MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 26



Mereka berdiri disamping mobil mewahnya. Gadis yang berdiri di tengah seakan akan siap untuk menerkam. Ia pun segera menitah kedua temannya itu untuk berjalan menghampiri incarannya.


"Jadi lo dulu di panggil Sesey?" Tanya Lia tak berhenti tertawa


"Ih Lia, abisnya gue gak suka di panggil sen-sen. Itu lebih gak enak di denger." Katanya yang kini mulai merajuk lagi


"Ehem.. ehem.."


Senja dan Lia menatap gadis dihadapannya itu dalam-dalam. Ia menyodorkan tangan ke arah Lia. "Kenalin.. Gue Olivia Gracia, tunangan Arif De-wan-ta putra."


Spontan Lia bangkit "Tunangan?" Seketika dirinya lemas mendengar pengakuan dari Oliv


Gadis itu melipat kedua tangannya, dengan gagah ia berkata "Gue dan Arif terikat perjodohan. Jadi jangan ganggu hubungan gue sama dia."


Lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Lia "PELAKOR!"


"Eh tunggu, maksud lo apa manggil sahabat gue Pelakor?" Emosi Senja pun naik


Lia mengepalkan tangannya. Jiwanya mendidih, telinganya panas, dan hatinya hancur sekarang. "Gue gak ada urusan sama lo!" Ucap Oliv yang langsung mendorong tubuh Senja sehingga ia kembali terduduk


Teman-teman Oliv berusaha menahan Senja yang ingin menolong sahabatnya. "Eh udah lo diem!" Sambil mencengkram lengan dan menunjuk wajah Senja


Oliv kembali menatap Lia lekat-lekat "Lo perlu bukti? Gue bener-bener tunangan Arif!" Ia memperlihatkan cincin yang melingkar dijari manisnya, kelima jarinya sekarang berada tepat di depan wajah Lia.


Lia menangis, air matanya mengalir "Gue gak percaya! Arif pacar gue, dia milik gue!"


"Ck, lo perlu bukti lain? Oke-.."


Oliv kini memperlihatkan foto mesranya dengan Arif. Mata Lia membulat sempurna, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu menangis keras.


"Jadi! Mulai detik ini, Putusin Arif!" Titahnya lalu melenggang pergi bersama kedua temannya itu


Senja memeluk Lia yang menangis sesegukan. "Gue gak percaya Arif lakuin ini Sen. Gue kecewa sama Arif! Gue benci dia! Hiks.."


Senja tak mampu berkata apapun lagi dan hanya bisa memeluk sahabatnya itu. Arif menduakan Lia, Lia yang masih sangat polos.


****


Arkan dan Risa duduk di dalam toko kue ibunda Gina. Mereka nampak membicarakan hal yang benar-benar serius. Apalagi kalau bukan soal hubungan Arkan dan Senja?


"Kakak masih sayang kan sama kak Senja?"


Arkan meneguk salivanya "Hm, soal itu.." lalu menggaruk tengkuknya


Baru saja Arkan ingin menjawab pertanyaan Risa, Bunda Gina datang "Ini.. nak Arkan kopi susunya. Di minum." ujar bunda Gina


"Terima kasih tante,"


"Hm, jangan panggil tante, panggil bunda." Pintanya, karena ia tahu Arkan memiliki hubungan khusus dengan anak sulungnya


Arkan semakin malu-malu "Iya bunda."


"Senja biasanya kesini jam segini, mungkin sebentar lagi datang. Yaudah bunda tinggal dulu yaa?"


Arkan hanya mengangguk. Risa kembali ingat akan pertanyaan yang ia ajukan sebelum bunda Gina datang. "Kak! Jadi gimana? Masih sayang kan?"


"Ah, soal itu.. eum.. i.. iya.. masih."


"Terus kenapa kakak gantung hubungan kakak sama kak Senja? Apa karena.. cewek tadi ya?" Tanyanya sembari mencurigai Arkan


"Bukan,"


"Ya terus? Karena apa?"


