MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 18



Setelah beberapa jam menenangkan diri ditaman. Ia bangkit dari duduknya dan berbalik badan, mendapati gadis berkepang satu tengah menghampiri sepedanya.


Senja hampir menaiki sepedanya. Namun tatapannya beralih pada seorang yang memperhatikannya dari bangku taman.


"Langit?" Gumamnya. Senja mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih menghampiri Langit


Senja mengusap pipinya, ia takut Langit melihat sisa-sisa bulir bening yang tertinggal dipipinya.


"Lo ngapain disini?" Tanya Senja kepada Langit


"Duduk." Jawabnya


Senja mengangguk mengerti. Kemudian membalikkan posisi tasnya ke depan, lalu mengambil sesuatu dari tasnya. "Makasih." Ujar Senja sembari memberikan jaket jeans milik Langit


Langit melirik sekilas ke arah jaketnya lalu menatap Senja. "Tenang, udah gue cuci dan ini wangi kok." Kata Senja


"Buat lo." Ucap Langit, membuat Senja sedikit membelalakan matanya tak percaya


"Ta-tapi.."


"Gak ada penolakan." Ucap Langit dingin


Senja menunduk lalu mengucapkan terima kasih. Ia bahkan lupa untuk menanyakan Langit yang tidak pergi ke sekolah hari ini. Karena Langit tak ingin Senja bertanya-tanya soal ia yang menggunakan pakaian rumah sakit. Langit pun bergegas pergi meninggalkan Senja.


"Tunggu!." Ucap Senja menghentikan Langkah Langit


Langit menoleh. "Jangan pergi." Ungkap Senja membuat Langit tertegun


"Gue mau lo tenangin gue dulu disini." Pintanya


Langit menghembuskan nafasnya, ia menghampiri gadis itu.


Langit duduk dan itu berhasil membuat Senja berbinar. Senja senyum sangat tipis, lalu duduk disamping Langit. "Lo kenapa gak ke sekolah?"


"Dan.. kenapa lo pake baju pasien?" Lanjutnya


"Bawel." Singkat Langit


"Ih orang gue nanya." Kata Senja sembari mengerucutkan bibirnya


"Kalau lo pinter, lo bakal tau jawabannya." Ucap Langit dingin


Langit tak pergi ke sekolah dan ia memakai pakaian rumah sakit. Itu berarti ia tak pergi ke sekolah karena sakit.


Senja mengerti, kemudian mereka diam beberapa saat. Sampai seorang anak kecil lewat dihadapan mereka, ia tersandung dan terjatuh bersama es krim yang dipegangnya.


Anak itu menangis dan merintih kesakitan. Senja menolong, sedangkan Langit berdiri karena kaget anak laki-laki itu jatuh. "Udah-udah. Diem ya dek? Cep-cep." Ucap Senja yang kemudian membawa anak kecil itu duduk ke bangku


Langit kemudian pergi entah kemana. Senja yang melihat Langit pergi itupun sedih lalu kembali menatap anak kecil itu. "Sakit ya dek?" Tanyanya setelah melihat luka dilutut anak itu


Senja meniup-niup luka anak itu dan membuat tangisnya surut. Langit tersenyum melihat itu, lalu memberikan sebuah plester dan alkohol, untuk meredakan lukanya.


Senja tersenyum "gue lupa, dia terlalu peka." -batin Senja


Senja dengan telaten mengobati luka anak kecil itu. Lalu mengajaknya bercerita. Langit lagi-lagi menghilang entah kemana.


"Kak? Kakak ganteng kemana lagi?"


Senja terkekeh "kakak gak tau. Kamu juga ganteng. Nama kamu siapa?" Tanyanya


"Radit." Itu membuat Senja tersenyum. Kemudian Langit kembali dengan membawa 3 es krim yang sama persis seperti yang anak kecil itu bawa


Langit memberi satu eskrim itu kepada Radit. Kemudian memberikannya kepada Senja. Namun seperti biasa, Senja hanya menatap es krim itu.


"Gue gak lupa." Kata Langit


"Ya terus?" Tanya Senja sembari mengernyitkan dahinya


"Oh lo gak mau?"


