ucap Senja gugup
"Udah deh, ayok kita ke kak Arkan!" Ucap Lia menarik pergelangan tangan Senja
"Li, gue belum beres ini." Sambil membereskan buku-bukunya kedalam tas
"Yok!"
Senja dan Lia pun menghampiri kelas Arkan, namun Arkan tidak ada dikelasnya.
"Duh, senja! Kak Arkan kok gak ada yaa?"
"Masa?"
"Iya liat aja tuh."
Senja mendongakan wajahnya ke jendela dan benar, yang di cari tidak ada. Saat Senja dan Lia tengah menghembuskan nafas kasar, seseorang datang mengagetkan.
"Kalian ngapain disini?" Tanya Arkan
"Lah, ini yang kita cari." Ucap Lia sedikit kesal
"Nyari gue?" Arkan menunjuk dirinya sendiri
"Eh iya ka, ini gue sama Lia mau tanya soal tadi, kakak ngapain sama pak Surya?" Ucap Senja sopan
"Pak Surya, dia ada panggilan ke sekolah SMA Negeri 45 Jakarta."
Senja dan Lia hanya diam mendengarkan.
Arkan melanjutkan. "Langit dan teman-temannya buat keributan disana."
Senja mematung, sedangkan Lia semakin cemas dengan keadaan Arif. Arkan hanya menatap bingung, mengapa Senja menanyakan soal ini?
****
Sudah ada para guru yang sebagian kecil dari sekolah SMA Tirta bangsa dan sebagian besar dari sekolah SMA 45 Jakarta. Tawuran yang terjadi cukup menguras tenaga guru-guru SMA 45 Jakarta, pasalnya sampai 1 jam lebih Tawuran itu baru bisa dibubarkan.
"Kalian adalah penerus bangsa ini! Apa gunanya tawuran?! Kalau pada akhirnya kalian sendiri yang merasakan sakit!."
"Dan kamu Arlan! Kamu sudah sering membuat onar dan kali ini tidak ada toleransi lagi, Kamu kami Drop Out dari sekolah ini." Ucap kepala sekolah yang terlihat kewalahan menangani ini
Semua yang mendengar itu sangat kanget. Bagaimana tidak? Arlan di DO dihadapan para murid dari sekolah lain. Arlan bahkan tak peduli dengan apa yang diucapkan kepala sekolah tersebut, ia bahkan tak ada rasa sedih ataupun kecewa. Malah ia menatap Langit dengan mengangkat satu sudut bibirnya.
"Ini kesempatan untuk menghancurkan lo, Langit br*ngs*k!" Batin Arlan kesal