MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 24



Gadis itu terus menekuk wajahnya, seulas senyum pun tak di sebarnya. Auranya gelap, menunjukkan lemah sesungguhnya. Sudah berhari-hari ia melakukan hal itu, diam, diam dan diam.


Dunia seakan miliknya sendiri, sendirian. Meski banyak orang, teman, dan keluarga yang membujuknya, namun ia tetap menghidupkan mode dingin. Dirinya baru saja melepas hal yang selama ini menjadi salah satu alasan orang-orang merundungnya. Rambut tergerai-nya terpaksa ia kepang kembali.


Senja. Gadis itu kehilangan semangat setelah Arkan menghindarinya, ia bahkan tak tahu apa yang menjadi penyebab lelaki itu menjauhi nya. Ia hanya tahu hari-hari Arkan selalu ditemani Oppi.


Mungkinkah itu alasannya?


Senja menghembuskan nafas kasar, ia bingung akan apa yang telah menyerangnya belakangan ini.


Senja duduk di bangku samping lapangan cadangan. Sepi, hanya beberapa orang melintas dan menatapnya bingung. "Bolos?" Tanya seseorang yang langsung duduk di sebelah Senja


Senja menjawab dengan diam dan hanya melirik sekilas. "Belajar jadi es?"


Barulah Senja melirik "Enggak. Ini kan jam pelajaran, masuk sana!" Sembari mendorong-dorong lelaki itu


"Lo sakit?" Senja menggeleng. "Lo gak sadar kalo lo lagi ngomong sama diri lo sendiri?"


Senja menganga bingung. Seakan bertanya Maksudnya?!


"Gue gak akan masuk kalo lo masih disini."


"Langit!" Teriaknya. "Sana! Gue free, jadi bebas mau ngapain."


"Bohong." Sambung Langit


Senja terdiam. Ia tahu, jika kelasnya ada guru. Hanya saja ia izin untuk ke toilet, namun itu hanyalah sebuah alibi untuknya keluar dari ruang kelas. Karena sangat percuma jika ia berada dilingkup serius, padahal pikirannya sedang tak ingin menerima apapun selain masalahnya belakangan ini.


"Gue pengen sendiri."


Setelah beberapa saat. Langit membuka percakapan dan terus berbicara. Gadis itu tertawa renyah. "Eri.. dia lari entah kemana setelah Arif lempar kecoa itu." Disusul tawa Langit


"Kalau Falah kemana haha?"


"Falah.. eum dia, dia sembunyi di bawah meja." Kata Langit seraya tertawa menjawab pertanyaan Senja


Langit tersenyum melihat gelak tawa gadis itu. Sudah lama sejak hari itu, senyum bahkan tawa Senja tak terlihat. Bumi Langit memang runtuh melihat Senja seperti itu, namun ia tetap menjaga jarak dengan Senja karena Risa.


Sebuah teriakan terdengar "Senja! Langit!"


Pak Surya! Seketika keduanya menjadi patung, Senja dengan kepala menunduk, sedangkan Langit menatap pak Surya sembari mengangguk-ngangguk paham "Istirahat masih 1 jam lagi! Kenapa kalian malah disini? Bla bla bla."


Setelah panjang lebar menasehati. "Kelas Detensi!"


Spontan keduanya sumringah, senang. " Hah?! Beneran pak?!" Tanya keduanya kompak


"Kalian kok dihukum malah seneng."


Keduanya malu-malu, Langit maupun Senja bertingkah aneh. Mereka saling tatap, seolah keduanya saling melempar pertanyaan. Gimana? Setelah beberapa detik, mereka mendapat jawaban.


"Yaudah pak. Hukum kami." Biarkan Laki-laki yang menjawab


"Itu sih maunya kalian. Yaudah, toh percuma juga kalau kalian masuk, tetap aja dapat hukuman dari guru lain..."


"Yaudah ngobrolnya lanjut di kelas sana." Lanjutnya sembari mengacungkan kedua jempol di udara


Mereka tertawa bersama.


Langit dan Senja menjalani hukuman di ruang kelas yang kosong, hanya berpenghuni makluk mati, yakni bangku, meja, dan papan tulis. Entahlah. Dengan Senja, Langit menjadi pribadinya yang nyata. Seolah Langit yang itu selalu singkat, sedangkan Langit yang ini selalu menciptakan tawa.


Aku sungguh tak tahu apa tujuanmu, Langit.


****


Arkan dan Oppi duduk bersebelahan. Oppi terus menyenderkan kepalanya dibahu Arkan, dan itu membuat Arkan tak nyaman. "Ar... pulang sekolah kita ke caffe biasa yuk." Pintanya


Arkan hanya fokus mendengarkan guru yang sedang menerangkan pelajaran. "Hm." Seraya meneruskan kegiatan tulis menulisnya


"Asik. Makasih ya Ar..." Oppi semakin menempel pada Arkan


Oh gadis ini.


