
Hari ini dengan langit mendung, sekolah
SMA Tirta Bangsa mengadakan pemilihan ketua OSIS. Sudah ada 3 murid pilihan terbaik dengan visi dan misi masing-masing.
"Inilah ketiga calon ketua osis SMA Tirta Bangsa. Beri tepuk tangan yang gemuruh." Ucap Pak Bambang
"Huh!! Arkan! Arkan!" Teriak beberapa siswi
"Irfan! Irfan!"
"Kyla! Kyla!"
Mereka bersemangat, sebab ketiga murid yang ada dipodium adalah most wanted, tak dihiraukan lagi kemampuannya dalam bidang apapun. Apalagi ketiganya selalu mengikuti olimpiade dan memenangkannya.
"Senja, lo milih siapa?" Tanya Liani
"Eum.. gue.." jawab Senja gugup
"Pasti lo milih kak Arkan kan?"
"Eh.. enggak Li, gue.." ucapnya salting
"Udah deh jujur sama gue." Sambil menabrakan sikunya ke Senja
"Ih Lia, udah ah." Ucap Senja sambil melepas topinya
Setelah itu, mereka yang bertugas didepan menghitung. Kyla tertinggal jauh, sedangkan Arkan dan Irfan berskor sama. Dan satu kertas lagi belum dibuka.
"Wah, saya sudah tau siapa yang akan menjadi ketua osis." Ucap Pak Bambang membuat semua murid kesal
"Pak ayo dong, cepet kasih tau. Bentar lagi hujan nih."
"Iya. Iyaa. Ketua osis tahun ini adalah..."
Semua terdiam, dan mulai menyiapkan diri.
"Ar.. kan ..!"
"Yey, Huh! Arkan!!!!"
Semuanya teriak kegirangan, pasalnya Arkan memang memiliki wajah tampan dan kepintarannya juga lebih dari Irfan. Setelah pengumuman itu, terlihat 4 orang yang baru saja datang dan berjejer didepan.
"Senja, liat! Mereka lagi! Apa mereka gak bosen ya dihukum terus?" Tanyanya pada Senja
"Udah ah, bodoamat yang penting kan Kak Ar.. ups." Ucap senja sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Nah kan, bener, lo suka kan sama kak Arkan." Ucap Lia sambil menunjuk wajah senja
"Ah enggak gitu Li, gue tuh, ah udah ah masuk yu." Ucap Senja Salting
Sementara itu, mereka ber 4 terkena tegur lagi.
"Bagusss! Bagus ya kalian!..." Ucap Pak Surya
"Pak? Alhamdulillah kalo kita bagus, padahal kita telat lagi lo pak!" Kata Eri sambil sujud syukur
"Eh Eri! Bangun kamu! Saya belum selesai bicara!"
"Hah?" Ucap Eri sambil mendongak ke atas
"Eh ri, lo apaan-apaan sih! Diem gak!" Kata Arif
"Ehm.. iya deh iyaa." Ucap Eri melengkungkan senyumnya kebawah
"Saya tanya! Ini sudah ke berapa kali kalian telat?"
"Sudah 1, 2, 3, 4... ah 6 pak.. eh bukan, bukan.. berapa yaa?" Kata Eri lagi
"Eri!!" Teriak Arif dan Falah
"7 pak." Ucap Langit datar
"Bagus kalau kalian tau! Baik, bersihkan toilet wanita sekarang juga!" Ucap Pak Surya
"Hah?!!" Arif, Eri dan Falah kaget, sedangkan Langit masih dengan wajah datarnya dan pak Surya mengorek telinganya
"Berisik!! Eri, Falah, kalian toilet laki-laki. Arif dan Langit bersihkan taman..."
"Iyaaa pak, ini gak fer." Kata Eri
"Kalian berdua mau berganti posisi? Setelah taman, kalian bergegas membersihkan toilet guru."
"Eh enggak deh pak, gak jadi. Yuk ri." Ajak Falah
"Tapi kan lah..."
Falah dan Eri berlari meninggalkan mereka bertiga.
"Sudah sana!" Usir pak Surya
****
Langit dan Arif pun pergi ke taman depan kelas X MIPA 4. Arif yang sedari tadi mengoceh, sedangkan Langit menyapu sembari menyumpal kedua telinganya dengan earphone.
"Parah banget pak Bambang, masa kita suruh bersihin taman sekotor ini, sama toilet guru juga apaan-apaan. Lang lo..." melirik kebelakang, melihat Langit menggunakan earphone, Arif berdecak.
"Ck, gue lupa kalo lagi ngomong sama es." Kembali melanjutkan kegiatannya.
Sementara itu, dikelas Senja dan Lia berbincang-bincang mengenai ekstrakulikuler yang akan mereka pilih.
"Sen, lo mau pilih apa nih?" Tanya Lia sembari menatap ke arah formulir
"Senja!!!" Lia menaikkan oktaf suaranya, karena Senja tak menanggapi dan malah sibuk dengan ponselnya
"Eh iya, kenapa?"
"Nih lo mau eskul apa?" Tanya Lia, namun senja masih sibuk dengan ponselnya, kali ini sambil tersenyum-senyum
"Lo lagi liat apa sih?" Tanya Lia sembari menyambar ponsel Senja
"Siniin, Li, balikin." Namun Lia tak peduli, ia pun lari keluar kelas
Kelas X MIPA 4 sedang free, karena bu Nuva tidak masuk. Lia dan Senja berlarian bebas ditaman, mereka bahkan tak peduli ada Arif dan Langit yang tengah menyapu.
"Balikin, ih Lia lo apa-apaan sih." Ucap Senja sambil ngos-ngosan akibat berlari
Bruukkk...
"Aww." Lia meringis kesakitan, sedangkan ponsel yang dipegang Lia terpental lalu mendarat ke ujung sepatu Langit
"Lia! lo gak apa-apa?" Ucap Senja berlari menghampiri Lia yang terduduk ditanah
"Kaki gue.." terdapat luka dilutut Lia dan sedikit membiru dibagian mata kaki
Setelah memungut ponsel Senja, Langit melihat sebuah foto benda yang menjadi wallpaper ponsel Senja dan itu tak asing baginya.
"Eh siniin!" Sambil menyambar ponselnya dari tangan Langit
Langit tak menghiraukan, dan melanjutkan aktivitasnya kembali.
"Eh kalian gak liat? Temen gue kesakitan disana! Bantuin!"
"Eh ada apa nona?" Tanya Arif genit
"Ih lo apaan sih, itu cepetan lo bantuin temen gue."
"Eh yaudah ayo."
Arif pun menggendong Lia ala bridal style. Senja berjalan mendahului, sedangkan Langit berjalan mengekori mereka, seperti biasa, santai dan dengan dua tangan yang ditenggelamkan di saku celana. Mereka pun sampai di UKS.
"Eum.. makasih yaa." Ucap Lia pada Arif
Arif hanya membatu mendengar itu, ia hanya fokus pada wajah Lia yang menurutnya manis.
"Hello!" Ucap senja membuyarkan Arif yang terpesona
"Aaa. Iyaa, lo bilang apa tadi?" Tanya Arif kebingungan
"Dia bilang makasih. Udah sana!" Usir Senja
"Heh! gue juga mau pergi, yuk lang." Arif pun pergi bersama Langit yang berdiri diambang pintu UKS
"Lang? Apa dia Elang? Ah gak mungkin."-batin Senja bertanya-tanya