
Senja dan Risa sudah siap dengan tas ranselnya. Masing-masing dari mereka telah menggunakan jaket, berbeda dengan Risa yang berseri-seri, Senja justru sedih dan pikirannya melayang entah kemana.
Suara motor ninja terdengar makin dekat. "Senja, Risa, itu Arkan sama Langit di depan." teriak ibundanya.
Risa berbinar. "Ayo kak!" ajak Risa. Namun Senja masih terdiam melamun.
"KAK!" seru Risa dan itu sukses membuat Senja terlonjak.
"Ish! Apa sih dek?"
"Makanya jangan melamun, kak. Itu ada pacar di depan!" tutur Risa.
"Kak Arkan?"
Risa memutar bola matanya malas. "Iya, lah. Siapa lagi? Kak Langit?"
Deg
Senja seperti merasakan terpaan angin ringan, apa maksud Risa?
"Makin ngaco kamu. Ayo!" Sembari mencolek batang hidung Risa.
Senja dan Risa pun turun untuk menemui para lelaki pujaan. Ternyata mereka tengah bercakap-cakap dengan bunda Gina, Arkan dan Langit, kedua laki-laki itu sangat menawan dengan jaket yang terpasang di masing-masing tubuh kekarnya itu. Bunda Gina menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian tuh, ya? Jangan suka buat dua laki-laki ganteng ini nunggu!" seru bunda Gina.
Arkan terkekeh kecil mendengar pernyataan itu.
"Ya ampun bunda, bukan aku. Tapi ini nih kak Senja." tegas Risa.
Yang disebut hanya diam dan masih memasang muka datar. "Udah, nanti bunda ganti, ya?" tanyanya.
"Hm, gak usah bun."
Ini sangat mengulur-ngulur waktu. Risa pun menghentikan drama dari kedua wanita dekatnya itu. "Bun, udahan dulu, ya? Kak? Ayo nanti kesiangan!"
Senja menghela nafas. "Hm, kita tinggal dulu ya bun?"
"Iya, kalian hati-hati."
****
Langit sebenarnya sudah muak berlama-lama di dekat mereka, namun apalah daya, daripada tak berlibur bersama dengan gadis kesukaannya, lebih baik begini. Mengapa motor kakak tirinya itu malah di depan? Membuat suasana hatinya semakin hancur.
"Risaa," panggil Langit.
"Iya kak!" sahut Risa.
"Pegangan!" titah Langit. "Hah? Apa kak?" tanya Risa, suara mesin motor ninja itu sungguh bising, membuat telinga Risa juga dipenuhi bunyi motor itu.
"Pegangan!" perintahnya lagi.
Langit pun mempercepat laju motornya dan mendahului sepasang kekasih itu.
Arkan dan Senja hanya memandang punggung kedua adik-adik mereka.
Tujuan touring kali ini adalah Little Venice Puncak. Karena itu tempat rekreasi yang dekat, mengingat Arkan tidak boleh terlalu capek, akhirnya puncak menjadi sasaran mereka.
Sudah satu jam lebih mereka dalam perjalanan. Hotel yang terletak di Kota Bunga itu pun terlihat. Akhirnya mereka mampir untuk memesan kamar. Arkan dan Langit satu kamar, sedangkan Senja dan Risa. Karena tak ingin kedua gadis itu curiga, akhirnya Langit bersedia untuk satu kamar dengan kakak tirinya itu.
"Yaudah, kalau gitu kita mau taruh tas dulu ya, kak." ujar Risa.
Arkan berdeham. Risa dan Senja berlalu, tertinggal Langit yang menatap Arkan tajam, lalu berjalan menuju kamarnya.
"Gue mohon kerja samanya kali ini, Lang!" seru Arkan.
Langit yang tengah sibuk menaruh barangnya itu pun menoleh. "Gue lakuin ini demi mama dan demi mereka!"
"Sampai kapan lo gini? Seharusnya lo mikir, mama sama papa setiap hari mikirin lo, Lang!"
Langit meneguk. "Mama sama papa sampai capek mikirin gimana caranya supaya lo percaya kalau papa gak seperti yang lo kira." sambung Arkan.
"Jangan pernah bahas itu disini!" tukas Langit.
Arkan menghampiri Langit. "Gue cuma mau lo sadar!" bisik Arkan sembari menepuk bahu adik tirinya itu.
