MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 25



Bagi Army, pasti tau lagu 🎶Seok Jin -EPIPHANY🎶


Baca part ini sembari denger lagu Jin, pas banget😂


****


Bug


Pintu loker itu di tutup dengan kerasnya. Gadis itu tetap memperlihatkan wajah ketusnya, sehingga seseorang itu terus membujuknya agar ia tak lagi marah.


Mereka berlari kecil, marahnya gadis itu membuatnya terus bermimik jahat.


Lapangan, mereka berjalan cepat menuju lapangan. Terdapat beberapa murid yang siap untuk berolahraga. Mata-mata yang awalnya mengarah ke segala penjuru, kini terfokus hanya pada dua orang gadis yang berada di tengah lapangan itu.


"Lia!" Ia meraih pergelangan tangan Liani.


Lia refleks berhenti dan menoleh ke belakang "Senja lepas!" Dengan sedikit berteriak.


Senja tertegun. Lia termasuk orang terkasihnya. Dan kini ia membentaknya, sama seperti sebelum-sebelumnya, jika ia dibentak orang tersayangnya, secara langsung hatinya akan teriris.


Ya, semua ini salah ayahnya. Sebab ayahnya yang membuatnya seperti ini, beliau selalu saja membentak, membentak, membentak. Itu yang membuatnya trauma jika orang terdekatnya membentak.


Tentu air matanya kembali turun "Lia!" Panggil kekasihnya


Lia menatap Arif yang berlari menghampirinya. Bukan hanya Arif, namun teman-temannya yang lain. Mereka ada karena setiap pelajaran ini, kelas dengan satuan yang sama maka akan di gabung. Berlaku untuk setiap kelas.


"Arif,"


"Eum.." Lalu ia menatap sendu Senja yang menangis


"Eh Senja.. Jangan nangis, maafin gue, gue lakuin ini karena gue mau buat lo sadar. Ka.. kalau masih ada gue yang sayang sama lo." Sambil memegang erat jari-jari Senja


Mata Senja berbinar, "Hiks.. beneran Li?"


"I.. iya, beneran." Lia mengusap air mata Senja.


Senja tertawa dan memeluk sahabatnya itu dengan erat "Mau juga dong." Kata lelaki itu merentangkan tangannya. Arif? Bukan. Falah? Bukan juga. Langit? Apalagi dia, bukan. Wkwk


Ya, dia Eri. Oh lelaki ini. Dia memang lahir di zaman zahiliah. Arif, kekasih dari Lia ini menahan temannya yang hendak mendekat kepada gadis yang sedang berpelukan itu.


"Eh.. eh. Apa-apaan lo ri? Cewek gue ini." Kali ini Arif yang mencoba untuk memeluk kedua gadis itu


Falah dan Eri, tanpa disuruh mereka langsung melaksanakan tugasnya. "Gak lo juga!"


Senja dan Lia tertawa melihat itu. Lia menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Senja terarah untuk menatap Langit yang tersenyum manis ke arahnya.


Deg


Lagi-lagi ia merasakan itu. Sebenarnya Arkan atau Langit? Ia pun tak tahu soal itu. Yang jelas, ia tak ingin Arkan pergi, juga tak ingin kehilangan Langit. Perasaan apa ini?


****


Caffe Human's


Mereka terhenti di caffe itu. Duduk berhadapan, hanya berduaan. "Ar.. mau pesen apa?" Tanya oppi


"Lo aja."


"Loh, kok gitu? Gue pesenin ya? Gimana kalau Vanilla latte? Lo suka kan?"


"Atau, lo mau brownies?" Lanjutnya terus membujuk Arkan


"Pi, gue gak mau. Lo aja." Katanya tak sedikitpun melirik Oppi


Oppi melengkungkan bibirnya ke bawah. "Yaudah kalau gitu gue juga gak mau pesen."


Arkan memutar bola matanya malas. "Buang-buang waktu." Sembari bangkit dan pergi begitu saja


Tentunya Oppi menahan langkah Arkan. Arkan menghela nafas dan menutup matanya, lalu membukanya lagi. "Pi, minggir!"


"Gak mau, sebelum lo mau makan sama gue,"


"Gue sibuk pi."


"Sibuk apa Ar? Bukannya tadi lo janji mau ke caffe sama gue?"


"Kak Arkan?" Refleks keduanya menoleh ke sumber suara


Oppi memasang wajah bingung, siapa gadis imut ini? "Siapa lo?" Tanyanya ketus


"Oppi!" Tegur Arkan


"Hm, maaf.. Risa? Kamu ngapain disini?" Tanya Arkan sopan


"Ini aku abis kerja kelompok.."


