
"Bunda?!" Teriak Senja sembari membuka pintu dan mencari bundanya ke setiap ruangan
"Ih kak! Berisik! Ada apa sih?" Tanya Risa kesal
"Bunda mana dek?"
"Keluar tadi kak. Emang kenapa?"
"Itu.. sepeda siapa yang balikin?"
"Gak tau." Ucap Risa polos
Pas saat Senja sedang menaiki tangga seseorang datang dari arah pintu utama rumahnya.
"Assalamualaikum.. bund..." terpotong
"Bundaaaaaa?" Senja langsung menghampiri bundanya
"Eh kamu kenapa sih?"
"Bun, siapa yang balikin sepeda?"
"Bunda gak tau sayang..." jawab bundanya
"Beneran bunda gak tau?." Tanya Senja yang kemudian mengerucutkan bibirnya sedih
"Hm, iya sayang, kamu lihat sendiri kan bunda aja baru dateng, yaudah sekarang kamu ganti baju, bunda sama Risa tunggu kamu dimeja makan."
Senja mengangguk pasrah. Padahal ia tau siapa yang mengantar sepedanya itu, yang pasti itu Langit. Diantara teman-temannya memang hanya Langit yang tau dimana rumah Senja.
****
"Lang? Ada apa lagi?" Tanya Arif sembari menghampiri Langit
"Ini." Langit menunjukkan kardus yang berisi foto-foto
"Ini kan foto kita?" Kata Falah sembari memegang satu foto
"Loh? Ini kok kepala gue gak ada?" Tanya Eri memegang fotonya yang dibagian kepalanya yang tergunting
"Rasain lo!!" Ucap Falah meledek Eri
"Ssstt.. lo berdua kok malah santai." Kata Arif
Langit melempar kardus itu. "Kita serang!" Katanya sambil menatap tajam ke depan
"Serang siapa?" Tanya Eri
"SMA negeri 45 Jakarta."
Langit dan sahabat-sahabatnya mengatur strategi untuk besok menyerang sekolah SMA negeri 45 Jakarta. Untuk benar-benar mengetahui siapa yang kerap kali meneror mereka, lebih tepatnya Langit.
****
"Senja? Lo tau gak? Arif dari semalem gak bales chat gue." Tanya Lia murung
"Tau." Kata Senja asal
"Lo tau darimana?"
"Kan lo barusan bilang." Tanya Senja polos
"Ih lo yaa, gue serius tau, gue khawatir sama dia."
"Mungkin dia sibuk kali Li."
"Iya sih, tapi gak biasanya gini." Ucap Lia semakin frustasi
Kringgggg
Bel istirahat berbunyi. Senja dan Lia pun memutuskan untuk pergi ke kantin. Tapi sebelum sampai dikantin, ia melihat Arkan berlarian.
"Eh, kak?" Panggil Senja
Memang benar, akhir akhir ini Senja mengabaikan Arkan.
"Eum soal itu... gak usah dibahas. Lo mau kemana? Kok lari-lari?"
Lia memutar malas bola matanya. Karena ia merasa seperti nyamuk sekarang.
"Iya soalnya sebelum istirahat, katanya ada beberapa anak kelas IPS keluar kelas untuk bolos."
"Loh? Kok bisa?" Tanya Lia dan Senja serempak
"Iyaa, sepertinya mereka mau tawuran, udah dulu yaa. Gue mau nahan mereka dulu."
Meninggalkan Lia dan Senja yang kaget, Arkan berlari ke belakang sekolah.
"Sen, Arif ikutan gak yaa?" Tanya Lia menatap kosong ke depan
Senja menatap Lia cemas "Hm, gue gak tau Li."
****
Mereka sudah berkumpul didepan warung bu Yuli Langit memberikan penjelasan tentang penyerangan, ia sama sekali tak peduli pada kakak kelasnya yang juga ikut mendengarkan.
"Jangan jadi pengecut! Kita akan serang lewat depan!"
"Siap!" Ucap anak laki-laki serempak
Bu Yuli yang kelabakan itupun bingung, ia tak ada daya untuk menghentikan penyerangan itu. Ia hanya berdoa semoga tak ada yang terluka pada peristiwa yang akan dilakukan itu.
"Duh, ibu mah cuma bisa doa aja yaa. Nyerangnya pake otak dingin aja den."
"Bu, kami bakalan baik-baik aja kok, ibu tenang aja." Kata Langit menenangkan
"Woy bang, Jangan ada yang bawa sajam yaa?" Ucap Arif
Langit membuka ponselnya dan mengetikan sesuatu disana.
To +628193267**
Bersiap! Sambut gue!
Semua bersiap diatas motor-motor mereka. Ada sekitar 10 motor yang sudah siap meluncur.
****
"Duh, gimana nih sen? Arif sama temen-temennya gak ada." Kata Lia
"Eum.. coba lo telpon Arif." Ucap Senja menyarankan
Lia membuka ponselnya dan menempelkan teleponnya ke telinga.
"Sial! Nomornya gak aktif." Kata Lia sedikit mengumpat
Senja berdecak. "Yaudah, kita balik ke kelas." Ucap Senja frustasi
"Tapi Arif gimana?" Ucap Lia yang matanya mulai berkaca-kaca
Senja hanya menghembuskan nafasnya kasar, ia juga tak tahu bagaimana caranya menenangkan Lia, sedangkan ia juga mengkhawatirkan Langit.
****
Langit dan rombongannya pun sampai didepan gerbang SMA negeri 45 Jakarta. Tepat setelahnya, tiga orang murid datang, terlihat urak-urakan, berantakan, dan sudah pasti mereka adalah badboy sekolah tersebut.
"Wah, berani banget ya lo pada!" Ucap salah satu Murid dari ketiganya
"Jadi lo yang udah neror kita?" Ucap Arif yang langsung didorong Langit untuk mundur
"Oh, jadi ini si Langit yang gayanya seLangit? " Ucap seseorang dari arah kiri
Spontan suara berat itu membuat kelompok Langit menoleh.
"Arlan?"-Batin Langit. Karena lagi-lagi Arlan yang menantangnya.