
Senja tak sadar, orang yang tengah dipeluk erat hanya dikenalnya sekedar nama. Tapi hatinya terlampau akrab, ia merasa sangat lekat dengan Langit.
"Hiks.. Ma.. ma.. kasih." Ucap Senja sembari melepas pelukannya
"Hm." Kata langit singkat
"Maaf, udah lancang meluk lo." Katanya sambil menghapus air matanya
Langit hanya menghela nafas kasar, ia pun menarik lengan Senja dan membawanya ke kelas.
"Mau kemana lo lang?" Teriak Arif
"Sebentar." Teriak Langit
Setelah sampai dikelas Senja, ia tak lupa mengucap terima kasih lagi. Dan kali ini Langit berbicara panjang.
"Makasih banyak lang." Ucap Senja
Langit mengangguk. "Jangan so jagoan mau lawan cewek itu. Lo gak bisa sendirian."
Senja terlonjak kaget "Hah? Eh gue gak nyangka, lo bisa juga ya bicara panjang."
"Gak boleh?" Tanyanya dingin
"Ya boleh-boleh aja sih."
Langit tak menyangka, baginya Senja sangat unik. Saat sedih, ia bungkam. Dan saat tenang, ia cerewet.
"Yaampun, Senja? Lo gak apa-apa kan?" Sambil mengecek, apakah ada bagian tubuh Senja yang terluka
"I.. iya gue gak apa-apa Lia."
"Beneran? Maaf, kalau misalnya gue diem aja tadi. Soalnya gue gak bisa lawan kak Oppi."
Senja merogoh saku dan tasnya, bahkan meraih kolong meja terdalam, namun benda itu masih tak ada.
"Lo nyari apaan sih?" Tanya Lia kebingungan
"Hp gue Li, kok gak ada yaa?"
"Gue inget! Tadi kayanya lo bawa ke kantin deh."
"Eh yaudah deh, gue cari dulu."
Kringggggggg
"Udah bel, gimana dong?"
"Gak apa-apa. Gue sendiri aja. Lo bilang ke Bu Ida kalau gue lagi ke toilet."
"Iya deh. Hati-hati lo."
Senja pun berlari ke arah kantin. Namun, benda itu masih tak ada, ia kelabakan mencari disetiap jalan yang ia lewati. Ia pun mencari ke toilet, dan akhirnya benda itu ada.
"Astagfirullah. Ini hp gue kenapa ada disini?" Sambil mengambil ponselnya yang basah
Ia mencoba menyalakan ponselnya, namun nihil tak ada tanda-tanda hidup. Ia pun murung dan hanya mampu memandangi ponselnya yang kini rusak.
"Senja? Ini kan udah masuk, lo kok masih diluar?" Tanya seseorang
"Eh iya kak, ini hp gue rusak." Katanya memperlihatkan ponselnya
"Pantes aja, gue hubungin lo tapi gak bisa."
"Oh ya? Hm, maaf kak, gue gak pegang hp gue tadi."
"Beneran?" Tanya Senja memperlihatkan wajahnya yang tidak lagi murung
"Iya, beneran. Sini hp lo."
Senja memberikan ponselnya. "Kalo udah bener, gue kasih ke lo."
"Makasih banyak ya kak."
Arkan hanya mengangguk dan tersenyum. Ia bahagia melihat Senja yang kini kembali tertawa.
Dari kejauhan Oppi melihat dan tangannya mengepal kesal "Awas aja lo! Gue bakal kasih lo pelajaran!"
Sepulang sekolah, ia berpisah dengan temannya Lia. Lia yang sudah dijemput Ayahnya menggunakan mobil.
"Dah." Ucap Lia melambaikan tangan
"Hm, Dah." Kata Senja melambaikan tangan
Saat mobil Lia keluar gerbang, tiba-tiba pundak Senja dirangkul oleh seseorang.
"Duh kasian nih cewek, gak ada yang jemput yaa." Ucap Oppi meledek
"Eh cewek songong, beli mobil makanya, jangan bisanya nawar omongan kita yang mahal."
"Kalian apaan-apaan sih? Lepas!" Senja pun menghempas tangan Oppi dari pundaknya
"Eh! Biasa aja dong!" Ucap Oppi sambil mendorong tubuh Senja sampai Jatuh
"Aw."
"Heh! Lo itu cuma cewek cupu yang punya gaya selangit tau gak?" Sembari menoyor kepala Senja
Senja yang tak terima itu pun bangkit dan menjenggut rambut Oppi. Namun antek-antek dari Oppi membantunya, hingga Senja terjatuh kembali.
"Eh lo gila ya? Lo berani banget sama gue?" Tanya Oppi menaikkan oktafnya
Hingga orang-orang beramai-ramai mendatangi mereka yang berada didepan gerbang.
"Iya! Gue berani! Gue bukan penakut kaya dulu! Emangnya lo siapa?" Sambil menatap tajam Oppi
"Lo tanya gue siapa? Gue anak kepala sekolah ini! Gue gak akan segan-segan buat lo keluar dari sekolah ini, ngerti?!"
Setelah mendengar pengakuan itu, Senja kaget bukan main. Karena ia tak ingin berdebat dengan Oppi lagi, ia pun berlari menuju halte. Ia menutup wajahnya rapat-rapat menggunakan tangannya.
Bukan suara bus yang datang, namun suara motor besar.
"Ehem."
Senja mendongak "Langit?"
Lagi-lagi Langit hanya mengulurkan tangan. Dan yang diulurkan hanya kebingungan.
"Gue anter." Kata Langit
"Eh gila, si Langit bisa ngomong." Ucap Lailla teman sekelas Langit
"Cowok ganteng itu ngapain sama si cengeng?."
"Cowok dingin vs cewek cengeng."
Bisikan itu membuat telinga Senja dan Langit memanas. Ia pun menyambar tangan langit dan buru-buru pergi untuk menghentikan ocehan netizen secara langsung ini.