MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 6



Langit dan teman-temannya pergi ke markas untuk membicarakan seseorang yang lagi-lagi menerornya. Ia dengan cekatan memberi penjelasan kepada semuanya.


"Untuk sekarang, kita gak boleh pisah!." Ucap Langit datar


"Emang kita pacaran lang?" Ucap Eri


"Bukan Tukul!" Arif dan Falah melayangkan jitakan kepada Eri


Langit mengacak rambutnya frustasi.


"Lang! Lo tenang aja, kita selalu ada buat lo kok. Ya pokonya jangan ada yang jalan-jalan sendiri." Ucap Falah sambil menepuk pundak Langit


"Jalan-jalan kemana?" Tanya Eri


"Ri! Lo bisa diem gak?" Ucap Arif sambil siap-siap membaku hantam Eri


"Eh! Eh! Lo mau ngapain? I... iya gue diem kali ah." Ucap Eri


"Connect dikit napa otak lo ri." Kata Falah


"Kan gue patrick..."


Sebelum meneruskan kalimatnya, Arif dan Falah yang meneruskan "tapi kita bukan spongebob!"


Eri yang melengkungkan senyum nya kebawah kini merajuk, sedangkan Langit, Arif dan Falah tertawa puas.


"Setidaknya, gue masih punya mereka. Yang selalu bisa meredam kegentingan." Batin Langit sambil tersenyum melihat ketiga sahabatnya


****


"Kak? mau kemana?" Tanya Risa kepada Senja


"Kakak mau beli cat warna, udah abis nih."


"Aku ikut yaa. Please." Kata Risa memohon


"Gak bisa. Kamu harus belajar!."


"Yah, tapi aku bosen kak." Ucap Risa sembari mengerucutkan bibirnya


"Sekali kakak bilang gak bisa, ya gak bisa."


Karena merasa kalah, Risa pun pergi ke kamarnya dan melanjutkan belajar. Senja yang sedari tadi siap-siap itupun langsung pergi menggunakan sepedanya. Namun ditengah perjalanan.


"Itu ada apaan sih? Kok banyak orang?." Senja yang celingukan itupun memberanikan diri melihat dari dekat.


"Itu kan Kak Oppi? Ngapain malem-malem gini ada disini?" Batin Senja yang kebingungan


"Maaf mas, ini ada apa yaa?" Tanyanya pada seorang lelaki


"Aduh lo gak liat? Ini mau balapan!"


"Balapan? Ini kan jalan umum? Mana bisa dipake buat balapan?"


"Eh namanya juga balapan liar, mau disungai, mau dijalan tol, ya seterah."


Menanggapinya hanya akan membuat lelah. Senja memutuskan kembali kerumah, namun saat hendak pergi, ia mendengar beberapa suara motor besar yang kini membuat semua orang bersorak.


"Itukan langit? Dia mau ikut balapan?" Batin Senja bertanya-tanya


Senja yang penasaran langsung ikut nimbrung, tak peduli dengan sepedanya. Balapan itu pun hampir dimulai.


"Oke. Siap. 1... 2... 3... Go!" Teriak Oppi sambil menerbangkan sehelai kain bendera saat hitungan terakhir


Langit dan Entah siapa itupun langsung ngacir dengan sepeda motornya. Tak beberapa lama, Langit kembali mendahului. Ya, Langit menang, seketika semua ramai dan teman-temannya teriak kegirangan.


"Wuh, lo keren abis lang!" Ucap Falah sambil bertepuk tangan dengan Langit


"Lo emang paling hebat!" Ucap Arif sambil merangkul Langit


"Iyalah, siapa dulu? Langit!" Kali ini Eri


"Kak Arkan?" Batinnya Sambil berdiri lemas


Apalagi setelahnya ia melihat Arkan dan Oppi yang langsung bercakap cakap. Namun tak berlangsung lama, suara sirine terdengar pertanda polisi datang. Semuanya pergi dari kejaran polisi. Senja pun mengambil sepedanya, namun disayangkan, ia tertangkap.


"Pak! Saya gak salah pak!" Sambil mencoba melepaskan pegangan polisi pada lengannya


"Jelas jelas kamu nimbrung bersama disini."


Langit yang tadinya ingin lari dari kesalahan itupun melihat ke kaca spion dan langsung menghampiri Senja.


"Pak lepas! Dia gak salah!" Kata Langit datar


"Sekarang kalian berdua bisa jelaskan dikantor polisi!"


Senja merasa bersalah, ia membuat Langit kini tertangkap polisi. Membuatnya duduk bersampingan dengan Langit dan diinterogasi oleh polisi.


"Pak, saya ini bener-bener gak salah. Saya tadinya mau membeli peralatan melukis. Tapi tiba-tiba aja ada ramai-ramai didepan."


"Terus kenapa kamu gak pulang aja?!" Ucap polisi itu ngotot


"Ya... saya gak pulang, karena.." melihat kearah langit yang kini sedang memutar bola matanya malas


"Pak! Saya akan antar dia pulang!" Ia langsung mengambil kunci motornya dari meja dan menyambar lengan senja


"Eh, kita mau kemana? Itu polisinya manggil."


"Naik!" Perintah Langit


"Sepeda gue?"


"Itu bisa gue urus nanti."


Setelah mereka pergi, polisi itupun datang dengan berlari-lari.


"Hei! Kalian mau kemana!" Teriak Polisi itu kesal


Langit langsung melajukan motornya kencang dan membawanya ke supermarket.


"Loh? Ini bukan jalan ke rumah gue."


"Bawel!"


"Katanya mau nganter pulang?."


Langit masuk ke supermarket dan berdiri tepat didepan peralatan menggambar. Senja terbelalak tak menyangka, cowok dihadapannya terlampau peka.


"Cepetan!"


"Eh iyaa.." Ucap Senja mempercepat langkahnya.


Senja sangat terlihat senang, karena sudah mendapatkan apa yang dia mau. Cat warna itu untuk kebutuhannya. Apalagi, ia sedang membuat lukisan yang spesial untuk seseorang dan itu yang selalu membuatnya tidur larut malam.


"Udah nih.. ayo kesana."


"Hm."


Namun saat ia hendak membayar memakai cash, tiba-tiba Langit memberi kartu kredit untuk membayar yang Senja inginkan.


"Gue kan bisa pake uang gue."


"Berisik!"


Senja dan Langit kini benar-benar pergi ke jln. Bunga Tulip no. 4, rumah Senja.


"Makasih yaa, karena lo udah mau anter gue, dan makasih juga untuk cat warna yang lo bayarin tadi."


Langit hanya mengangguk dan memberikan klakson, yang kemudian melesat pergi meninggalkan halaman rumah Senja.


"Walaupun dingin, dia sangat sangat peka."Batinnya.