MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 10



Seperti biasanya, malamnya Langit dan teman-temannya berkumpul dan bercanda bersama.


"Rasain tuh si Arlan kena D.O" Ucap Arif kegirangan


"Bukan D.O, tapi Drop Out." Kata Eri dengan polosnya


"Lah? Anak lo butuh minyak ikan!" Kata Arif meledek


"Enak aja anak gue." Sambil memukul mukul kepalanya kemudian ke kepala Eri


"Lang lo mungut dimana sih nih anak?" Tanya Falah


"Di Arab, waktu zaman zahiliyah." Sambung Arif


Mereka bisa tertawa bebas seperti itu karena mereka tak mendapat hukuman berat seperti Arlan. Langit dan teman-temannya hanya di skors selama 3 hari.


****


Senja, Ibundanya dan Risa. Mereka tengah menyantap makan malam. Makan malam kali ini cukup sederhana. Namun itu tak membuat Senja terlihat sedih. Ia bahkan sangat bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang. Ibundanya, Risa adiknya dan teman seperti Lia.


"Makasih bunda untuk makan malamnya." Sambil menghampiri Bundanya dan mengecupnya


"Hm, iya sayang, sama-sama." Balas bundanya dengan mengelus wajah Senja


"Bun, masakan bunda emang paling top pokoknya." Puji Risa


"Alhamdulillah kalau kalian suka. Bunda seneng sayang."


Senja tersenyum, "yaudah bun, sini aku bantu." Sembari mengambil piring kotor dari meja makan


"Sayang, udah gak apa-apa, biar bunda aja. Kalian belajar sana."


"Bun, aku sama kak Sese-.." Senja menatap tajam ke arah Risa


"Eh, maksudnya kak Senja, bisa kok beresin ini." Kata Risa tersenyum kaku


Senja tak ingin dipanggil dengan panggilan kecilnya dulu, karena ia sangat tidak menginginkan nama itu, menurutnya nama itulah yang akan terus mengingatkan saat ia lemah dulu.


"Nah, iya bener tuh bun, apa yang dibilang adek. Kan bunda juga seharian kerja, pasti capek. Sekarang bunda istirahat aja ya?" Tanya Senja menatap ibundanya iba


Bunda Gina berdehem "Bunda sayang kalian berdua, yaudah bunda ke kamar dulu, jangan lupa nanti lampu matiin. Selamat malam bintang-bintangnya bunda." Katanya sembari beranjak dan pergi


"Siap bun. Selamat malam juga bulannya kita." Teriak Senja dan Risa disusul tawa keduanya


Setelah membereskan, Senja tak langsung tidur. Melainkan meneruskan melukis untuk seseorang yang menurutnya spesial.


"Kak Senja? Belum beres-beres juga tuh lukisan?" Tanya Risa yang main nyelonong masuk


"Dek Risa tolong yaa. Kalau masuk ke kamar orang itu, ketuk dulu atau gak salam dulu. Liat nih! Kalau kakak gak hati-hati pasti lukisan ini bakalan ancur." Ucap Senja yang mulai kesal


"Hm, iya maaf-maaf. Emang buat siapa sih? Kok kayanya kakak semangat banget bikinnya? Udah gitu, sampai bermalam-malam pula, biasanya juga sehari beres."


"Yaelah kak, aku juga kan udah gede. Lagian kita beda 1 tahun doang elah."


"Tetep aja kamu itu dibawah kakak, awas aja yaa kalau misalnya kakak denger kamu pacaran!." Ya, Senja selalu memperingatkan adiknya untuk tidak berpacaran, bukan karena Senja tak memiliki pacar, ia hanya tak ingin Adiknya terjerumus kepada pergaulan buruk. Apalagi adiknya itu imut seperti barbie


"Ampun dah iyaiya. Tau gak kak? Kuping aku sakit denger kalimat itu terus. Bosen." Ucap Risa mengeluh


"Ih udah sana tidur." Kata Senja mengusir Risa


"Iyaiya. Selamat malam kak Seseyku. Emmuah." Kata Risa sembari memajukan bibirnya


"Sen-Ja, Ri-Sa!." Ucap Senja meralat ucapan adiknya


"Iyaiya."


"Selamat malam juga adekku, Risa."


Senja sangat bersyukur memiliki adik yang baik. Baginya, bunda dan adiknya adalah hal terindah yang diberikan Tuhan kepadanya, dan Senja akan menjaga mereka untuk menggantikan posisi Ayahnya.


Setelah Senja mengamati lukisannya ia bingung. "Lukisan ini spesial, dan ini untuk Kak Arkan, tapi entah kenapa akhir-akhir ini gue selalu mikirin Langit?." Gumamnya


****


"Abis darimana aja kamu?" Tanya seseorang yang tengah duduk dihadapan televisi


"...."


"Langit! Jawab Papa!." Papa Langit meninggal sejak Langit kecil, namun yang kini menegurnya adalah papah tiri


"Bukan urusan papa!" Langit menyolong menaiki tangga


"Langit!" Teriak papanya


"Pah, udah. Sekarang Langit cuma butuh waktu."


"Sampai kapan mah?" Tanya Papanya murung


Mamanya hanya menaikkan bahu cepat dan menggeleng, membuat papanya semakin frustasi.


"Dia kenapa lagi mah? Pah?" Tanya seseorang yang juga berpapasan dengan Langit ditangga


"Bukan apa-apa, kamu mau apa?" Tanya mamanya ramah


"Hm, ini mah aku mau ambil susu." Jawab seseorang tersebut,


"Oh iya mama lupa, yaudah kamu duduk disitu dulu sama papa, biar mama ambilkan."


Dia hanya mengangguk dan kemudian menghampiri papa kandungnya yang sedang menutup wajahnya dengan satu tangan, terlihat frustasi.


"Gue akan buat perhitungan sama lo, Lang!"-Batinnya kesal