
Setelah bintang yang terlihat semalam, anehnya hari ini awan hitam yang datang. Seolah bintang telah mengkhianati para pemercayanya yang mengira esok cerah setelah bintang menampilkan dirinya di langit.
Rintik hujan menusuk tubuh Senja yang tengah berlari menerobos keroyokan air itu. Ia melangkah cepat menuju gerbang dan mencari tempat berteduh. Naas. Seragamnya tetap basah.
Ia pun segera membersihkan air hujan dari rok kotak-kotak birunya.
Keempat lelaki itu berlarian menuju tempat berteduh. Dari arah parkiran, Langit dan teman-temannya berlari ke tempat Senja berteduh. Sama hal nya dengan Senja, ia pun membersihkan sisa sisa air di almamater birunya. Almamater? Iya, Langit memakai jas sekolah kali ini.
Senja terkekeh pelan. Membuat Langit kebingungan. "Apa?" Tanyanya
"Itu.." Tunjuk Senja ke arah rambut Langit
Langit mencoba memahami maksud gadis dihadapannya itu. Meraba-raba rambutnya, namun tetap salah. Senja pun menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengambil daun yang menancap di rambut Langit. "Ini." Katanya sambil memperlihatkan sehelai daun
Langit menghela nafas, sebab Senja berada tepat dihadapannya. "Oh maaf." Ujar Senja seraya memundurkan posisinya, namun tepat setelahnya Eri tak sengaja menubruk Senja, karena Arif mendorong Eri.
"Duh.. paan sih Rif!" Kesal Eri
"Ssst." Sembari mengarahkan dagunya ke arah Senja dan Langit
Kini keduanya hanya terpaut beberapa senti. Mengingatkan pada kejadian yang sama kala itu, matanya saling tatap, kini manik hazel itu lagi-lagi bertabrakan dengan manik hitam pekat milik Langit.
Beberapa detik...
"Ehem... "
"Uhuk... uhuk..."
Godaan itu berasal dari teman-teman Langit, dengan sangat gugup Senja mencoba menetralkan jantungnya. Oh Tuhan apa ini?! "Hm, maa.. maaf." Ujar Senja, setelahnya ia pergi ke kelasnya.
Tanpa disadari, ia telah salah tingkah, sampai lupa bahwa hujan sedang deras-derasnya. Lupa! Itu membuatnya membeku. Derasnya hujan kembali mengeroyok Senja. Berbekalkan tangan, Senja mencoba menutupi kepalanya.
Sehelai jas sekolah melindunginya dari hujan deras itu. Mereka kembali tertegun. Langit! Mengapa dia selalu ada? "Ayo." Suaranya samar-samar diantara melodi hujan.
Kemudian keduanya terbebas dari rintikan air, jas lelaki itu basah kuyup. Kini mereka berada didepan kelas dengan mini board yang digantung "X MIPA 4".
"Makasih. Dan.."
"Maaf, Almamater lo jadi basah."
"Atau lo pake yang gue aja, mau?" Tanyanya, sembari hendak melepas almamaternya
"Lo mau gue masuk angin?"
Senja terdiam. Dan memang benar, almamaternya sedikit basah. Tak ingin orang lain menganggap yang bukan-bukan, Senja pun pamit untuk masuk ke kelas dan tak lupa berterima kasih. Lagi, lagi dan lagi.
Saat Langit meninggalkan teras kelas itu, senyumnya terus mengembang.
****
Senja celingukan mencari seseorang yang sampai saat ini belum membalas pesan-pesannya. Dikantin. Ia duduk bersama Liani, namun pikirannya berada ditempat lain. Senja membiarkan Lia berbicara dengan patung. "Senja?!" Panggilnya, sedikit berteriak
"Ya abisnya, lo dari tadi melamun."
"Hm." Ia kembali mengaduk-ngaduk bekalnya
Lia menggelengkan kepala. "Ada apa? Cerita sama gue." Katanya sambil mendalami wajah Senja yang murung
Senja pun bercerita kepada Lia soal kejadian kemarin bersama Arkan. Wajah Lia begitu serius mendengarkan tutur kata Senja. "Tiba-tiba kak Arkan pergi gitu aja."
"Lo coba nahan dan tanya kenapa?"
"Udah, tapi dia sama sekali gak respon."
"Hm.. menurut gue sih ya, kak Arkan ada masalah yang serius. Gue rasa lo gak usah hubungin dia dulu sekarang."
"Gitu ya Li?"
Lia berdehem sembari menyeruput es yang sedang di pegangnya. Senja kembali termenung, apa yang diucapkan Lia memang benar. Tak sepantasnya ia menghubungi Arkan untuk saat ini, karena itu pasti akan mengganggu.
Langit dan teman-temannya duduk tak jauh dari meja Senja dan Lia. Mereka berbincang-bincang dan bercanda seperti biasa, terkecuali Langit yang memang terus pada mode dingin. Sesekali ia mencuri pandang ke arah meja yang dihuni dua gadis manis.
"Arlan masuk kelas berapa ya kira-kira?" Tanya Arif tiba-tiba mengalihkan pembicaraan
Langit refleks menoleh pada Arif, benar juga! Gara-gara suasana hatinya yang bagus, ia sampai melupakan hal penting itu. Arlan! Kini pikirannya dipenuhi oleh nama lelaki itu. Kemudian Langit bangkit dan mencoba mencari tahu, Arlan masuk kelas mana dari sekian banyak kelas.
"Gue duluan." Ucapnya tanpa ingin mendengar jawaban teman-temannya
"Lang!"
"Udahlah, biarin. Dia pasti mau ke kantor kepala sekolah." Ucapan Arif ini memang benar!
Ya, Langit memang mau menemui kepala sekolah tersebut dan menanyakan Arlan menduduki kelas berapa, karena itu akan mudah untuknya mencari keberadaan Arlan.
Langit memasuki ruangan kantor kepala sekolah. Ia langsung menanyakan tujuannya. "Arlan Gio Fadlan? Anak itu yang kamu maksud?" responnya tak banyak, hanya dehaman dan anggukan. Dia mendapatkan apa yang dia mau. X IPS 6. Itulah kelas yang ditinggali Arlan "Terima kasih om." Ujarnya, lalu bergegas meninggalkan ruangan, namun ditahan.
"Langit?"
Langit berbalik dan pak Edwin, ia adalah kepala sekolah sekaligus papa dari Oppi, menyuruh Langit untuk kembali duduk. "Duduk!." Perintahnya
Langit menurut dan langsung duduk. "Jadi, Arkan.. dia sudah berbuat apa pada anak saya?" Tanyanya
"Maaf om, saya tidak tau apa-apa."
"Begitu yaa, ya sudah kamu boleh keluar." Ucapnya dibalas anggukan oleh Langit
Sepanjang jalan, Langit memikirkan Arkan. Apa maksud om Edwin tadi?! Apa yang dilakukan Arkan? Rizky dan Irfan berjalan beriringan sambil mengobrol dan melewati Langit. Dimana Arkan? Bukankah mereka selalu bersama-sama?
****
Arkannya kemana ya?