Arkan berdehem ria.


Risa tak henti-hentinya menatap Gadis yang ada di belakang Arkan. "Risa? Aku duluan ya?" Pamit temannya


"Ar? Udah belum? Kita pulang yuk?" Ajak Oppi


"Eum, Oppi lo bisa pulang sendiri? Gue ada urusan sama Risa."


"Aa.. aku?" Tanya Risa kepada Arkan


Arkan hanya mengedipkan mata.


"Loh? Ar- tapi?," Oppi tak bisa berkata-kata lagi


Arkan menarik pergelangan tangan Risa, lalu benar-benar meninggalkan gadis menyebalkan itu. "Arkan!!" Teriakan Oppi ini terdengar oleh seantero Caffe bahkan sampai ke lingkungan sekitarnya. Risa hanya menurut, menyerahkan lelaki yang tengah memegang tangannya itu membawanya kemana pun.


****


"Kali-kali lo makan es krim, enak kok." Kata Lia sembari mendudukan diri di bangku taman


"Lo mau tau kenapa gue gak suka es krim?" Kata Senja yang juga duduk disebelah Lia


Ia tertarik untuk mendengar. "Eum.. mau-mau."


"Jadi gini..."


Flashback ON


Umurnya masih sekitar 7 tahunan, Ia duduk di depan sekolah SDN nya dulu di Bandung. Sembari menunggu bundanya datang menjemput, ia pun membeli es krim.


Tanpa berpikir sedikit pun, anak laki-laki itu menyambar es krim milik Senja. "Siniin.. Rian." Sembari mengejar dan meraih es krim yang dijunjung tinggi oleh anak bernama Rian itu


"Apa? kamu mau ini?"


"Haha.. dasar pendek." Teriak anak-anak yang lain


"Rian, siniin. Itu punya Sesey."


"Nih." Katanya sambil memberikan es krim itu. Alih-alih Senja mengambil, lelaki itu malah menaruh es krim itu di wajah Senja. Kini wajahnya lengket karena es krim dan basah karena air mata.


"Dasar cengeng, haha.." teriak anak-anak yang lain


"Hiks.. Bunda.."


Flashback OFF


Liani Viona Arnita. Gadis itu malah tertawa. "Ha ha ha." Yaampun teman laknat memang


"Lia! Kok lo malah ketawa sih? Gak ada yang lucu tau!" Senja merajuk


"Haha.. sorry, sorry. Gue kebawa suasana nih." Katanya sembari memakan es krim dalam cup


Senja terlihat kesal. Bukannya mendukung, sahabatnya itu malah menertawakan nasibnya. "Gue ketawa karena lo lucu sih, masa gitu aja kalah.."


"Harusnya lo lawan aja tuh anak-anak tengil. Kan jadinya sahabat gue ini trauma makan es krim.."


"Eh tapi lo gak lupa kan sama rasa dan tekstur es krim itu gimana? Tanyanya


"Jujur, gue lupa Li. Apa seenak itu ya?" Tanya Senja. wajar saja ia lupa, dalam 8 tahun ini ia tak pernah memakan makanan manis dan dingin itu


"Duh Senja. Ya enak lah. Ini salah satu makanan yang bisa buat mood balik."


"Masa? Ah, tapi gue gak peduli. Gue punya pisang."


"Ih. Lo ya, udah kaya..." sebelum ia meneruskan kalimatnya, Senja menatapnya tajam


"Kaya apa, hah?"


"Enggak jadi deh. Hehe." Ucap Lia nyegir


Dari kejauhan..


Ponselnya memperlihatkan gambar seorang lelaki dengan seorang gadis yang tengah memegang bunga. Gambar itu sangat manis. Tapi membuat muak gadis pemilik ponsel itu. "Jadi dia orangnya?" Tanyanya sembari mencocokan foto dan wujud aslinya


"Eum, iya bener. Itu orangnya."


Gadis itu tertawa sinis. "Cantikan gue kemana-mana."


"Mau diapain tuh anak?"


"Gue punya ide."


Mereka turun dari mobil setelah menyetujui ide yang di paparkan gadis itu. Cantik, sexy, body goals itu yang mendeskripsikan mereka bertiga. Belum lagi seragam yang mereka pakai bukan dari sekolah biasa, melainkan dari sekolah terkenal, yang tidak sembarang orang bisa masuk sekolah tersebut.


Mereka berdiri disamping mobil mewahnya. Gadis yang berdiri di tengah seakan akan siap untuk menerkam.


****


Wah siapa ya kira-kira?


Terus siapa yang jadi mangsanya?