
Terdapat 10 mading yang tersebar. Masing-masing mading diisi oleh karya dari perwakilan kelas, dibebaskan untuk mereka membuat karya yang bagus dan baik untuk dikonsumsi.
Anggota wartawan mading juga harus mengirim minimal dua karya dalam seminggu. Mereka juga harus mengoreksi karya dari murid lainnya.
"Senja.. lo bisa pasang karya lo ini di mading 7. Itu mading lo sekarang." Kata Irfan, sembari memberikan karya pertama Senja
"Iya kak." Ia pun bergegas menempelkan karyanya itu di mading 7
Senja menusukkannya dengan payu payung. Sesekali ia merapikannya, Senja menatap kagum pada karyanya sendiri. Meski objek yang ia potret sedikit sulit untuk dimintai keterangan.
"Oke. Bagus." Ujarnya sembari terkekeh kecil
Seseorang datang merangkul Senja "Widih. Wartawan mading kita udah resmi nih."
"Hm, gimana karya gue?"
Ia mengetuk dagunya "Hm..."
"So amazing!!! Sumpah berita yang dibuat lo ini, pasti menarik readers." Lanjutnya berteriak
"Beneran Li?" Senja berbinar dan memastikan ucapan Lia
"Beneran lah. Kan ada cowok guenya." Kemudian Senja mencubit kedua pipi Lia sampai Lia berkata Aw dan mengusap-usap pipinya
"Lo ya, kirain karya guenya yang bagus."
"Hehe ya becanda, bagus kok sumpah deh."
Ya, Maksud perkataan Lia ada cowok guenya itu karena berita yang Senja buat memang mencantumkan dua foto Arif dan teman-temannya.
Judul karya Senja tersebut "TINDAKAN SEDERHANA YANG BIJAK" Sedangkan foto yang terpampang mendeskripsikan tentang Arif yang melempar sampah namun meleset dan foto yang kedua adalah Langit memungutnya lalu membuangnya ke tempat yang seharusnya. Cerdas, Bijak dan Solidaritas, tindakan Langit tersebut.
Dan itu sungguh bisa dijadikan panutan, tauladan yang baik untuk semua murid SMA Tirta Bangsa.-menurut Senja.
****
Arkan menghembuskan nafas kasar ketika melihat salah satu karya mading yang diatasnya bertuliskan angka 7. Terlihat wajah adik tirinya disalah satu kertas disana, ya itu karangan gadisnya.
Arkan tersenyum tipis. Walau bagaimana pun itu hanya content mading, lagipula karangannya bagus.
Seseorang menepuk bahu Arkan "Ar! Ayo!"
Ia datang ke mading tersebut setelah bertanya kepada ketua warding "Irfan". Mereka pun pergi ke ruangan OSIS. Dimana semua anggota OSIS baru dan lama berkumpul.
"Saya dan... Udah tau kan siapa dia?" Tanya Yudis kepada semua orang di ruangan. Yudis adalah ketua OSIS sebelumnya
"Arkan Hanipan" Teriak semua orang diruangan
"P! P!" Lanjut beberapa orang
Yudis terkekeh "P"? Tanya langsung ke Arkan nya "P" apaan Ar?"
Arkan memang sengaja menulis namanya di segala kertas maupun yang lainnya dengan nama yang tak lengkap.
Arkan melirik ke arah gadisnya dan tersenyum. Mungkin ini kesempatan untuknya mengungkapkan nama belakangnya "Prawiradinata." Jawabnya singkat
"Jadi, Arkan Hanipan Prawiradinata?" Tanya Yudis
Arkan hanya menganggukan kepalanya. Setelahnya sebagian orang terbingung dengan nama kepanjangan Arkan. Tidak Asing!
Senja mencoba mengingat-ingat nama itu. Siapa pemilik nama "Prawiradinata" juga dibelakang namanya? Ah lupa!
Yudis, Arkan, Irfan dan Kyla. Mereka berempat nampak menjelaskan kegiatan untuk hari minggu nanti. Acara perpisahan dengan OSIS lama, yang baru bisa diselenggarakan dikarenakan murid kelas dua belas baru memiliki waktu luang.