Langit hanya menatap kepergian Arkan dengan tatapan bingung. Di kepalanya hanyalah "mama sama papa setiap hari mikirin lo, Lang!"
****
Lagi-lagi Arkan dan Senja membelakangi Langit. Mereka berjalan santai dihadapan Langit dan Risa. Sungguh, ini pemandangan yang memilukan.
"Senja?" panggil Arkan.
Senja hanya melirik. "Kenapa diem aja? Ada masalah?" tanya Arkan penasaran.
"Dan.. apa maksud bunda tadi? Gantiin apa?"
"Oh, hm.. kamera pemberian nenek gak ada kak, aku gak tahu kemana." tutur Senja.
"Loh, kok bisa?"
"Waktu kakak pingsan, aku gak sengaja jatuhin kamera itu dan ya udah hilang gitu aja," terang Senja.
Arkan merasa bersalah. "Kalau gitu kakak ganti aja gimana?"
Senja menggeleng pelan. "Ini bukan salah kakak, kok."
Tetap saja, seorang Arkan akan melakukan apapun untuk membuat gadis cantiknya kembali ceria. "Gimana kalau kita naik gondola?" tanya Arkan.
Senja menoleh ke arah gondola yang sedang di naiki penumpang lain. Senja tersenyum tipis. "Ayo, kak."
Akhirnya, terukir senyum lagi di wajah manisnya.
Langit tak ingin kalah, ia pun mengajak Risa untuk menaiki gondola di Little Venile tersebut. Sedikit informasi, kawasan ini terdapat danau buatan yang dirancang dengan arsitektur semirip mungkin layaknya kota Venesia di Italia.
Dan Gondola sendiri adalah semacam perahu. Tergantung hasrat, kalian bisa mendayung sendiri atau meminta petugas mendayung.
Arkan mendayung gondola itu sendiri. Bertujuan ingin beromantis-romantisan dengan gadisnya. "Lihat kak! Bagus banget," ucap Senja sembari menunjuk langit yang biru.
"Iya cerah, ya?" tanya Arkan kecut.
"I.. iya." Senja merasa bersalah, tak seharusnya ia menunjuk langit. Namun bukan langit, ia menunjuk awan.
Langit mendayung untuk Risa. Ia mendekat dekatkan gondalanya ke arah gondala yang di naiki Arkan dan Senja.
Bruk
Kedua gondala itu terguncang. Senja memegang kedua sisi perahu, bertujuan menyeimbangkan. Bukannya marah, Senja malah menatap dalam wajah dingin Langit yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
Sepertinya dugaannya salah, Langit yang ini malah terlihat mendung. Begitupun benak Langit, Senja terus murung karena kamera yang ada di dirinya.
****
Arkan mencipratkan air ke wajah Senja, sedangkan Senja hanya memasang kedua telapak tangannya. "Basah kak!" kata Senja.
"Biarin!"
Senja membalas mencipratkan air, keduanya lagi-lagi terkekeh keras. Sungguh ini membuat hati Langit memanas, sudahlah ini liburan terburuk sepanjang hidupnya.
Langit memilih menepi. "Loh kak? Udahan main gondolanya?" tanya Risa.
"Iya,"
Langit berjalan menuju bangunan yang ada. Ia pun duduk lesu melihat kedua sejoli itu tertawa. Risa ikut duduk di samping Langit. "Cemburu lihat mereka?"
Langit terkekeh kecil. "Iya,"
Ya, Risa sudah tahu perasaan Langit yang sebenarnya. Langit tak ingin Risa merasakan cinta itu terlalu dalam, maka dari itu Langit menceritakan seluruh perasaan kagumnya terhadap Senja.
Namun tenang saja, Langit menghargai perasaan Risa. Ia tak henti-hentinya mencium punggung tangan Risa kemarin, guna menghentikan tangis gadis itu.
Risa tersenyum kecut, bukan hanya Langit yang sakit, namun hati gadis kecil itu. "Sama.." ucap Risa melihat ke arah kakaknya.
Langit menoleh dan melihat mata Risa berkaca-kaca. "Maaf, Risa." ujar Langit.
Risa melirik. "Aku gak apa-apa kak, kakak tenang aja. Lagian aku tahu istimewanya kak Senja, dia kakak yang hebat."
Langit berdeham. "Iya, dia perempuan yang lembut."
Hiks
****
"Apa pada akhirnya dia menjadi iparku?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Frustasi aja Ris, nanti juga Langit luluh😂