"Eh Senja! Kamu darimana aja sayang?" Terdengar suara bunda Gina menyapa Senja yang baru saja datang


"Taman bun."


"Itu kak Senja datang!" Ucap Risa


"Itu Arkan, dia nunggu kamu dari tadi. Sana!"


"Hm, iya bun."


Senja pun menghampiri meja yang di huni kekasih dan adiknya itu. Ia menunduk setelah menatap Arkan sebentar, bahkan ia belum sempat melempar senyum dan sapa. Terlalu berat melupakan hari kemarin.


Risa bangkit dari duduknya "silahkan selesaikan masalah rumah tangga kalian." Lalu pergi ke arah pintu keluar


"Risaaa!" Kesal Senja, sangat pelan.


Senja mendudukan diri di kursi yang juga di duduki adiknya tadi. Ia masih tak bisa menatap Arkan. "Maaf," Ujar Arkan sembari memegang cangkir yang berdiri di meja


Senja pun beralih menatap Arkan "Bisa.. kita perbaiki semuanya?" Tanya Arkan


Kira-kira apa ya keputusan Senja? Putus atau come back? Baca terus ya!


****


"Lang! Udah lah jangan nyiksa diri lo kaya gini!" Teriak Arif yang berdiri di samping lapangan basket dekat rumah Langit


Eri! Anak itu, entah dengan kepolosannya atau dengan rasa solidaritasnya. Entah! Ia sedari tadi mengikuti Langit berlari, walau ia sudah sangat lelah. Nafasnya terdengar tak beraturan "Lang! Udahan yuk! Gak kasian lo sama gue?" Tanyanya


Sedangkan Falah, ia masih setia dengan ponselnya sambil terduduk dan bersandar pada tiang ring basket. "Ri! Mabar lah ayo!" Teriak Falah, meskipun ia tengah berkutat dengan ponsel yang di layarnya terdapat pertempuran.


"Ah udah ah Lang! Gue cape!"


Ya ampun Eri! Gak ada yang nyuruh buat ngikutin Langit wkwk.


Langit bahkan tak peduli pada Eri, ia hanya fokus untuk membuat dirinya lelah. Bukan tanpa alasan ia berlari seperti itu, Langit melakukan itu untuk menebus kesalahannya. Setiap kali ia melakukan kesalahan kepada papa tirinya, maka cara ini ia tempuh.


"Duh, ini Lia kenapa lagi? Kok gak bales chat gue ya?" Tanyanya yang lalu ikut gabung dengan Falah dan Eri


Lianiku❤


Sayang?


Hari ini, 20.17


"Selingkuh kali!" Sambar Falah


Kini Arif menyambar ponsel Falah "Enggak ada! Enak aja! Selingkuh sama siapa? Orang dia sayangnya sama gue."


Falah terlihat kesal, begitupun Eri. Tatapan keduanya seakan-akan siap untuk menelan Arif hidup-hidup. Arif mulai ketakutan, ia pun bersiap dan..


"Dasar playboy! Egois lu ya! Lo juga kan selingkuh!"


Bagai Tom and Jerry. Arif sebagai Jerry, sedangkan Falah dan Eri mereka sebagai Tom. "Ya tapi gue udah putus sama Oliv!" Teriak Arif


"Bodoamat! Kita jadi gagal push rank gara gara lo rif!" Hanya soal game Eri benar fokus


Setelah 2 putaran, kini gantian Falah dan Eri yang di kejar Jerry "Ri? Kenapa Arif yang ngejar kita?" Tanyanya


"Hah? Emangnya salah ya?"


"Iyalah! Dia kan udah buat kita gagal push rank!"


"Arif!" Teriak keduanya, Arif kembali di kejar oleh Falah dan Eri


Mereka bertiga seperti anak kecil, karena lelah dan larinya tak lagi cepat, akhirnya Arif menyerah. "Udah! Udah! Gue cape." Ujarnya yang lalu merangkul bahu Langit


Karena Langit benar benar menghentikan kegiatan berlarinya dan mulai lelah. Kini mereka berempat berjalan santai dan pergi ke markas untuk beristirahat.


"Huft--"


****