MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 3



"Kak Sey bangun! Bangun!" Ucap Risa Sambil mengguncangkan tubuh Senja yang kini tertutupi selimut


"Eum.. kamu mandi sana!" Kata Senja lemas


"Eh? Kak? Ini udah jam 6 lewat! Aku pergi duluan ya kak!" Kata Risa berlari keluar kamar Senja


"Hah?!" Senja langsung pergi ke kamar mandi dan mandi sealakadarnya


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bus datang dan membawa seluruh penumpangnya, termasuk Senja. Senja yang turun dihalte bus dekat sekolah, kemudian berlari menuju gerbang yang sudah ditutup.


"Pak! Pak! Buka!" Ucap Senja sambil mengguncang-guncangkan gerbang


"Yah, maaf neng!"


"Pak, saya mohon, tolong buka pintunyaa." Sambil memelas merekatkan kedua tangannya


"Maaf neng, tapi neng telat."


"Pak? Saya kan cuma telat..." melirik arlojinya


Ya, Senja telat lima belas menit. Itu artinya, ia benar-benar telat. Senja tak kehabisan cara, ia kemudian mencari cara agar bisa masuk bagaimanapun caranya. Ia pun menghubungi seseorang.


"Pak, tolong buka gerbangnya."


Mendengar kalimat itu, Senja pun menengok ke belakang dan tersenyum penuh kemenangan. Arkan, dia yang berhasil membuat satpam itu membuka gerbangnya.


Satpam itupun membuka gerbang. "Terima kasih pak." Ucap Arkan


Senja buru-buru masuk dan menjumpai Arkan. Lalu mereka pergi ke arah lapangan.


"Kak? Makasih banyak ya. Kalau gak ada lo, gue gak tau lagi harus gimana." Ucapnya sambil nyegir


"Iya sama-sama. Tapi maaf, gue harus merlakuin lo sama kaya yang lain. Karena gue takut disangka pilih kasih sebagai ketua osis." Ucap Arkan menggaruk tengkuknya yang tak gatal


Senja meringis "Iya kak, gak apa-apa."


Senja pun berkumpul bersama keempat cowok lainnya.


"Mereka kenapa sih? Seperti kecanduan telat."-Batin Senja


"Kami sudah peringatkan kepada kalian! Ini sudah kali keberapa? Apa kalian tidak jera diberi hukuman sebelum-sebelumnya?" Tanya Arkan, namun tak ada jawaban.


"Saya tanya kalian!" Bentak Arkan dengan menaikkan oktafnya


Senja tertegun. Ia kaget dengan Arkan yang sebegitu marahnya. Matanya berkaca-kaca, ia pun menunduk.


"Senja, lo kenapa?" Tanya Arkan sedikit berbisik


Senja hanya menggeleng. Ia tak berani menatap manik mata Arkan.


"Rizky! Lo urus mereka!" Kata Arkan


Arkan pun membawa Senja ke tepi lapangan, mendudukannya ke bangku.


"Senja? Tadi itu gue bukan marah ke lo, gue marah ke mereka." Ucap Arkan menenangkan, membuat senja sedikit melirik Arkan.


Senja masih tak ingin membalas setiap ucapan Arkan.


"Oke, kalau gitu gue minta maaf sama lo. Maaf kalo gue udah buat lo sedih."


Dahi Arkan menyerngit heran, ia tak tahu jika Senja sensitif terhadap bentakan. Tapi setelah tau, ia tak akan lagi membentak siapapun dihadapan Senja. Karena ia ingin membuat Senja nyaman berada didekatnya.


"Woy kak! Kok cewek itu gak dihukum?" Tanya Falah


"Heh! Lo urus aja urusan lo. Cepet lari lagi!" Kata Rizky


Rizky kemudian menghampiri Arkan dan Senja.


"Ar.. Adek kelas ini gak dihukum?"


"Eum.." ucap Arkan sambil melirik ke arah Senja


"Iya kak, hukum aja." Ucap Senja sambil tersenyum


"Oke. Lo lari 2 putaran aja." Kata Arkan


"Hm, oke." Senja pun meletakkan tas nya dan berlari ke arah lapangan


Senja berlari disamping Langit yang berlari santai dengan earphone yang bertengger. Dengan keringat yang bercucuran dari dahinya.


"Kalau dipikir-pikir, dia lumayan."-Batin senja


Langit tak menghiraukan orang yang saat ini disampingnya, ia terus berlari santai. Sampai akhirnya batu menyandung kaki Senja.


Brukkkk


"Aw." Senja terjatuh


Langit yang menyadari bahwa orang yang tengah berlari disampingnya kini tak terlihat, ia pun menengok ke belakang dan melepas earphonennya. Menjumpai Senja yang terjatuh.


Langit mengulurkan tangan.


Senja mendongak, ia tak menyangka, seorang kulkas bisa sangat peduli.


Senja menerima uluran tangan Langit.


Langit yang melihat luka ditangan dan kaki senja itupun dengan sigap memapahnya ke UKS dan mendudukannya ke salah satu brankar.


"Ma..ma..kasih." Ucap Senja gugup


"Hm."


Langit tak meneruskan untuk mengobati Senja, ia hanya mengantarnya ke UKS.


Setelahnya seseorang datang untuk menemui Senja lagi. Ya, dia Langit. Ternyata dia keluar untuk mengambil earphonennya yang jatuh dilantai depan UKS.


"Eh, kok lo balik lagi."


Langit hanya fokus mencari kotak P3K. Sebab pmr tak bertugas dikala jam pelajaran berlangsung. Maka dari itu, ia tak tega melihat Senja yang sedang terluka.


"Gue bisa sendiri kok."


Langit hanya menatap tajam manik mata senja yang teduh. Setelahnya Senja bungkam tak berkata. Langit menyentuh tangan Senja yang terluka. Dan itu membuat Senja berdegub kencang.


"Manusia es ini ternyata bisa baik banget."Batin Senja sembari memandangi wajah Langit yang hanya beberapa senti dari wajahnya


Arkan yang melihat mereka dari pintu pun mengepalkan tangan dan merasakan sesak di dadanya, entah apa yang ia rasakan, ia hanya tak suka jika Senja dipegang lelaki lain.