
Senja dan Lia memutuskan untuk mengikuti eskul basket dan masuk Organisasi Siswa. Mereka merasa bahwa basket adalah olahraga terfavorit dan OSIS? Sudah pasti itu usulan Senja, karena Arkan telah mengajaknya mengikuti eskul itu.
"Eh iya, lo kan terpilih jadi wartawan mading? Gimana perasaan lo?" Tanya Lia pada Senja
"Ya gak gimana-gimana. Soal memotret kan gue emang jago dan untuk mengarang pun gue bisa." Sambil meminum segelas teh hangat. Karena cuaca sedang mendung-mendungnya.
"Hm, enak ya jadi lo. Udah punya otak lumayan, cantik pula."
"Cantik? Apa urusannya sama jadi wartawan mading?"
"Ih gue kan lagi muji lo, bukan tentang wartawan mading." Ucap Lia jengkel
"Ya, kan lo juga cantik, cantikan lo malah. Buktinya si Arif-Arif itu suka sama lo."
Setelah mendengar itu, Lia berdesir malu. Melihat itu, Senja hanya tersenyum. Kemudian seseorang datang menimbrung.
"Heh! Bisa out gak?" Tanya Oppi yang langsung duduk disebelah Senja
"Senja, udah aja yuk." Kata Lia takut
"Apaan sih? Gak usah Li. Kita kan belum selesai makan."
Oppi menggebrak meja dan bangkit dari duduknya, seisi kantin pun menengok ke arah mereka.
"Lo berani sama gue?!"
"Iya. Gue berani." Senja pun bangkit dan menatap Oppi tajam
"Senja.. udah." Lia mencoba melerai
"Ayo pi, lawan aja tuh anak songong." Ucap temannya, Teny
Langit dan teman-temannya pun ikut menonton kejadian itu.
"Gila tuh cewek, punya nyali juga lawan si Oppi." Kata Falah
"Eh! Kak Oppi!" Kata Eri membenarkan
"Suka-suka gue lah."
"Dia berani,itu artinya dia benar-benar bukan sesey."Batin Langit meyakinkan
Oppi menarik lengan Senja dan menghempaskannya ke lantai. Membuatnya terkapar dilantai. Tak sampai disitu, ia pun mengambil teh hangat milik Senja dan menumpahkannya ke wajah mulus Senja. Lia yang melihat itu hanya kaget dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Itu buat lo yang berani melawan gue." Kata Oppi sembari menaikkan satu sudut bibirnya
Senja hanya menatap tajam Oppi. Oppi yang ditatap tajam itupun tak terima dan langsung berjongkok dihadapan Senja.
"Eh! Apa? Lo masih berani sama gue?."
Senja yang sedari tadi menahan emosi itu pun langsung berlari ke arah toilet. Tak peduli pada pada seantero kantin yang menatap nya. Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan Arkan, namun tak ia hiraukan.
"Senja?" Panggil Arkan. Namun Senja hanya fokus untuk sampai ke toilet
Setelah membersihkan wajahnya, senja pun berjalan ke arah rooftop. Tak peduli dengan ocehan orang lain.
"Eh liat! Masih berani dia berkeliaran."
"Masih punya muka dia. Jelas-jelas dipermaluin sama Ratu bully tadi."
Senja tak habis pikir, seharusnya Oppi lah yang menjadi omongan, bukan korbannya.
****
Sementara itu, ponselnya tertinggal dikantin. Oppi yang melihat ponsel Senja itupun langsung kegirangan. Namun setelahnya ia malah kesal.
Kak Arkan Calling
Panggilan tak terjawab dari Kak Arkan (5)
Kak Arkan
Kenapa gak diangkat?
Lo kenapa?
Melihat itu, Oppi langsung mematikan ponsel Senja dan membawanya ke toilet untuk memudian direndam diwastafel.
"Lo target gue selanjutnya." Batin Oppi
****
Dirooftop, Senja menikmati angin yang berhembus. Dilihatnya mendung yang kian pekat, mengingatnya pada kejadian kelam. Dimana teman-temannya tak menyukainya, bahkan membullynya. Seketika ia menangis sesegukan memeluk erat lututnya. Langit dan teman-temannya sengaja datang ke rooftop.
"Dia pasti lagi ketakutan sekarang." Ucap Arif
"Ya itu akibat melawan Oppi."
"Ralat! Kak Oppi!" Eri lagi-lagi membenarkan
"BODO!" Ucap Falah dan Arif yang melayangkan jitakan kepada Eri
Langit yang melihat Senja menangis sesegukan itupun menghampirinya dan mengulurkan tangan. Senja mendongak, mengingat Elang yang juga pernah menolongnya dan langsung membawanya. Senja meraih tangan Langit dan langsung memeluk Langit erat. Ketiga orang yang melihat kejadian itu kaget dan menganga tak percaya.
"Walah anget tuh si Langit." Ucap Arif
"Pasti." Falah menyahut
"Gue juga pengen." Ucap Eri sambil berjalan pelan namun dicegah oleh Arif dan Falah
Langit membalas pelukan Senja yang menurutnya sedang menangis ketakutan.
"Lo sangat mengingatkan gue sama dia." Batin Langit
****