MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 19



Malam yang dingin itu teratasi oleh kehangatan keluarga kecil Senja. Meski mereka hanya bertiga, namun tak ada yang lebih membahagiakan selain dikelilingi orang-orang tersayang. Bukan?


Setelah menyantap makan malam, mereka duduk dibangku sofa menghadap televisi, Risa sibuk membalas pesan-pesan yang masuk. Pesan grup kelas eak. Sedangkan Senja, ia sibuk memainkan kamera slr nya untuk dibawa besok.


Kamera pemberian almh. Neneknya itu sangat ia jaga, karena hanya itu satu-satunya kenangan yang ia punya dari neneknya.


Karena merasa terabaikan, bunda Gina akhirnya pergi ke kamarnya untuk melepas penat. Ia tersenyum melihat kedua gadis remajanya tumbuh dan bahagia, meski masa lalu mereka tidak menyenangkan.


"Yah ke pencet." Teriak Risa yang langsung menutup teleponnya sendiri


"Ih kaget tau! Ada apa sih?" Tanya Senja


"Ini kak. Aku gak sengaja nelpon kak Langit." Jawabnya sembari menggaruk kepalanya


Senja menghembuskan nafasnya kasar. "Kirain ada apa." Ucapnya santai lalu kembali fokus kepada kameranya


Risa tak sengaja menelpon Langit, karena awalnya ia hanya ingin melihat last seen dari cowok itu.


Ponsel Risa


Kak Langit Calling


Risa berteriak kegirangan. Dan itu membuat Senja kembali kaget. "Ya Allah. Dia nelpon aku nih kak. Aku harus apa?" Tanya Risa.


"Ih kuping kakak sakit tau gak? Ya angkat aja!"


Risa menyegir, lalu mengangkat telepon dari Langit. "Haa.. halo kak?."


"Hm, ada apa?"


"Eh.. eng, enggak. Ini tadi aku gak sengaja telepon kakak. Oiya kakak gimana? Udah baikan?"


Risa mengetahui Langit sakit, sebab tadi sore Langit mengantar Senja pulang dan ia bertamu sebentar sembari menunggu Arif datang menjemput.


"Baik."


"Alhamdulillah deh kalau gitu."


Sementara Risa keluar dan duduk diteras rumah, Senja memainkan ponselnya, berharap seseorang juga menelponnya. Siapa lagi kalau bukan Arkan? Hehe


Tringggg


Senja menganga tak percaya, pasalnya orang yang ia harapkan menyapanya lewat pesan. Ia tertawa keras, membuat orang yang sedang bertelepon ria menghentikan kegiatannya sebentar lalu melanjutkannya lagi.


Ponsel Senja


Kak Arkan


Hai


Hai kak


Setelah ini, mereka berempat sibuk dengan ponselnya hingga larut malam.


****


Senja berjalan santai menuju kelas, hari ini ia piket, maka dari itu ia harus datang ke sekolah pagi-pagi. Pemandangan sekolah pagi itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang terlihat, mungkin mereka juga sama halnya dengan Senja, datang pagi untuk melaksanakan piket.


Setelah menyapu, ia meraih dua tempat sampah yang berisikan sampah organik dan sampah non organik.


Ditengah perjalanan, sebagian sampah yang dibawa Senja berarakan jatuh ke lantai, ia pun segera membersihkannya lagi. "Aduh, kenapa bisa gini sih?"


Seseorang melewati Senja dan membicarakan Senja dibelakang "Sampah sama sampah!"


Senja menghela nafas mendengar itu, ia pun melanjutkan kegiatannya tadi. Tangan seseorang terulur untuk membantu, seketika hati Senja menyerupai dentuman dram.


"Eh kak.. kak.. Arkan." Ucap Senja gugup, Arkan hanya tersenyum. "Kak, gak usah, biar gue aja. Nanti tangan lo ko-." Lanjutnya


"Santai aja kali." Sambung Arkan bersama senyumnya


Setelah membersihkan sampah-sampah itu, Senja berjalan bersama Arkan menuju tempat pembuangan sampah terakhir disekolah. Mereka masing-masing membawa satu tempat sampah.


Arkan mengangguk, "Ayo." Arkan mengantar Senja ke kelas


Senja dan Arkan nampak bercanda bersama sepanjang jalan, mereka memang calon pasangan serasi, namun dibelakang itu semua, terdapat manusia-manusia patah hati.


"Sekali lagi makasih kak."


Arkan tersenyum dan melambaikan tangan kepada Senja. Senja yang melihat senyum Arkan itu langsung tenggelam ke lautan paling dalam dihatinya.


"Eum, pagi-pagi udah diapelin aja nih." Ucap Lia menyikut siku Senja


"Apaan sih Li." Senja malu-malu menanggapi ucapan Lia


Setelah piketnya selesai, ia pun mengerjakan tugasnya sebagai wartawan mading. Memegang kamera yang siap memotret setiap kejadian penting.


Terlihat objek menarik. Cekrek. Ia pun mengambil foto itu dan kembali ke kelasnya.


****


"Lang? Lo tau gak kemaren ada yang diem aja, kaya ayam lagi sakit." Ucap Falah


Terlihat raut kebingungan di wajah Eri, apa maksud ucapan Falah?


"Ayam lo sakit Lah?" Tanya Eri polos


"Eh yang gue maksud ayam itu lo ri! Lo!" Ucap Falah ngotot


Setelah itu terjadi keributan antara Eri dan Falah. Hingga Bu Nuva menghampiri dan menegur mereka yang sedang jambak-jambakan. "Kalian lagi ngapain?" Tanya Bu Nuva sembari berkacak pinggang


Falah dan Eri menoleh "Eh ibu cantik, ini bu lagi latihan drama." Kata Falah sembari mengelus-elus kepala Eri


"Ada ada aja kamu. Tema pelajaran ibu belum sampai drama!"


Semuanya tertawa keras, Langit dan Arif hanya menggeleng-gelengkan kepala. Benar-benar memalukan tingkah teman-temannya itu.


****


Waktu yang ditunggu pelajar pun datang, jam kala itu menunjukkan pukul 12, dan itu adalah waktu istirahat kedua. Senja dan Lia duduk berdampingan di pojokan kantin, Lia dengan semangkuk bakso, sedangkan Senja dengan bekal yang dibuatnya sendiri.


Seorang lelaki datang untuk memberikan paper bag kepada Senja. "Loh ini apa?" Tanya Senja


Namun anak itu pergi begitu saja. Dan itu membuat Lia kesal "Yeh ditanya malah nyelonong!"


"Udah Li. Gak apa-apa." Kata Senja menenangkan Lia


Senja pun mengambil sesuatu dari paper bag itu. "Loh ini kan almamater gue." Katanya sembari memegang almamaternya


Namun bukan hanya itu, paper bag itu juga berisi name tag bertuliskan Senja Aprillia Farnanda dan sepucuk surat.


"Ada suratnya juga? Coba buka!" Kata Lia


Senja pun membaca surat itu, Lia dibiarkan melihat. Mereka membaca surat itu dalam hati.


Datang ke rooftop sepulang sekolah,


Senja :)


Lia sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sampai almamater sahabatnya itu hilang.


Senja semakin takut, ia berkali kali menarik nafas untuk mengatur ritme jantungnya.


****


Kira-kira siapa ya?


Mungkinkah Oppi?


🤷🏻‍