
Mengapa minggu ke senin itu dekat? Sedangkan senin ke minggu itu jauh? Ya itu sangat tidak adil. Senin datang lagi, mereka kembali kepada rutinitasnya.
Langit dan sahabat-sahabatnya memulai kegiatan bersekolahnya lagi, setelah 3 hari di skors. Dan anehnya, kali ini mereka tak menggunakan telat sebagai rutinitasnya, malah sekarang mereka tengah berdiri tertib diantara peserta upacara.
"Senja? Itu liat! Arif gak telat lagi." Ujar Lia
"Ih Lia berisik! Kalau kita ketahuan pak Surya gimana?!" Bisik Senja tak menoleh sedikitpun
"Senja itu liat, ada kak Arkan!" Bohong Lia
Senja pun menengok ke arah barisan Kelas IPS. Namun bukan Arkan yang terlihat, melainkan Langit.
"Mana?" Ucap Senja sedikit berteriak
Depan, belakang, samping kiri dan kanan menoleh ke arah mereka berdua "SSSSTTTT!"
"Liaaaa." Bisik Senja ke Lia
"Ya maaf..." Kata Lia lalu menunduk dan tersenyum penuh kemenangan, karena ia bisa mengalihkan pandangan Senja ke arah kelas IPS.
Sebelum peserta dibubarkan, salah satu anggota wartawan mading mengumumkan sesuatu.
"Maaf, bagi yang terpilih sebagai wartawan mading, dimohon datang ke ruangan setelah ini. Terimakasih banyak." Ucap Irfan menggunakan Mic
Irfan, selain wakil ketua OSIS ia juga ketua dari eskul ini. Dari 40 orang yang mendaftar hanya terpilih 8 orang saja yang menurutnya memiliki kriteria yang cocok untuk eskul ini.
"Oke. Ini kelas XI ada 7 orang..."
"Dan kelas X hanya Senja Aprilia Farnanda." Lanjutnya
"Sebelumnya saya minta maaf, untuk pengumuman yang mendadak seperti ini."
"Langsung saja, untuk senin depan! Saya minta kalian untuk cari informasi menarik dari sekolah ini, baik dari siswa, guru, apapun itu dan tentunya itu harus hal baik." Jelasnya
Senja mengacungkan tangan. "Kak maaf! Hanya informasi? Atau dengan dokumentasi?"
"Dua-duanya. Jadi, buat yang terbaik. Karena mading kita cukup banyak yang melirik." Ucapnya, lalu menutup perjumpaan dan semua anggota diperbolehkan keluar
Saat melewati mading, Senja melirik sesuatu yang menarik. Ya, isinya adalah tentang esktrakulikuler Dance boy, yang artinya hanya untuk murid laki-laki.
"Jadi kak Arkan leader Dance di sekolah ini?" Gumamnya, membuatnya semakin mengagumi Arkan
****
Arif melirik ke arah mading, melihat pengumuman yang menarik minatnya. Ia pun mengambil kupon yang tertera disana dan membuang sebagian kupon ke tong sampah, agar yang mengikuti seleksi itu sedikit jumlahnya.
"Permisi bu." Ucap Arif, dia keluar untuk membasuh muka tadi
"Yasudah masuk." Kata bu Nurma
Arif memasuki kelas dan duduk di samping Langit, lalu memberikan kupon itu kepada Falah, Eri dan Langit. "Ambil! Kalian harus ikut pokoknya." Bisiknya kepada teman-temannya itu
"Widih, gue emang mau masuk eskul ini." Kata Falah
"Gue juga Lah, Arif terbaek." Kali ini Eri
"Lang? Gimana? Lo mau kan?" Tanya Arif kepada Langit
Langit tau siapa leader dari eskul tersebut. Arkan, orang yang sangat ia hindari. Tapi mau bagaimana lagi? Teman-temannya memaksa untuk ikut, ia tak bisa egois. Langit dan teman-temannya itu memang mahir dance, karena sejak SMP mereka pernah mengikuti eskul tersebut.
"Hm." Langit meraih kupon itu
"Jadi, pulang sekolah kita kumpul dilapangan." Kata Arif memberitahu
****
"Itu dia." Kata Senja yang langsung menemui orang itu
"Hai Kak..." Sapa Senja pada Arkan
"Eh, hai Senja. Duduk." Sembari menepuk kursi disebelahnya
Senja duduk disamping Arkan dan langsung memberikan sebuah lukisan yang masih terbungkus rapih dengan sampul coklat."Ini."
"Gue buat itu sebagai ungkapan terima kasih gue, karena lo udah benerin hp gue yang rusak, bahkan lo juga kasih gue hp baru. Semoga lo suka."
"Hm, pasti. Pasti gue suka." Kata Arkan terlihat sumringah "Makasih Senja."
Setelahnya banyak gadis tak terima, banyak fans Arkan yang langsung panas hati, ada juga yang mendukung kedekatan mereka.
"Kegatelan banget sih tuh cewek! Pake nyogok-nyogok Arkan segala."
"Mereka berdua cocok yaa."
"Ish Kak Arkan gue."
"BIT..."
Sontak kata terakhir itu membuat seseorang bangkit dan menggeprak meja kesal. Seantero kantin tertuju pada meja yang berisikan empat laki-laki. Yang memang di sebelahnya terdapat meja dengan gadis-gadis centil.
"Buset! Eh lo napa lang?" Tanya Arif kaget
Falah kaget dan langsung menjenggut rambut Eri dan memeluk kepalanya. "Iyaa, liat si Eri sampe pingsan nih."
"Eh.. ih jijik gue." Ucap Eri
Falah melepas jenggutannya "Ih pala lo! Duh maaf ri, otak lo bisa makin geser tuh." Falah bergidik ngeri melihat Eri dengan rambut berantakan oleh ulahnya sendiri
Langit tak peduli. Ia menatap gadis yang tadi mengata-ngata-i Senja dengan tajam, sampai orang lain pun tak tahu apa maksud tatapan itu. Ia pun memutuskan untuk pergi keluar kantin.
Menatap sekilas ke arah Senja, yang ternyata Senja pun tengah memperhatikannya.
****
"Senja? Eh lo tau gak Langit kenapa tadi?" Tanya Lia
Senja mengedikan bahunya, ia benar-benar tidak tahu dengan Langit yang tiba-tiba marah dan pergi.
"Apa mungkin dia cemburu liat lo sama kak Arkan tadi?" Ucap Lia mendekat kepada wajah Senja yang tengah menyantap bakso
Uhuk.. uhuk.. Uhuk
Spontan Lia memberikan minum "Eh minum-minum..."
Senja meneguknya dan langsung menegur Lia."Lo bilang apa tadi? Ya gak mungkinlah! Buat apa dia cemburu."
"Ya kali aja, secara lo sama dia itu pernah deket, lo juga bilang pernah di interogasi sama Langit. Kan?"
"Di interogasi doang Lia, bukan berarti deket!" Ucapnya gemas-gemas kesal
Lia bergidik ngeri, ia sangat takut pada temannya yang satu itu. Jika sudah marah, ia akan menjelma sebagai Singa betina.
"Tapi apa mungkin?" Batin Senja. Seketika ia menggeleng-gelengkan kepala, supaya pemikiran itu hilang