"Yaiyalah." Jawab Senja


"Kak? Ini enak kok." Kata Radit


Langit dan Radit kemudian memakan es krim itu dan memamerkan betapa enaknya es krim itu.


"Es pisang ini enak kak." Ujar Radit, sukses membuat Senja menelan salivanya dan mengigit bawah bibirnya


Langit terkekeh "Iya." Kemudian mengacak rambut Radit


Senja menyambar es itu dari Langit lalu menyantapnya. "Ini enak."


Langit dan Radit tertawa melihat tingkah Senja yang seperti anak kecil dengan coklat yang berantakan di sekeliling bibir mungilnya.


Langit tersenyum, ia lagi-lagi berhasil membuat Senja tidak murung lagi.


****


"Loh rif! Kita mau kemana?" Tanya Lia kepada Arif


"Kita makan dulu sebelum pulang." Jawabnya sembari memutar kemudi


Lia hanya mengangguk paham. Sesampainya di caffe, mereka duduk berhadapan. Lalu memanggil salah satu pelayan dan memesan makanan serta minuman.


"Aku minum aja rif. Mba aku pesen hot vanilla latte."


"Loh? Kamu gak mau makan?" Tanya Arif


Lia menggelengkan kepala. "Kamu aja. Aku masih kenyang."


Arif hanya ber "oh" ria. Kemudian pelayan itu pergi. Arif memegang tangan Lia lembut, ia ingin menenangkan gadisnya itu. Senja adalah sahabat Lia yang paling baik dan sekarang gadis itu marah kepada kekasihnya itu. Lia terus melamun memikirkan masalah itu.


"Kalau kamu merasa bersalah, kamu telpon dan minta maaf ke dia."


"Harus sekarang ya rif?" Tanya Lia


"Bebas, mau kapan pun. Aku cuma mau kamu lepas dari beban itu."


Lia mengerti, Arif khawatir karena sedari tadi gadisnya hanya diam melamun. Lia mendengarkan dan kemudian menelpon sahabatnya itu. "Halo?"


"Ha.. halo Li."


"Senja? Lo marah ya sama gue?" Tanyanya


"Eng, enggak. Kata siapa?"


"Hm, kata gue. Ya abisnya lo gak mau ketemu gue tadi."


"Eum, malah gue pikir lo yang marah sama gue?"


"Ya enggaklah. Gue tau lo terpukul tadi."


Lia menatap pelayan yang datang menyerahkan pesanan mereka tadi. Arif mengangguk dan tersenyum kepada pelayan itu. "Makasih mba." Ucap Lia dan Arif berbarengan


"Hahaha." Tawa seorang laki-laki itu muncul dari ponsel Lia


"Senja? Lo lagi sama cowok?" Tanya Lia kebingungan


"Eum.. i.. iya, ini gue lagi sama Langit. Sama Radit juga ditaman."


"Langit?!" Ucap Lia kaget. Arif menatap Lia yang mengucap nama teman yang sedari tadi dicarinya.


"Eum, udah dulu ya Sen, ini gue lagi sama Arif. Bye." Lia langsung mematikan teleponnya sepihak


"Langit lagi sama Senja?" Tanya Arif kepada Lia


"Iya rif."


"Yaudah kalau gitu, kamu minum dulu. Setelah itu pulang." Kata Arif yang dibalas anggukan oleh Lia


****


"Dah." Ucap Senja sembari melambaikan tangan kepada Radit yang dijemput ibundanya


Tatapannya beralih pada lelaki yang duduk disampingnya. Mereka kembali dalam mode canggung. "Lo gak mau pulang?"


Langit berdiri, lalu berjalan meninggalkan Senja. Senja terpaku melihat kepergian Langit. Ia menunduk dan sedikit sakit karena pertanyaannya tak mendapat jawaban. "Senja?!" Panggil seseorang yang berdiri di samping sepedanya


Senja menegakan kepalanya. Terukir senyum diwajahnya, ia pun berlari menjumpai Langit yang ternyata menunggunya dan bersiap mengantarnya pulang.


"Lo unik." Batin Senja sembari duduk diboncengan.


****


Partnya semakin kesini semakin ancur, hhe


Maaf yaa😅