MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 11



Senja membiarkan Risa berjalan sendirian menyusul ibundanya yang berada di toko baru milik keluarga kecilnya. Sedangkan Senja nampaknya sedang menunggu seseorang yang tadi menelponnya melalui telepon rumah.


Risa berdecak "Ih kak Senja nyebelin, aku nunggu lama-lama malah disuruh duluan." Omelnya bermonolog


Terdengar suara klakson mobil yang sangat mengganggu pendengarannya.


Risa menutup telinganya. "Berisik!" Lalu menoleh ke belakang


Terlihat mobil mewah berwarna putih bersih tengah berhenti tepat dihadapannya. Seseorang keluar dari kursi penumpang.


"Oh.. ternyata anak kelas bawah yang ngalangin jalan gue." Ucapnya membuat telinga Risa bertambah panas


"Apa kamu bilang?!" Ucap Risa sembari menatap kesal, bagaimana tidak? Ia berjalan disamping, bukan tengah jalan


"Gue bilang kelas bawah. Apa perlu gue perjelas?." Katanya sambil menggulung ujung rambutnya yang terkuncir menggunakan jari tunjuknya, lalu memutar bola matanya malas


Gadis itu mendekat dan menatap Risa tajam "MIS-KIN!" Lalu tertawa puas


Risa yang tak terima langsung mendorong gadis itu hingga menabrak cup mobil putihnya.


"Bit..." umpatnya lalu mendorong tubuh Risa hingga membentur aspal


Gadis itu menendang kaki Risa yang terduduk dibawah. Seseorang datang membantu Risa.


Matanya membulat sempurna "Lang?" Gadis itu kaget bukan main.


"Key!" Panggilnya setelah menolong Risa bangkit


"Aku bisa jelasin..." kata Keysa memohon


Langit mendekat ke arah Keysa "Gak penting, sekarang lo pergi! Dan jangan ganggu dia lagi."


Keysa mencekal tangan Langit. "Lang, please jangan tinggalin aku lagi." Langit menghempaskan tangan Keysa yang masih tertinggal bekas infus.


Langit dan Risa meninggalkan Keysa yang terlihat kesal. Langit mengantar Risa, karena ia tak tega melihat keadaan Risa yang diolok oleh mantan kekasihnya itu.


Risa berdehem "Ma.. makasih kak." Sembari menatap wajah Langit yang teduh


Langit hanya berdehem ria.


"Ternyata ini rencana Tuhan, apa dia jodoh aku?"-Batin Risa menatap Langit, Ya. Tentu ia berpikir begitu, karena kakaknya yang tiba-tiba menyuruhnya pergi duluan


****


Senja menutup gerbang rumahnya, lalu menemui seseorang yang menelpon dan memintanya untuk bertemu. Pria itu memberikan paper bag kepada Senja.


"Loh, apa ini kak?" Tanya Senja


"Itu hp lo, udah beres kok." Arkan baru mengembalikan ponsel Senja semenjak beberapa hari yang lalu, itu terjadi sebab Senja yang mengabaikannya


"Serius kak?" Menatap Arkan. Lalu merogoh paper bag tersebut, ponselnya memang disana, tapi..


"Loh? Ini hp siapa kak?" Tanyanya kebingungan karena terdapat ponsel baru


Arkan tersenyum. "Punya lo."


"Eh, gak perlu kak, lo betulin hp gue aja itu udah lebih dari cukup."


"Udah, ambil aja."


Senja berusaha sekeras mungkin untuk mengembalikan ponsel yang diberikan Arkan. Namun Arkan juga bersikeras untuk membuat Senja menerimanya.


"Kalau gitu makasih banyak kak."


Arkan berdehem. Kemudian Senja mengajak Arkan ke toko baru keluarganya, tentu Arkan menerima ajakan Senja.


****


Langit mengantar Risa menggunakan motor ninjanya. Tak lama, hanya menempuh 10 menit untuk sampai ke tujuan.


"Namaku Risa, kakak?" Sembari mengulurkan tangannya bermaksud berjabat tangan


"Langit." Membalas jabat tangan Risa


"Langit ? " Gumamnya


"Ah iya kak? Kebetulan bunda baru buka toko di sebelah sana." Menunjuk toko baru


"Aku mau ajak kakak untuk kesana juga. Eum... itung-itung berterima kasih karena udah tolong dan antar aku tadi." Lanjutnya lalu sedikit menunduk


"Hm, ayo." Ucapnya membuat Risa menegakan kepalanya semangat


"Ayo ikut aku."


Langit berjalan berdampingan dengan Risa. Saat tepat didepan pintu toko, ia berpapasan dengan Senja dan Arkan.


