MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 30



Arkan langsung dibawa menggunakan tandu. Ia masih terlihat sesak. Senja tak berhenti menangis, gadis itu benar-benar terpukul melihat Arkan lemah seperti itu.


Hanya beberapa orang yang diperbolehkan masuk. Sedangkan Senja, gadis itu mengintip melalui jendela. Arkan masih ditangani oleh petugas, ia bahkan sesekali diberi obat yang dipegang Oppi. Sebenarnya apa yang di derita Arkan?


"Asma," Refleks Senja menoleh ke belakang


"Hiks.. asma? Jadi kak Arkan punya asma?"


Langit hanya mengangguk. Ia sangat tahu betul apa yang dipikirkan Senja. Pasti ia sedang bertanya-tanya apa yang terjadi? Senja berbalik, memandangi wajah Arkan yang terpejam dan sesekali mengingau.


Arkan terlihat menoleh ke arah Senja, dan seolah mengisyaratkan Senja untuk masuk. Senja rasa, kekasihnya itu sedang membutuhkannya.


Senja berlari dan hendak masuk, namun ditahan. "Eh, mau kemana lo?" Itu teguran kasar dari teman Oppi, Teny.


"Kak, izinin gue masuk. Kak Arkan butuh gue."


Ia terkekeh jahat. "Butuh? Lo gak liat? Disana udah ada Oppi, dia yang lebih tau apa yang dibutuhin Arkan!"


Namun Senja nekad, ia tetap berusaha masuk. Namun dorongan dari Teny lebih kuat. "Kak! Gue mohon."


"Gak ada, mending sekarang lo pulang, terus ngaca! Lo itu gak pantes pacaran sama cowok selevel Arkan!"


Mata Senja berkaca-kaca. "Jaga omongan lo!" Ya, itu Langit. Ia membela Senja.


Senja terus menghela nafas, terlalu menohok ucapan Teny itu. "Gak usah bela gue!" Ucap Senja yang langsung berlalu menabrak bahu Langit.


Langit kebingungan. Apa salah jika ia membela gadis benar itu?


Ia melirik sekilas ke arah Teny lalu berlari mengejar Senja yang kini terus menyeka air matanya. Langit meraih lengan Senja dan langsung ditepis. "Cukup!"


Langit tertegun. "Gue gak tau maksud lo apa! Tapi cukup, jangan pernah bela gue lagi!" Bentak Senja


Kemudian Senja meneruskan langkah cepatnya. "Salah, kalau gue peduli?" Teriak Langit.


Membuat langkah Senja terhenti. Apa arti dari pertanyaan Langit itu?


****


"Senja..." Lirih Arkan.


"Ar.. lo udah baikan?" Tanya Oppi


Arkan hendak bangkit dari tidurnya, namun ditahan. "Lo mau kemana? Kondisi lo belum stabil."


"Senja mana?"


"Ar, lo liat sendiri kan dia gak ada disini? Dia itu gak peduli sama lo."


"Nggak pi, lo bohong. Jelas-jelas gue liat dia tadi."


"Mungkin lo salah liat.. eum, gue anter lo pulang ya?" Tanya Oppi


Arkan mengakui jika kepalanya sedikit sakit, dan ia membutuhkan perawatan mamanya. Arkan pun berkenan diantar Oppi menggunakan mobil. Bukan karena tak peduli pada Senja, namun untuk sekarang Arkan tak ingin memikirkan yang lain. Sebab itu akan memperburuk keadaannya.


"Sini gue bantu." Oppi memapah Arkan. Ia memegang tangan dan merangkul Arkan.


"Eh pi, lo mau bawa Arkan kemana? Pengumuman masih 3 jam lagi." Ujar Rizky


"Ky, lo aja yang nunggu..." Jawab Arkan


"Oh Oke deh. Get Well Soon, bro!"


"Hm. Makasih ky,"


Akhirnya mereka pun pulang. Oppi yang menyetir, hatinya berbunga-bunga sekarang. Arkan terlihat pucat dan kebingungan. Mungkin perkataan Oppi tadi ada pengaruhnya untuk hati Arkan.


****


"Lia??" Panggil Arif berlari menghampiri Lia


"Eh Rif!"


"Rif, kamu liat Senja gak?" Arif menjawab dengan menggelengkan kepala


"Malah aku mau tanya, kamu liat Langit?" Tanyanya


"Langit? Enggak tuh."


