
Senja memberanikan diri untuk menemui orang tersebut. Sudah sepuluh menit lamanya ia menunggu, namun orang itu tak kunjung datang. Ia duduk bersila menghadap timur menikmati terpaan angin dan musik yang terdengar melalui earphone yang bertengger indah di kedua telinganya. Membuatnya terpejam sesaat.
Lagu merdu itu terhenti, membuat mata Senja terbuka. Terdapat nafas lain disisinya. Senja kaget, ia langsung melepas kedua earphonenya
"Maaf, lo nunggu lama ya?" Tanya lelaki itu dengan senyumnya
Senja menggeleng pelan, ia terlalu kagum dengan orang yang berada disampingnya itu. "Eng, enggak kok.."
"Gue minta maaf soal almet lo. Maaf gue gak kembaliin langsung."
"Gak apa-apa. Eum.. tapi kok bisa ada di lo kak?" Ya, lelaki yang disamping Senja saat ini adalah Arkan.
Flashback On
Keesokan harinya, setelah kejadian itu. Karena Arkan adalah ketua OSIS, ia diharuskan datang sepagi mungkin untuk memantau tugas anggota OSIS yang lain. Ia melihat Mang Asep (Penjaga Sekolah) tengah membawa almamater milik murid yang ia temukan.
"Loh mang, itu almet siapa?" Tanya Arkan
"Gak tau ini den. Ini ada di tempat sampah toilet."
"Boleh saya liat?" Mang Asep pun memberikan almamater tersebut. Arkan menautkan Alisnya setelah melihat name tag di almamater tersebut "Senja?"-Batin Arkan
"Mang, saya tau siapa yang punya almet ini. Makasih mang." Arkan menepuk bahu mang Asep sekilas, lalu bergegas menyimpan almet itu ke dalam lokernya, untuk kemudian di kirim ke loundry dan dicuci.
Flashback Off
"Pantes aja gue gak nemu." Senja terkekeh pelan
"Kenapa almet lo bisa disana?"
Pertanyaan itu membuat Senja bingung, jawaban apa yang harus ia sampaikan kepada Arkan. Tak mungkin ia mengatakan itu ulah Oppi. "Eum.. itu... anu kak.. ketinggalan, iya ketinggalan."
Arkan terkekeh pelan, lucu dan menggemaskan tingkah laku gadis itu saat berbohong.
"Senja?"
"Iya kak?"
"Gue suka lo." Kalimat singkat itu membuat mata Senja terbelalak tak percaya
"Maksud lo kak?" Ia ingin memastikan ucapan Arkan adalah kesalahan
"Gue mau lo jadi cewek gue.."
Senja tertegun. Baru kali ini ia ditembak seorang lelaki tampan, most wanted pula, yang katanya ia berasal dari keluarga mentereng, yang pasti levelnya berbeda dengan Senja.
"Lo becanda kan kak?" Tanyanya
Arkan menggeleng "Gue gak becanda, ini kali pertama gue nembak cewek.."
"Dan kali ini gue mohon sama lo, jangan pernah berpikir kita beda."
"Jangan melihat dari kelebihan, karena gue pun punya kekurangan."
Senja membulatkan matanya tak percaya, Arkan benar-benar meluluhkan hati Senja dalam waktu sekejap. Senja masih membeku, sampai akhirnya Arkan membuka kepangan Senja, membiarkan rambut panjang sepinggangnya itu tergerai.
"Lo cantik, lo unik.. gue suka sama lo." Sembari menyelipkan anak rambut Senja ke telinganya lalu menatap lekat mata hazel Senja
Sore itu menjadi sore paling bahagia untuk Arkan. Pasalnya ia menembak gadis yang di sukainya sejak beberapa bulan lalu, gadis itu memang sedikit ragu, namun ia tetap menerima Arkan untuk ia jadikan kekasihnya.
Arkan memarkirkan motor ninja kesayangannya dibagasi, menghempaskan kunci motornya ke udara lalu menangkapnya lagi. Senyumnya tak henti-hentinya mengembang. "Ehem.. ehem.." seseorang berdeham
Arkan menoleh, ia menggaruk tengkuknya dan sedikit menunduk. Ia menghampiri seseorang itu. "Eh mama. Udah pulang mah?" Tanya Arkan
Nyonya Arlita tersenyum. "Iya, tapi papa kamu balik ke kantor lagi, masih ada kerjaan katanya."
Arkan mengangguk mengerti. "Kamu keliatan bahagia banget, ada apa? Cerita sama mama dong."
"Dia? Dia siapa?"
Arkan tersenyum. "Nanti juga mama tau, Arkan balik ke kamar dulu." Ucapnya seraya mengecup pipi mama tirinya itu
Nyonya Arlita tersenyum. Meskipun Arkan hanya anak tiri, namun ia sangat menyayanginya, bahkan ia sudah menganggap Arkan seperti anak kandungnya sendiri.
Karena ia paham, Arkan memiliki nasib sama seperti anaknya, Langit. Arkan butuh seorang mama dan Langit butuh sosok papa, meskipun Langit sampai saat ini belum bisa menerima papa tirinya.
"Mama harap kamu bisa seperti Arkan yang menerima mama, Lang." Batinnya
****
Langit dan teman-temannya sibuk memainkan ponsel mereka. Seperti biasa, Arif dengan kedua kekasihnya, Falah dan Eri dengan game onlinenya. Sedangkan Langit? Ia sibuk menggeser-geser menu. Terlalu gabut dia wkwk.
"VICTORY." Teriak Falah dan Eri
Arif tak sengaja menjatuhkan ponselnya. "Anjay lo berdua. Tau gue lagi ribut sama Oliv." Sembari mengambil ponselnya lagi
"Awas lo berdua kalau hp gue rusak! Gue sumpahin Defeat terus!" Lanjutnya
Sementara teman-temannya ribut. Langit membuka status yang baru saja dikirim Risa, adiknya Senja. Terlihat foto selfie dua gadis cantik.
Senja dengan rambut yang tergerai? Ya, Langit tersenyum melihat itu. Nampak Risa merangkul kakaknya yang memegang setangkai bunga mawar.
Namun senyumnya luntur seketika setelah membaca caption yang ditulis Risa.
Dia udah lepas dari predikat jomblonya.
Langgeng ya kak😘
Apa maksudnya itu? Apa Senja baru saja jadian? Senja memiliki pacar? Seketika bahu Langit merosok, hatinya memanas, sesak dan perih. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Buat apa gue cemburu?"-Batinnya seraya menghela nafas kasar
Setelah berkumpul bersama teman-temannya. Langit pulang ke rumahnya, ia menatap malas mobil yang ada disana, itu artinya papa tirinya sudah kembali.
Langit menatap sendu kehangatan mereka dari kejauhan. Nampak Arkan duduk di tengah-tengah mama dan papa tirinya, mereka tertawa terbahak-bahak karena cerita mereka masing-masing.
"Langit?" Panggil Arkan untuk menahan langkah Langit
Namun Langit tak mendengarkan. Ia kembali keluar dan berniat untuk pergi dari rumah megahnya itu. Arkan menyusulnya. Namun telat, Langit telah pergi menjauh dengan sepeda motornya.
"Langit gak masalah selama mama bahagia. Langit cuma takut papa sedih disana. Maafin Langit mah." Batin Langit melajukan motornya dengan kecepatan tinggi
****
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gak jelas, biarin deng😂