"Eh, kak Ses-.." Risa menutup mulutnya rapat lantaran yang dipanggil malah menatapnya tajam


"Kak Senja." Ralatnya


"Langit?" Panggil Senja, Langit menghembuskan nafasnya kasar sedangkan Arkan memutar bola matanya malas


Senja menghampiri Risa dan langsung bertanya "Kamu kenapa bisa sama dia? Terus kenapa baju kamu kotor?" Melihat pakaian yang dipakai adiknya


"Aku jatuh kak." Ucap Risa berbohong, membuat Langit menoleh kepada Risa


"Oh, tapi kamu gak apa-apa kan?" Sembari memegang lengan Risa dan sedikit merasa bersalah


"Ada gue." Jawab Langit datar


Senja menoleh ke belakang dan menghampiri Arkan "Eh maaf kak, Ayo!"


Mereka pun masuk, Senja berdampingan dengan Arkan, sedangkan Langit dengan Risa. Membuat ibundanya yang tengah sibuk mengobrol dengan salah satu tukang itu pun menoleh tidak percaya.


"Eh anak-anak bunda. Hm, udah pada besar ya sekarang."


"Ah bunda apaan sih." Ucap Senja salting, keempatnya bersalaman mencium tangan bunda Gina


Alisnya terangkat satu "Terus? Anak-anak ganteng ini siapa? Hm?" Ucap bundanya menatap Senja dan Risa bergantian


Senja dan Risa meringis, menunjukkan deretan giginya yang rapih dan putih "Temen bun." Ucapnya berbarengan


"Oiya, Saya Arkan tante." Ucapnya tersenyum ramah


"Dan saya Langit." Ucapnya


"Selain wajah, nama kalian juga ganteng-ganteng ya." Ucap bundanya sembari tertawa


membuat kedua anak-anaknya malu "BUNDA!." Ucap Senja dan Risa kompak


Arkan tersenyum lebar, sedangkan Langit hanya diam melihat kelakuan adik-kakak yang seperti anak kembar itu.


"Yaudah ayo bantu bunda!."


Senja dan Risa hanya mengangguk patuh.


"Saya bantu tante." Arkan nimbrung, sedangkan Langit hanya mengangguk pelan


"Untuk anak-anak ganteng ini, kalian duduk aja ya, lagian sedikit lagi kok kerjaannya, kan ada Risa sama Senja." Ucap Ibundanya


Arkan menggeleng cepat "Gak apa-apa tante. Saya bantu."


Kedua lelaki tampan itupun membantu merapihkan toko kue tersebut. Risa dan Senja membantu bundanya menyiapkan kue untuk yang akan hadir, sedangkan Langit dan Arkan membantu membereskan meja serta kursi yang belum tersusun rapih.


****


Setelah beberapa jam, akhirnya acara selesai.


"Huh capek juga ya." Ucap Risa mengeluh


Langit memberi minum kepada Risa. "Eeh.. eum.. makasih kak." Dan Langsung meminumnya


Langit hanya mengangguk. Senja melihat adiknya dan manusia es itu. Menurutnya itu aneh, sejak kapan mereka dekat? Jujur saja, ia sedikit risih melihat kedekatan adiknya dan lelaki itu, seperti ada sesak yang menyerang dadanya. Entah apa.


Arkan tak mau kalah, ia pun memberi minum kepada Senja. "Makasih kak."


Setelah beberapa menit beristirahat, mereka pun pulang.


"Nak, ayo pulang." Ucap bunda kepada keempat anak remaja itu


"Yaudah. Kak gue mau pulang bareng bunda." Ucap Senja pada Arkan


"Oiya kak, aku juga mau sama kak Senja dan bunda." Ucap Risa, dan dibalas anggukan oleh Langit


Arkan menyarankan. "Kalau gitu, pesan taxi aja gimana?"


"Gausah nak Arkan, kita bisa jalan ya kan?" Menatap kedua anak gadisnya


Senja dan Risa mengangguk. Mereka tahu bundanya tak memiliki uang yang banyak, bagi mereka naik taxi adalah boros.


"Tenang aja tan, biar Arkan yang bayar taxinya." Langit lagi lagi menghela nafas kasar


"Saya carikan taxi." Ucap Langit yang langsung pergi keluar mencarikan taxi, ya dia tak ingin mereka terus berbasa-basi


Risa pun menyusul Langit yang mencarikan taxi. Lagi-lagi hati Senja perih, ia tak tahu mengapa? Tapi itu membuat dadanya sedikit sesak. Terlebih lagi, Langit terlihat lebih akrab dengan Adiknya dibandingkan dengannya. Mereka bercakap-cakap, Senja dapat melihat tak ada sekat diantara mereka, Langit terlihat menyenangkan disana.


****


Apakah Risa menyukai Langit?


Lalu bagaimana dengan Senja?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jujur ini pertama kalinya aku buat cerita. Jadi maaf kalau kata-katanya ada yang salah. Hehe