"Kemana ya kira-kira?" Arif menggaruk tengkuknya dan melihat sesuatu ditangan Lia. "Itu kamera siapa?"


"Ini kamera Senja. Makanya aku takut Senja kenapa-napa. Belum lagi kak Arkan sakit dan kameranya ancur gini."


"Yaudah deh, aku coba telpon Langit. Siapa tau Senja lagi sama Langit."


Arif pun menelpon Langit. Setelah sekian kali menelepon, akhirnya Langit mengangkat telepon dari Arif. "Eh Lang! Lo dimana?"


"Pulang.."


"Pulang? Naek apa lo?"


"Bus.."


"Lah, bus kan masih disini."


"Bus umum."


"Oh, lo lagi sama Senja?"


Langit berdeham, lalu menatap Senja yang berada disampingnya. "Bilang sama dia, kalau kameranya rusak..."


Takut Senja mendengar itu, akhirnya Langit menutup telepon Arif sepihak, lalu beralih pada via pesan.


Arif


Bawa kamera itu.


Oh oke lang.


Langit semakin kalut. Bagaimana jika gadis itu tahu kalau kameranya rusak? Ia akan semakin kacau. Bahkan sampai saat ini ia masih memandangi luar jendela dan menangis.


Terlihat beberapa orang yang kebingungan melihat Senja. Itu membuat Langit tak nyaman, ia pun memakaikan topi kepada Senja, dan membuat wajah Senja tertutup sedikit.


Dari mana Langit mendapatkan topi itu? Dia beli tadi kebetulan di sebrang ada cewek pake topi. Beli deh. Wkwk


Langit nampak sedang mengobrol dengan kenek bus tersebut. Tak lama, mereka berdua turun. "Halte kan masih jauh, kok turun disini?"


Langit menyeka air mata yang tertinggal di pipi Senja. "Pokoknya gue akan bawa lo ke tempat yang gak akan lo lupain."


Senja tertegun. Laki-laki ini, mengapa ia sangat baik?  Seakan dinginnya menghangatkan. Senja mengangguk. "Bawa gue kemana pun, asal itu bisa buat gue bahagia."


Langit tersenyum tipis. "Pasti!"


Langit tak henti-hentinya menggenggam tangan Senja, membawanya ke tempat yang ia maksud. Senja semakin bingung, ini sedikit hutan. Langit dan Senja berlari sampai akhirnya terlihat bangunan kosong yang penuh dengan seni mural.


Senja menghentikan langkahnya, lalu menatap lekat bangunan yang juga dihias ilalang-ilalang. "Ini tempat apa?"


"Tenang aja, gue gak akan khilaf kok."


Senja terkekeh. "Ya gue percaya, cuma.. kenapa bangunan ini kotor?"


"Kotor? Ini seni."


"Seni? Coret-coret tembok lo bilang seni? Lo becanda."


"Jadi, mau naik atau enggak?"


"Eum.. i.. iya, ayo naik."


Mereka pun menaiki tangga. Lalu naik ke lantai paling atas bangunan itu. Ternyata itu adalah tempat dimana Langit dan teman-temannya berkumpul.


Senja menatap kagum pada coretan mural itu. Terdapat kata Langit, Arif, Eri dan Falah. Indah, sungguh indah dan itu sepertinya sudah lama mereka buat. "Bagus juga." Sembari mengangguk kagum.


Tapi ada salah satu karya mural yang membuat Senja kebingungan. "SSY?"


"Eum, itu bukan apa-apa."


"Aaah, gue tau. Itu pasti nama pacar lo kan?" Sembari menunjuk-nunjuk Langit


"Bukan!"


"Eum, jangan bohong."


Langit terdiam dan hanya fokus untuk sampai ke atas. Senja yang sedari tadi kagum itu pun menyadari bahwa rekan yang membawanya ke bangunan itu hilang. "Lang! Langit..." ia kemudian berlari ke atas rooftop bangunan itu.


Lega.


Langit ternyata berada diatas. Menakjubkan, Senja berdiri disamping Langit dan tersenyum menatap keindahan bumi dari atas sana.


****


Meski suka kesunyian, tak sedikitpun ragaku meminta sendirian. Aku hanya menginginkan diskusi hening, Denganmu.


~Langit~