
Jarum pendek jam itu menunjuk angka 2. Itu artinya semua murid di persilahkan pulang. Ada yang memilih untuk tetap tinggal disekolah, ada pula yang harus mengikuti ekstrakulikuler. Tapi sebagian besar siswa memilih berkumpul di lapangan.
"Arif bilang gue harus liat dia seleksi." Kata Lia semangat
"Eum.. cuma Arif? Temen-temennya?" Tanya Senja
"Duh nih ya Senja, bilang aja sih kalau lo tanya soal Langit, apa susahnya sih."
"Duh denger ya Lia, gue cuma nanya kali, tinggal jawab ih." Sembari mencubit pipi Lia
Lia meringis kesakitan "Ih, sakit tau. Mereka kan kemana-mana aja bareng, masa iya gak ikut." Sembari memegang pipinya yang sedikit merah
"Nah tinggal jawab gitu aja, kok susah."
Tak terasa, seleksi itupun dimulai. Sudah beberapa orang yang tampil, namun nampaknya Arkan, Rizky dan Irfan kurang tertarik. Sedangkan yang datang untuk ikut seleksi itu sedikit jumlahnya.
"Perasaan tuh kupon abis deh, tapi kok yang seleksi cuma seginian?" Tanya Irfan kebingungan, Arif pelakunya kak wkwk
Arkan berdehem. Ia juga tak tahu. Padahal ia sudah menyiapkan kupon dengan kuota 50 orang.
"Arif mana sih? Katanya mau ikut? Kok masih belum nongol tuh anak." Ucap Lia celingukan mencari Arif
"Dia bohong kali sama lo. Ah udah yuk pulang!"
"Please, tunggu bentaran ya." Lia memohon
Senja menghembuskan nafasnya dan memutar bola matanya. Menatap Lia yang memelas padanya.
"Hm, bentar tapi ya? Kalau mereka gak ada juga, gue bejek tuh si Arif." Ucap Senja Gemas
Lia menyegir kuda "Iyaiya."
Terdengar suara dentuman lagu ber energik. Membuat sesiapun yang mendengarnya semangat untuk dance. Terlihat empat orang berlarian ke tengah lapangan, membuat semuanya menganga melihat penampilan mereka.
(🎶BTS - FIRE🎶)
Meski rambut berantakan, seragam yang di keluarkan, tak dikancing dan celana sekolah berwarna biru. Tapi itu tak mengurangi ketampanan dan ke-kerenan mereka. Malah itu semakin membuat kaum hawa tak bisa menahan hasratnya.
Langit baris paling depan, hanya ia yang memakai jaket jeans, membuat kadar ketampanannya bertambah, belum lagi saat ia meliuk-liuk dan bergerak kaku mengikuti alunan musik itu.
"Huhhhhh!"
"Arif!!!!!" Ya, itu Lia
"Ya Allah, tolong hambamu ini."
"Yah, gue pingsan nih, pingsan."
Senja hanya mematung dan tak mengedipkan matanya melihat penampilan mereka. Sedangkan siswi yang lain berteriak histeris, ada juga yang ikut menari. Suasana saat itu sangatlah dramatis menurutnya.
"Ya Allah, cakapmu Li." Sambil menutup mulut Lia yang terus berteriak
"Ish, Jantung gue..." sambil memegang dada sebelah kiri
Senja bergidik melihat temannya itu"Ih lebay lo."
Dentuman itu pun berhenti, tertinggal mereka berempat dengan nafas ngos-ngosan.
Arkan bertepuk tangan dan menghampiri Langit "Keren.. keren.." sudut bibirnya terangkat satu
Langit menatap Arkan tajam. "Kalian di terima!" Teriak Arkan mengumumkan
Arkan kembali ke tempatnya "Jadi Arif, Falah, Eri dan... Langit. Kalian jadi bagian dari kita." Ucapnya berdiri ditengah Rizky dan Irfan. "STB!"
(SMA Tirta Bangsa) ya plesetan dari BTS, kebetulan wkwk😂
Arkan merekrut anggota baru, lantaran anggotanya yang lama di dominasi oleh kelas XII yang sudah tidak aktif mengikuti eskul.
****
"Yes, Arif jadi anggota STB deh." Ucap Lia senang
"Hm iya. Eh Li, gue mau ke toilet. Lo duluan aja." Lia mengangguk dan melambaikan tangan
Selesai dibasuh, ia pun menatap ke arah cermin. Seketika matanya terbelalak melihat dua gadis yang berdiri di belakangnya.
"Hai... cewek can-tik!" Ucap salah satu gadis
Senja terkekeh dan menoleh ke belakang "mau apa kalian?"
"Kita main-main dulu gimana?"
"Maaf, gue gak bisa. Gue harus pulang."
Oppi tersenyum jahat "Gak bisa. Gue mau main-main dulu sama lo."
Dihatinya, Senja sudah sangat ketakutan. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jangan pernah takut pada apapun!
"Iya, gue gak boleh takut. Dia cuma Oppi."-Batin Senja
Senja melangkah "Eh, mau kemana?" Oppi menahan Senja
"Keluarlah! Ngapain disini!" Ucap Senja enteng
Oppi mengelus pipi mulus Senja. "Jangan dulu. Gue mau kasih lo pelajaran." Lalu menamparnya keras.
Senja meringis kesakitan sambil memegang pipinya. Ia menampar balik Oppi, membuat suasana memanas, keduanya berkelahi, saling jambak. Senja kewalahan, Oppi dibantu Teny menghajar Senja. Sampai Senja terkapar dilantai kamar mandi.
"Lepas!" Perintah Oppi, menyuruh Senja membuka almamaternya
Senja yang dipaksa itupun melepas Almamaternya, Oppi melempar lalu membuangnya ke tong sampah toilet. "Nasib lo bakal sama kaya itu."
"Ten..." Teny yang dipanggil pun mengerti.
Ia keluar dengan seember air dan Oppi mengambilnya. Lalu...
Byuuuuuuur
"Ups, gak sengaja." Ucap Oppi melempar ember asal "Heh denger ya! Gue gak suka liat lo sama Arkan! Jadi mulai sekarang lo jauhin dia. Atau gue akan berbuat lebih dari ini."
Senja terdiam. Ia ketakutan. "Bye" Oppi dan Teny meninggalkan Senja yang diam saja.
****
"Tuh kan, gara-gara lagu yang gue saranin." Ucap Falah sombong
"Ye... sombong lo." Ucap Eri dan Arif berbarengan
Mereka selalu seperti ini. Bercanda dalam keadaan genting, tetap saling melengkapi, solidaritas mereka kuat, mereka sudah berteman sejak kelas VII.
"Yuk ah balik." Ajak Arif
"Yoo." Falah dan Eri menyahut, tapi langit?
"Duluan." Kata Langit
"Lo mau kemana?" Tanya Arif. "Kelas."
Langit melangkah ke kelasnya, untuk mengambil tas nya yang tertinggal. Ia tak sengaja mendengar percakapan Oppi dan Teny yang lewat.
"Gila lo pi, anak orang bisa sakit." Ucap Teny
Oppi tertawa "Bodoamat, lagian main-main sama gue "
Setelah dirasa Oppi dan Teny menjauh, ia pun mendekati toilet perempuan. Terdengar tangisan di dalam sana. Ia tak bisa diam, tapi jika ia masuk itu pelanggaran, lalu apa yang harus dilakukan?
Ya, Langit tak peduli. Ia masuk dan menemui gadis yang sedang ketakutan dan menangis.
"Senja?" Gumamnya.
****
Akhirnya Langit yang menemukan Senja. Yey!