****
"Widih. Liat nih, akhirnya kita jadi artis lagi disekolah." Kata Eri tiba-tiba
"Maksud lo?" Tanya Arif
"Liat nih." Kemudian Arif dan Falah membaca salah satu artikel dimading
"Cara mengatur jam belajar dirumah"
"****, bukan itu! Ini."
Langit hanya melihat ketiganya mengerumuni mading. "Apaan?" Tanyanya
Arif khawatir "Ini sih jatohin reputasi gue."
Langit membacanya "Senja Aprillia Farnanda." Hanya membaca siapa pengarangnya!
Jadi ini alasan gadis itu selalu menghampirinya?
Langsung saja ia menyambar dan meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah!
"Eh lang!" Panggil teman-temannya, karena Langit pergi begitu saja setelah membuang kertas itu
Sesampainya di tempat parkiran. Langit terpaku.
Seseorang berdiri disamping motor ninja hitam miliknya.
Orang itu tersenyum licik kepada Langit dan teman-temannya yang baru saja datang.
Mengapa lelaki itu memakai baju seragam sekolah ini?
Ia bertepuk tangan dan menghampiri Langit.
"Ini dia. Murid teladan SMA Tirta Bangsa."
"Kunyuk! Lo ngapai-" Ucap Arif yang hendak menghampiri orang tersebut, namun berhasil dihentikan oleh Langit
"Apa mau lo?" Kali ini Langit berpikir dingin. Ini sekolah. Mereka bahkan belum sempat melayangkan tinjuan satu sama lain, namun layaknya semut yang menemukan gula. Sebagian murid mengeremuni mereka.
Ia tertawa licik "Langit! Langit! Kita bahkan belum kenalan."
"Arlan!" Ucapnya sembari menaruh tangannya diudara
Apa sebenarnya yang ingin dilakukan anak ini?
Ia hanya menatap tangan itu. Sangat konyol. Bukankah barusan ia memanggil namanya? "Gak ada tumpangan." Yang dimaksud Langit adalah ia tak ingin memberikan ruang untuk Arlan mendunia disekolah tersebut
Langit meninggalkan Arlan setelah mengatakan itu.
Namun Arlan menarik pergelangan tangan Langit dan meninjunya tepat diwajah. Tak mau kalah, Langit pun membalas tinjuan Arlan.
Terjadilah keributan.
Terdapat banyak luka lebam diwajah Arlan. Sedangkan Langit sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.
Langit dilawan. Begitulah kalimat yang keluar dari mereka yang menonton.
Pak Surya berhasil menghentikan perkelahian sengit tersebut dan segera membawa keduanya menghadap kepadanya dilapangan.
Langit melirik ke arah lain, sedangkan Arlan tengah sibuk menekan-nekan lukanya yang mengeluarkan darah. Langit disuruh membersihkan lapangan luas itu dari daun-daun kering. Sebuah hukuman atas kesalahan? Terima!
Arlan merupakan anak baru disekolah tersebut. Dan luka diwajahnya cukup parah, maka dari itu ia hanya mendapatkan alkohol dan perawatan dari petugas PMR.
****
Senja dan Arkan berjalan berdampingan, mereka hendak pergi ke toko kue ibunda Gina. Karena itu memang rutinitas Senja. Mereka merasa bahagia satu sama lain, meskipun mata-mata pengintai dan suara-suara mengerikan terdengar samar-samar.
"Bunda buat kue spesial buat kakak. Karena a-ku bilang kakak mau dateng."
Karena perubahan status, Senja sedikit canggung menggunakan kata Aku-kamu. Namun ia harus bisa membiasakan hal itu.
Arkan tersenyum "Iya. Hm. Kue buatan bunda pasti enak."
Bunda? Apa Senja tak salah dengar? Yang jelas, jantungnya seolah-olah berhenti sejenak dan malah berdetum lebih kencang. Sungguh ini membahagiakan!
Bugh
Suara benda dilempar! Sapu lidi itu terbaring setelah dilempar seseorang. Sepasang kekasih itu kaget dan menatap lekat-lekat kepergian pelaku pelemparan sapu tersebut. Kenapa dia?
"Lang! Aelah. Tiba-tiba pergi. Tiba-tiba ngagetin. Aneh lu," Suara Arif terdengar tinggi dan melemah karena berlari menjauhi lapangan
Panas!
Satu kata untuk Langit. Lapangan yang panas juga hatinya yang terbakar.
****