Arkan berdiri untuk melepaskan Oppi yang terus membuatnya tak nyaman. Kemudian mengangkat setengah lengannya. "Iya ada apa Arkan?"


Arkan meneguk, ia terpaksa meninggalkan pelajaran yang penting ini. "Saya izin ke toilet pak."


Terlihat Oppi yang mempoutkan bibirnya, setelah Arkan pergi keluar. Karena baru saja ia diperlakukan baik oleh Arkan, namun mengapa sekarang Arkan bersikap acuh kembali?


Arkan berjalan santai menuju perpustakaan, ya Arkan hanya membuat alasan untuk menghindari Oppi sejenak. Beruntungnya istirahat hanya tinggal menghitung menit. Telinganya menangkap bunyi tawa yang tak asing, sangat familiar.


Mungkinkah berasal dari ruang kelas tak berpenghuni itu? Rasa penasarannya bertambah, perlahan-lahan langkahnya mendekat ke arah kelas itu. Mendongak, dan menemukan hal yang sangat, sangat bisa membuatnya jatuh ke lautan paling dalam dan gelap.


Senja dan Langit bercanda bersama, diruangan itu, hanya berdua.


Ia tersenyum tipis, lalu meneruskan langkahnya. Memilih untuk bergelut dengan semua buku, bukan, bukan buku, tapi perasaannya yang mulai memberontak, meminta untuk diperlakukan adil.


"Kita hanya butuh waktu."- batin Arkan


Beberapa menit..


"Kita nyari kemana-mana, taunya disini..."


"Woy, Arkan! Ar..!" Ujar Irfan membangunkan Arkan yang tertidur


"Hm." Ia baru saja menenggelamkan wajahnya di salah satu buku dari sekian banyak buku yang di bengkalaikan.


"Lo ganteng-ganteng susah di bangunin nya yaa." Itu Rizky, sang ketua eskul basket


"Hm, ada apa?"


"Nih liat! Kita harus ngumpulin anak STB siang ini." Sembari memberikan selembar kertas undangan


Ya, itu adalah undangan untuk mengikuti lomba antar sekolah, bukan hanya dance namun yang lainnya juga. "Fan? Udah sebar ini di mading?" Tanyanya yang mulai connect


"Belum, gue belum nyuruh anak-anak nyebar, emang kenapa?"


"Sekalian aja buat pengumuman kumpul siang ini."


"Mereka cuma berempat, sekelas juga, kenapa gak langsung aja?" Tanya Irfan


Arkan memutar bola matanya malas, kemudian memberikan ponselnya ke Irfan. "Cari aja, Langit."


Kemudian Arkan bergegas pergi dari perpustakaan.


"Tuh anak kenapa sih? Tumben gak fokus, biasanya kalau ada lomba-lomba gini keluar tuh sifat kepimpinannya."


Irfan mengedikan bahunya menjawab pertanyaan dari Rizky. Memang benar, tak ada petir maupun badai, lelaki itu kehilangan sifat leadership yang biasanya ia tunjukkan. Aneh. Menurut kedua member STB yang tak tahu apa-apa soal sahabatnya itu. Semakin aneh. Mengapa mereka tak tahu apa-apa?


****


Senja menempelkan lembaran kertas yang di duga adalah kertas yang juga diperbincangkan oleh Arkan, Irfan dan Rizky tadi. Sembari melamun ia menempelkan kertas itu. "Senja.. udah dong, lo gak seru banget kalau diem kaya gini..."


"Kita ke kantin yuk?" Lanjutnya bertanya


"Lo sendiri aja Li. Gue mau ke kelas." Senja melangkah pergi, namun dengan segera Lia menghadangnya


"Senja, lo belum makan siang. Setelah ini kan kita ada pelajaran olahraga.."


"Lia! Gue gak apa-apa."


Setelah sedikit berteriak, Lia mempoutkan bibirnya. "Gue peduli sama lo. Tapi kalau lo kaya gini terus, gue nyerah." Dengan tatapan sinisnya, Lia meninggalkan Senja yang kini berbalut rasa bersalah


Jangan Lia juga, Tuhan.


"Lia! Li.. maafin gue." Senja berlari kecil mengejar Lia. Namun gadis itu juga melangkah dengan cepat


Senja menghentikan laju kakinya. Menghela nafas kecewa. Ini salahnya. Ia memikirkan orang yang bahkan tak memikirkan dirinya, tapi ia tak sama sekali memikirkan orang-orang yang berusaha menghiburnya.


Ku rasa kalian pun tahu, bagaimana rasanya diabaikan?


Matanya mulai berkaca-kaca. Dikumpulkannya air mata di manik matanya, hingga satu kedipan saja, maka seluruh sakitnya akan meluncur deras.


Berkedip. Kini air bening itu menguasai pipinya.


****


Yah, Lianya marah.